
Meisie berjalan mendekati Rudi. Rudi yang melihat Meisie mendekat langsung menyodorkan satu glas wine ke Meisie. Meisie tentu saja langsung menerimanya. Seperti minum air putih saja Meisie, mungkin karena hidupnya perih sejak SMA dulu hingga membuatnya terjerumus ke dalam club seperti ini.
"Apa aku boleh berbicara sesuatu ke kamu Rud?" tanya Meisie mengoyang-goyangkan gelas wine.
"Apa, tapi nanti setelah aku menjawab aku minta imbalan!" jawab Rudi yang sudah mabuk sambil menunjuk diri Meisie.
Meisie berpikir sebentar. "Baiklah, tapi jawab dulu pertanyaanku. Ayo keluar dari sini," Meisie mengambil credit card milik Rudi untuk membayar total yang di habiskan di club tersebut.
Saat ini Meisie dan Rudi ada di dalam mobil. Meisie berusaha memancing pertanyaan ke Rudi. Rudi hanya menjawab eemm saja saat di tanyaai banyak pertanyaan oleh Meisie.
"Rud, jawab aku apa maksudmu mau memisahkan Rafa dan Ira, apa salah mereka. Jawab aku?" Meisie sudah merekam suara Rudi dengannya.
"Apa kamu masih belum mengerti, aku ingin memiliki harta Aldo Chand dan memiliki Ira. Dia begitu cantik dan cerdas, aku menyukainya!" jawab Rudi masih menyenderkan kepalanya di jok mobil. Meisie tersenyum kecut saat Rudi mengungkapkan hatinya.
"Aku ingin jawaban yang lain, bukan itu. Ayo jawablah? apa kamu merencanakain ini dengan mengancam Ira?" Meisie membuka beberapa kancing baju Rudi.
"Tentu saja aku mengancamnya dengan surat perjanjian yang di tanda tangani Ira sendiri sewaktu aku culik waktu itu, dan aku juga berencana untuk membunuh Rafa jika Ira tidak mau merebut harta Aldo Chand dengan tangannya sendiri. Maka dari itu ia setuju dengan mudahnya. Mungkin juga keberuntunganku Aldo Chand malah mengajakku berkerja sama memisahkan Rafa dengan Ira, karena dendam masalalu Aldo Chand kepada orangtua Rafa. Aku sudah menjawab pertanyaanmu ayo ke hotel!" Rudi memejamkan matanya.
Sementara Meisie menghela nafas panjangnya, untuk kali ini ia rela tetapi tidak untuk lain waktu. Jika dia tidak menuruti ke inginan Rudi saat ini pasti kehidupan mewahnya akan terancam lagi. Setelah masuk ke dalam kamar hotel Rudi dan Meisie melakukan hubungan layaknya suami istri, dan malam yang panjang terjadi untuk Rudi dan Meisie.
Pagi hari.
Ira yang baru bangun dari tidurnya langsung melonggarkan otot-otot tubuhnya yang sakit. Pagi ini tidak ada suara notifikasi sama sekali dari SUAMI BUCINnya, Ira hawatir dengan Rafa yang biasanya lebih berisik dari toa masjid sekarang diam seribu bahasa.
"Dimana sih bucinku, apa dia baik-baik saja saat ini?" tanda tanya bermunculan di pikiran Ira. Ira segera menekan nomor ponsel Rafa, tetapi sedari tadi telponnya tidak aktif.
TRINGG..., Ira mendapat pesan ancaman yang mengancam nyawa Rafa, karena saat ini Rafa menjadi tawanan di sebuah tempat yang tidak dapat di curigai.
Ira mondar mandir seperti setrikaan. Sambil menggigit jari telunjuknya, Ira berpikir sangat keras siapakah gerangan yang berada di balik permainan saat ini.
TTRRIINGG..., Ira mendapat pesan dari nomor (08xxxx) untuk yang kedua kalinya.
__ADS_1
Pasti ini ulah Aldo Chand kalau tidak pasti ulah Rudi. Tapi bagaimana caraku untuk mencari tahu, sedangkan aku sekarang bermain pura-pura polos tidak mengetahui apa-apa jika mereka berkerja sama. Masa bodo lebih baik aku menemui Aldo Chand mumpung ini masih pagi sekali.
Ira segera menuju kamar Aldo Chand, para pelayan menghantarkan Ira sampai ke kamar pribadi Aldo Chand. Aldo Chand tersenyum dengan kedatangan putri tercintanya.
"Aku mau bicara serius, apa anda yang menculik suamiku, aku mendapatkan pesan dari nomor (08xxxx) apakah ini nomor pribadi atau nomor bawahanmu?" Ira menunjukkan sebuah pesan singkat.
