
Waktu adalah emas. Selagi ada waktu berusaha dan berdoa. Sesama penulis dan pembaca ayo gunakan waktu sebaik mungkin. Jangan sia-siakan waktumu dengan hal yang buruk ayo perbaiki diri.
Selamat membaca.
_ _ _
Rafa yang berada di sel tahanan begitu frustasi, ia begitu menghawatirkan keadaan Ira istrinya dari kemari ponselnya tidak aktif.
Paman Adi dan Bibi Nilam langsung pulang dari luar kota, dan menemui Rafa yang di tahan oleh pihak polisi.
"Raf, kenapa bisa seperti ini?" tanya Bibi Nilam dengan hawatir.
"Tidak apa-apa Bibi, sepertinya ada dalang di balik kejadian ini!" jawab Rafa dengan tenang.
"Siapa???" Bibi Nilam dan Paman Adi berucap bebarengan dan bertanya-tanya.
"Orang-orang suruhanku masih menyelidikinya Bi. Kemungkinan ada kaitannya dengan baji**** kecil!" jawab Rafa dengan senyum liciknya.
Paman dan Bibinya tahu jika Rafa sudah memiliki rencana-rencana yang handal di dalam otaknya. Apalagi di dalam persaingan dunia bisnis. Jika Rafa tidak memiliki otak yang cerdas dalam segala hal tidak mungkin bisa restoran megah berdiri di mana-mana bahkan di kota ini ada sekitar 4 restoran milik Rafa dan ada beberapa lagi di luar kota juga.
Aku akan mengikuti permainanmu baji**** kecil. Aku diam bukan berarti tidak bergerak. Dalam batin Rafa.
Paman Adi dan Bibi Nilam berpamitan untuk kembali keluar kota lagi setelah mendapat telpon darurat dari tempat peternakan burung.
Para penjaga polisi membebaskan Rafa tiba-tiba dan itu menjadi pertanyaan di hati Rafa.
"Maaf Pak polisi sebenarnya siapa yang membebaskanku?" tanya Rafa pada salah satu petugas polisi.
"Maaf saya tidak bisa memberi tahu anda Tuan, ini terlalu privasi untuknya. Dan orang yang membebaskan anda memberikan ini!" jawab polisi tersebut dengan menyodorkan sebuah aplop coklat besar.
Rafa menerimanya dan betapa terkejutnya ia saat melihat sebuah foto terpampang nyata. Ira istrinya di tahan di sebuah rumah dengan gaun pengantin yang cantik dan menawan.
Dan masih ada satu lagi sebuah rekaman suara, tetapi Rafa tidak membukanya di kantor polisi. Kemudian Rafa berpamitan pulang dan mencari taxi online.
Rumah utama Rafa.
Rafa mondar mandi dibalkon kamarnya dengan perasaan was-was dan cemas tidak menentu. Sesekali ia memikirkan cara untuk mencari keberadaan Ira melalui foto tersebut.
Aku yakin ini pasti perbuatan Rudi. Aku yakin. Gumam Rafa dalam hati.
__ADS_1
Dalam perasaan binggung Rafa memutar rekaman suara. DDEEEGGHHH..., jantungnya sakit sekali mendengar sesuatu yang tidak mungkin ingin ia dengar.
"Maafkan aku Raf, aku tidak bisa bersamamu lagi. Ayo kita akhiri ini semua." Suara Ira menggema berkali-kali di telinga Rafa.
Bagai badai dan petir menyambar dan menenggelamkan hati Rafa sekaligus. Wanita yang ia cintai berucap seperti itu.
"Aku tidak bisa kehilanganmu Atiya Bahira. Aku akan berusaha untuk membuatmu kembali kepadaku."Janji Rafa.
Rafa segera mengirimkan pesan kepada orang yang ia kenal termasuk Rais dan Meisie. Mereka berdua terkejut dengan penuturan Rafa dan sebuah foto. Bahkan Meisie juga yakin jika ini ulahnya.
Meisie tidak tinggal diam ia mencari keberadaannya dimana, ia mencari dibeberapa tempat yang sering ia kunjungi juga. Begitu juga Rais.
Rafa menelpon orang suruhannya, tapi nihil belum mendapatkan apa-apa.
Aldo Chand juga mendapatkan sebuah aplop coklat. Dan sebuah rekama suara. Betapa bahagianya seorang putri yang ingin ia peluk kini mau menemuinya.
Satu jam kemudian Ira berada di sel tahanan Papanya. Dengan senyum penuh kepura-puraan ia menyapa Papanya.
Aldo Chand bahagia sekali, baru kali ini ia langsung berhadapan dengan putrinya. Aldo memeluk dan mencium kening Ira. Air mata menetes di pelupuk mata Aldo.
