
Rafa masih terisak-isak dengan tangisannya begitu juga dengan Ira. Karena lelah Ira tertidur di pelukan Rafa. Rafa membelai surai rambut Ira yang basah karena keringat saat ia menangis. Walaupun AC di nyalakan tidak dapat mendinginkan susana hati yang memanas karena terluka.
"Sabar sayang, mungkin Tuhan belum mengizinkan kita menimang seorang bayi. Tetapi yakinlah dan kita berdoa terus agar Tuhan memberi kepercayaannya kepada kita." Rafa menyeibakkan rambut Ira yang berantakan di wajahnya dan mencium dahi Ira dengan lembut dan lama.
Rafa segera merebahkan tubuh Ira di ranjang rumah sakit. Rafa segera duduk di sofa dan memberi kabar ke semua orang yang menurutnya dekat dan baik.
Yahh tentu saja semua orang segera pergi ke RS untuk melihat keadaan Ira saat ini. Banyak orang yang berlalu lalang karena rumah sakit ini tempat anak dan ibu dirawat. Rafa bergegas keluar karena ia tidak ingin menggangu Ira yang sedang istirahat setelah pembersihan kandungannya tadi pagi.
Rais dan Meisie yang datang lebih dulu langsung menghampiri Rafa yang sedang menunduk sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Raf...," Rais menepuk pundak Rafa. Rafa segera menatap siapa yang datang.
"Kamu, baru sampai?" Rafa masih memamcarkan aura terpukul untuk kedua kalinya karena kehilangan sang buah hati.
"Iya, sabar Rafa. Kamu harus kuat agar Ira merasa nyaman dan tidak terluka atas kejadian ini!" Rais duduk di samping Rafa. Begitu juga Meisie yang duduk di sebelah Rais.
Meisie tak banyak berbicara karena ia pernah di posisi Ira kehilangan bayinya namun bedanya Rafa dan Ira saling mencintai, sementara Meisie dan Rudi bertepuk sebelah tangan perasaan tulus Meisie.
"Apa Ira masih tidur?" Meisie bangkit dari duduknya, namun di cegah oleh tangan Rais. Rafa hanya menganggukan kepalanya saat Meisie bertanya.
"Biarkan dia istirahat dulu. Kasihan Ira!" Rais melepas tangannya.
Meisie segera duduk kembali. "Baiklah padahal aku juga ingin menghiburnya sebagai sesama wanita yang pernah kehilangan baby." Meisie tertunduk sedih jika mengingat babynya tiada.
PPUKK..., Rais menepuk pundak Meisie dengan cukup keras.
"Aduh sakit tau." Meisie memasang wajah juteknya.
"Kita ini sedang menjenguk orang bersedih bukan mengingat kenangan burukmu dulu," Rais menyindir keras Meisie. Meisie yang mendapat ucapan tajam Rais segera memalingkan wajahnya.
"Walaupun aku seperti ini aku tetap saja perempuan yang masih memiliki hati nurani." Meisie tidak mau terpuruk karena ucapan pedas Rais.
"Benarkah memiliki hati nurani. Tetapi kenapa setiap malam menyusahkanku?" Rais mengungkit saat malam hari Meisie pergi ke club malam.
"Aku tidak pernah meminta bantuanmu ya, bukannya kamu sendiri yang suka relawan membantuku?" Meisie melipat tangannya di dada bertanda ia marah.
__ADS_1
Rafa yang melihat perdebatan antara Rais dan Meisie langsung beranjak pergi dan mengambil roti yang ada di dalam kamar Ira dan segera membuka bungkusan tersebut untuk menyumpal mulut Rais dan Meisie. Rais dan Meisie seketika berhenti berdebat.
"Makan tuh roti isi, berisik sekali apa kalian berdua pikir ini tempat orang bersenang-senang?" Rafa menyodorkan 2 gelas minuman kemasan.
Rais dan Meisie mengangguk paham dan meminta maaf ke Rafa.
15 menit kemudian Mama Novi dan Aldo Chand datang hampir bersamaan. Namun Bibi Nilam dan Paman Adi belum datang mengingat jarak luar kota yang memakan waktu hampir 4 jam perjalanan jika jalanan lancar dan tidak macet.
"Bagaimana keadaan putriku?" Mama Novi langsung melihat Ira yang tertidur dari luar pintu kamar tempat Ira dirawat.
"Sudah lebih baik Ma!" jawab Rafa memberi salam untuk Novi dan Aldo Chand.
"Syukurlah Raf kalau begitu, ohh ya Raf..., bagaimana ini bisa terjadi. Apa Ira baru saja mengalami kejadian yang mengguncang perasaannya?" tanya Novi yang merasakan kesakitan Ira.