Aldo Chand mengepalkan tangannya.
"Papa tidak melakukannya, walaupun Papa ada rasa benci sedikit ke Rafa!" jawab jujur Aldo Chand.
Apakah Rudi melakukannya, kenapa ia melakukan hal kegabah seperti ini dan mengapa tidak memberiku kabar apa-apa???
Aldo Chand berpikir keras di mana Rudi menyembunyikan Rafa.
"Anda tidak usah berbohong, saya tau jika anda masih memiliki dendam dengan orangtua suamiku, tapi asal anda tau Tuan. Rafa tidak bersalah dari kejadian ini." Ira bergegas pergi dari kamar Aldo Chand.
Setelah kepergian Ira dari kamarnya ia segera menelpon Rudi, Rudi yang masih berada di hotel dengan Meisie segera mencari ponselnya yang berdering berkali-kali. Rudi segera duduk di ranjang setelah menemukan ponselnya.
"Apa kamu yang menculik Rafa, Rud?" Aldo menanti jawaban Rudi.
"Tidak!" Rudi memang bicara apa adanya. Lagian semalam ia dengan Meisie menghabiskan malam panjangnya.
"Aku tidak percaya, bukannya kamu mengancam Ira dengan ingin membunuh Rafa waktu itu?" Aldo memancing agar Rudi mau bicara jujur. Tetapi tetap saja Rudi bicara jika ia tidak tahu keberadaan Rafa. Aldo yang merasa di manfaatkan Rudi langsung menyuruh bawahannya untuk mencari Rudi di hotel.
Restoran Pelangi.
Rudi dan Aldo bertemu di restoran tersebut, saat di cari Rudi tengah di hotel dengan wanita, para bawahan Aldo Chand membawanya dengan paksa.
"Cihhh..., segitunya mencariku, bukannya aku berucap jujur bahkan aku berada di dalam hotel dengannya." Rudi meminum cappucino.
"Apa kamu yang merencanakan ini semua kenapa kamu bertindak kegabah?" Aldo merasa di permainkan langsung mengintrogasi Rudi dengan sedetail-detailnya. Rudi hanya tertawa segitu hawatir jika putrinya akan tambah membencinya.
__ADS_1
Sementara di tempat lain lebih tepatnya villa di tepi pantai. Rafa dan Rais sedang menikmati pemandangan dari villa tersebut.
"Kenapa kamu mau membantuku Rais, jangan bilang kamu masih ada rasa dengan Ira?" sindir Rafa menikmati yang sedang menikmat teh hangat paginya.
"Semanis-manisnya mulutku, aku tidak selicik dirimu Rafa!" Rais membalik ucapan Rafa.
"AA... HAA... HAA..., sok tau kamu, aku tidak pernah selicik itu. Aku cuma membalikkan permainannya saja." Rafa mengetik beberapa pesan ke orang bawahannya. Tentunya dengan nomor barunya.
Rais hanya tertawa renyah dengan ucapan barusan Rafa.
"Orang licik memang tiada tanding. Terus bagaimana dengan Ira yang masih tertahan di sana?" Rais menatap langit yang mulai panas.
"Aku akan memberi taunya nanti!" dengan senyum licik.
"Terserah kamu," Rais berjalan menjauhi dari Rafa.
"Dan kamu akan menjadi saksi perbuatanku ini." Teriaknya ke Rais.
"Aku sudah tau, jika aku akan menjadi korban permainan recehmu ini. Dan satu lagi carikan aku gadis untuk mejadi kekasih bayaranku," Rais melambaikan tangannya.
"Kenapa aku, kamu cari saja sendiri untuk pendampingmu, atau si ulet keket saja untuk menjadi pendampingmu, jangan buat mainan." Rafa mengingatkan Rais.
"Kalau aku sudah dapat wanita seperti Ira baru aku tidak meminta imbalan ke kamu." Raus kembali duduk di samping Rafa karena pembicaraan Rafa tidak selesai-selesai.
"Aku tidak punya kenalan, atau kamu mau yang janda. Ira mungkin saja punya atau itu pegawaimu yang namanya Mahnoor?" Rafa menggoda Rais.
"Aku tidak bisa dengannya belum ada kemistri dengannya, ia terlalu tomboy!" Rais mengambil camilan kacang.
"Bukannya istriku dulu juga tomboy seperti Mahnoor bahkan ia juga pemberani?" Rafa masih memojokkan perasaan Rais saja.
"Tau ah..., bicara dengan bucin sepertimu tiada akhir!" Rais bergegas pergi dari mahluk bucin ini.
__ADS_1
Bersambung.