Ira yang melihat air mata yang turun di pipi Aldo hanya diam.
Maafkan aku Tuan Aldo Chand. Aku memanfaatkanmu dalam misi berat ini. Aku butuh kamu untuk berpura-pura, seperti ini. Agar aku bisa mengalahkan rubah licik. Ira kembali tersenyum.
Mansion Aldo Chand.
Saat berada di depan mansion kediama Aldo. Ira hanya menyungginkan senyum palsunya. Tetapi Aldo menggangapnya serius. Para pelayan di rumah Aldo menyambutnya dengan ramah.
Aldo Chand mengenalkan Ira kepada para pelayan di rumahnya. Semua begitu tunduk dan patuh kepada Aldo Chand.
Kamar besar dengan nuansa white gold menghiasi setiap sudut ruangan. Elegant dan menarik di pandang mata tetapi tidak untuk Ira saat ini. Hatinya remuk sakit bercampur jadi satu. Demi misi yang tidak yakin akan berhasil membuat hati Ira gelisah dan terluka.
Tiba-tiba ada tepukan tangan di pundak Ira, sontak Ira terkejut dan langsung melihat ke arah sebelah kiri. Ternyata Aldo Chand yang menepuk pundaknya barusan.
"Ada apa Pah?" tanya Ira tersenyum.
Aldo Chand mendengar ucapan Ira barusan sangat terkejut dan bahagia. Beberapa kali Ira di hujani ciuman di pipi dan dahi Ira oleh Aldo Chand.
Sebenarnya Ira sangat risih dengan keadaan yang penuh kepura-puraan ini.
__ADS_1
Siallll. Misi pengorbanan yang merugikan. Dalam batin Ira. Ira segera menyunggingkan senyuman termanisnya.
Aldo segera meninggalkan Ira setelah selesai berbicara panjang lebar. Suara deringan ponsel Aldo Chand terdengar nyaring.
"Ada apa, bocah tengik?" tanya Aldo menanti maksud dari telpon tersebut.
"Ayolah jangan pura-pura bersedih, bukannya kamu harus bahagia di usia senjamu ini!" jawab Rudi seolah tahu jika ia dalam keadaan bahagia.
"Langsung saja jangan basa basi lagi. Ayo ajukan pertanyaan tidak pentingmu itu." Tegas Aldo Chand.
"AAA... HAAA... HAAA..., anda tahu betul Tuan jika aku hanya menginginkan danamu mengalir terus ke perusahaanku ini. Ayolah Tuan yang terhormat. Uang sedikit bukanya tidak ada apa-apanya dengan kebahagiaan anda saat ini Tuan?" Rudi masih mengharap dana dari Aldo Chand mengalir terus.
"Akan aku berikan asal kamu tidak mengusik kebahagiaanku dan putriku!" jawab Aldo tersenyum.
Rudi tersenyum penuh kemenangan kali ini. Ia merasa berhasil dalam misi pertamanya.
Ira yang tidak sengaja mendengar percakapan Aldo dan Rudi yang begitu terdengar keras di ruangan tersebut, apa lagi ponsel Aldo mrnggunakan pengeras suara, Ira hanya bertepuk tangan saja dari belakang.
"Papa..." sapa Ira dengan lembut ke Aldo Chand.
Aldo Chand tersenyum.
"Kemarilah Ira, ada sesuatu yang ingin Papa sampaikan ke kamu. Karena Papa sudah semakin tua, jadi Papa ingin kamu meneruskan usaha Papa nak. Apa kamu bersedia?" harap-harap Ira menyetujuinya.
Ira menggangguk tanda setuju.
"Aku setuju Pa dan aku akan belajar berbisnis!" jawab Ira dengan senyum.
"Ira, apa kamu sudah memberi tahu jika kamu ada di sini ke Rafa?" Aldo Chand menyodorkan ponsel keluaran terbaru ke Ira.
Ira menerimanya. Ponsel keluaran terbaru lengkap dengan kartu card. Ira segera memasangnya.
Suara telpin berdering dengan keras di kantong baju Rafa, Rafa segera mengangkatnya.
"Hallo," suara di balik telepon.
"Ira..., aku merindukanmu. Kamu di mana?" tanya Rafa.
"Aku aman di sini, tetapi maaf aku tidak bisa lama-lama menelponmu!" jawab Ira ingin sekali mengakhiri teleponnya.
__ADS_1
Rasanya tidak sanggup jika Rudi melakukan hal-hal yang mengamcam nyawa suaminya. Siapa tahu ada mata-mata di sekitar suaminya.
Bersambung.