Semua orang yang berada di luar ruangan Ira di rawat mengeluarkan keringat dinginnya. Binggung harus menjawab apa. Dan sampai detik ini mereka merahasiakan jika Ira baru saja di culik oleh seseorang yang tak lain adalah Amir.
"Tidak Ma, Ira tidak mengalami stres berlebih Ma. Rafa terus menjaganya bahkan Rafa jarang sekali pergi ke restoran." Jawab Rafa dengan sedikit gugup.
"Raf...," suara lirih Ira terdengar memanggil. Semua orang yang ada di luar kamar Ira langsung masuk untuk melihat keadaan Ira.
"Iya sayang, ada apa?" Rafa segera duduk di samping Ira.
Mama Novi dan Aldo Chand mendekat ke ranjang Ira beristirahat.
"Nak bagaimana keadaanmu saat ini?" Aldo Chand mengupaskan satu buah appel.
"Baik Pa!" Ira tersenyum saat Aldo Chand memberikan satu potongan appel. Aldo Chand tersenyum lega melihat senyuman di bibir Ira putrinya.
Kamu pasti sangat terluka sekali Nak, apalagi setelah Papa tau jika kamu kehilangan untuk yang kedua kalinya. Papa akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu dan dengan kehilangan anak keduamu ini Papa doakan agar mendapatkan pengganti yang lebih baik lagi. Batin Aldo Chand ia tetap mengeluarkan senyumnya untuk menutupi kesedihannya.
Novi tersenyum melihat interaksi baik antara anak dan Papanya ini. Terpancar senyum di wajah Novi. Setelah membesuk Ira yang ada di rumah sakit mereka berempat berpamitan ke Ira dan juga Rafa karena sama-sama sibuk di urusan masing-masing membuat mereka terpaksa harus kembali. Padahal mereka semua ingin berlama-lama untuk menemani Ira dan menguatkan Ira.
Setelah kepulangan kedua orangtua Ira serta Rais dan Meisie. Rafa memberikan pelukan hangat untuk Ira.
"Apa kamu mengantuk Ira?" Rafa menatap wajah sembab Ira. Ira menggelengkan kepalanya bertanda ia masih terjaga dan belum ada tanda-tanda mengantuk.
__ADS_1
"Rafa jika kamu mengantuk istirahatlah aku sudah tidak kenapa-kenapa!" Ira menyentuh pipi Rafa. "Kamu terlihat sangat lelah Raf. Tidurlah disini." Ira menawarkan tidur di sebelah ia berbaring.
Namun dengan sigap Rafa membaringkan tubuhnya di samping Ira. Karena renjang yang digunakan Ira berukuran besar bahkan muat untuk 3 orang jika memiringkan tubuhnya.
"Aku tidur sebentar, yaa. Kamu harus istirahat juga sayang. Ayo tidur sebentar di sampingku." Dengan hati-hati Ira membaringkan tubuhnya karena ada selang infus di tangan kanannya.
10 menit telah berlalu.
Rafa yang terkejut saat menyentuh di sebelah ia tidur tidak ada orang disebelahnya. Suara air di dalam kamar mandi terdengar. Rafa segera beranjak dari ranjang tempat ia berbaring.
TTOOKK... TTOOKK...
"Sayang apa kamu di dalam?" Rafa mengetuk kembali pintu tersebut.
"Iya Raf. Perutku sakit!" jawab Ira yang tengah duduk di dalam kamar mandi.
"Oke baiklah. Nanti jika perlu apa-apa panggil aku, aku ada di luar pintu." Rafa segera duduk di kursi kecil sebelah pintu.
"Iya sayanggg...," Ira tersenyum-senyum sendiri di dalam toilet.
10 menit kemudian.
"Sayang apa kamu tertidur?" Rafa yang menunggu mengetuk pintu berkali-kali.
Ira yang tertidur di toilet terkejut dan langsung membuka matanya dan menyelesaikan kesibukannya di dalam kamar mandi.
"Sebentar Raf!" Ira segera membuka pintu kamar mandi.
"Kamu tertidur ya sayang?" Rafa menatap wajah ngantuk Ira.
"EEE... HHEE... HHEE..., iya sayang tertidur lagi!" Ira mengosok-gosok rambutnya yang bersa gatal tiba-tiba karena malu atas kejadian barusan.
"Ayo aku bantu rebahan di ranjang." Rafa membantu Ira berjalan. "Hati-hati sayang." Rafa berhati-hati menuntun Ira.
"Terimkasih Rafa sayangku, eemuuahh..." Ira mencium pipi Rafa dengan kuat.
__ADS_1
"Jangan menggodaku sayang, kamu belum sembuh itunya," Rafa menujuk sesuatu.
"Mesum... siapa yang menggoda aku hanya mengucapkan terimakasih untuk suami bucinku." Ira segera memalingkan wajahnya.