
Rafa berusaha meminta maaf ke Ira, tetapi Ira tetap mengacuhkannya.
Rasain tuhhh, makanya jadi suami peka sedikit kenapa. Kalu istri tidak membahas diam seribu bahasa dasar Rafa. Gumamnya dalam hati.
_ _ _
Rais yang masih menatap langit langit kamarnya, meratapi kegalauan hatinya. Sejak Ira mengundurkan diri ia sudah tak memiliki semangat lagi.
_ _ _
Meisie yang hari ini berkunjung ke restoran Rafa kebinggungan.
"Apa Rafanya ada?" Meisie bertanya ke salah satu waiter.
"Maaf tuan tidak ada!" ucapnya tersenyum.
"Okee! terimakasih!" pergi meninggalkan restoran Rafa.
Meisie mengirim beberapa pesan ke Rafa.
Karena dengan Rafa tidak di balas, ia memberanikan diri menelponnya. Suara deringan telpon membuyarkan suasana di apartemen Rafa.
"Dari siapa?" tanya Ira dari sebrang duduknya.
"Tidak penting!" jawabnya singkat dan menolak panggilan tersebut.
"Oohhh ya Ira tidak usah membawa kebutuhan kemah, kita tidak menginap dan satu lagi tidak usah membawa makanan kita beli di sana saja!" turun dari ranjang tidur.
Rafa bergegas masuk ke kamar mandi. Ira yang mendengar deringan ponsel Rafa mendekatinya. Ira menatap sekilas ada tulisan nama orang yang menelpon.
"Benar dugaanku, selama ini pasti Rafa berhubungan dekat!" memeriksa ponsel Rafa.
Ponsel Rafa yang tidak menggunakan password dengan mudah Ira selidiki. Ira menekan apl dan membaca beberapa pesan dari Meisie, ada pesan yang lama masih tersimpan saat awal Rafa dan Ira menikah.
Kenapa Rafa menyimpan percakapannya dengan Meisie, apa aku hanya pelariannya saat ini. Bahkan aku tidak pernah di ajak berbicara panjang lebar seperti ini. Aku rasa memang aku benar jadi pelarian. Dan bukannya ini foto waktu Rafa di pantai. Sebegitu dekatnya kamu Rafa dengannya. Aku sebagai istrimu belum pernah kamu ajak pergi. Buat apa kamu hawatir denganku waktu itu, tapi nyatanya kamu bahagia saat itu. Keluhnya dalam hati.
Ira bergegas mengembalikan ponsel Rafa di tempatnya. Ira menghibur hatinya sendiri.
"Apa aku akan menelan pil pahit di pernikahanku?" memasukkan kotak obat ke dalam tasnya.
"Sudahlah jika memang takdirku seperti ini mau bagaimana lagi!" sambung ucapan Ira.
Setelah selesai berkemas ia menunggu Rafa yang masih di kamar mandi. Tetapi Rafa tidak kunjung keluar membuat Ira hawatir. Suara ketukan pintu terdengar nyaring.
Toookkk... tookk... tookk....
"Raf... apa kamu baik baik saja?" tanya Ira.
"Iya, aku baik baik saja. Tunggunlah di bawah, aku segera keluar dari kamar mandi!" mengenakan jubah handuknya.
"Baik, aku tunggu ya!" pergi menuruni anak tangga.
Rafa dan Ira menuju ke daerah yang tidak terkenal berbahaya di negara ini. Cuaca yang dingin saat ini, begitu menusuk urat urat tubuh kedua insan yang pergi berkencan ini.
"Apa kita jadi mendaki Rafa?" melihat banyak orang yang juga mendaki.
"Kenapa? apa kamu kedinginan Ira?" memegang tangan Ira.
__ADS_1
Terlihat kecil di dalam genggaman Rafa. Telapak tangan Ira yang terasa hangat di genggam Rafa terukir senyum di wajah Ira.
Aku berharap ini selalu jadi kenyataan, tetapi jika ini mimpi aku tidak ingin bangun. Biarlah tetap aku bermimpi seperti ini. Ucapnya dalam hati.
Rafa terus menggengam dan mengajaknya naik ke atas. Rafa memakai tas punggung yang Ira siapkan di rumah tadi. Rafa juga memberitahu Ira tidak membawa peralatan kemah sebab tidak akan menginap, selain itu tempat ini juga area wisata yang banyak di kunjungi orang orang dan banyak pedagang kecil juga.
Saat mendaki Rafa dan Ira mengabadikan perjalanannya dan mengambil beberapa foto.
Ira tampak cantik berfoto ria di dekat pohon yang juga di tumbuhi beberapa pohon anggrek. Suara burung menghiasi pendengaran, begitu terdengar merdu saat bersahutan.
"IRAAA... senyum!" ucap Rafa, mengarahkan kameranya.
Ckreeeek... suara kamera yang Rafa kenakan.
Rafa tersenyum memandang hasil fotonya, dan ia memfoto Ira yang sedang bermain dengan beberapa hewan yang melintas. Tentunya jinak hewan tersebut. Ada burung yang tiba-tiba melintas saat Rafa mengarahkan kameranya.
Cekreeek... tepat dengan Ira tersenyum.
"Raf... jangan ambil gambarku terus tetusan, pasti jelek!" protesnya ke Rafa.
"Bagus ko!" mengecek hasil jepertannya.
"Mana, coba aku lihat." Sambil memegang kamera.
"Iya... bagus nih, coba ganti aku yang ambil fotomu!" mengarahkan kamera ke wajah Rafa.
Ckreekkk...
"Eehhh Ira ko kamu ambil fotoku gak bilang bilang?" saat berada di samping Ira dan mencubit pipinya.
Ira asik dengan kegitaanya saat ini, sampa lupa jika waktu hampir sore.
"Ira ayo pulang, hampir gelap ini!" sambil mendekati Ira.
"Saking asiknya ambil gambar, lupa kalau hari sudah petang. Ayo kalau begitu, kita cari makan ya Raf?" meletakkan kamera di tas kecil.
"Kita makan ikan bakar ya Ira?" menuju ke tempat warung kecil yang menyediakan ikan bakar.
"Pak pesan ikannya satu nasinya dua, sama es kelapanya dua tanpa gula ya Pak!" ucap Rafa, bergegas pergi duduk di salah satu kursi yang kosong.
Ira mengikuti Rafa dari belakang. Ikan yang di pesan telah datang begitu juga dengan es kelapanya. Setelah makanan habis. Rafa dan Ira bergegas pulang. Saat berada di mobil hanya ada keheningan di keduanya.
"Ira...!" melirik sepion kaca.
"Eemmm...." Melihat ke luar cendela.
Pikiran Ira melayang kemana mana.
"Ada apa sih?" Rafa tetap fokus menyetir.
"Gak ada apa apa Raf, sudah malam. Kita mau kemana?" melihat Rafa mengendarai mobilnya tidak menuju apartemennya.
"Kita ke rumah utama dan menginap di sana!"
Memasuki area rumah mewah Rafa.
"Ini rumah siapa Raf?" melihat sekeliling rumah yang di penuhi lampu taman.
__ADS_1
"Ini rumah orangtuaku, tetapi Bibi dan Paman yang menempati!" menarik tangan Ira dan mengajaknya masuk rumah.
Bibi dan Pamannya yang berada di dalam rumah. Segera menyambut kedatangannya.
"IRAAA...!" teriak Bibi Nilam.
"Apa kabar sayang?" sambil cipika cipiki. Dan memeluk Ira.
"Baik Bibi!" jawab Ira dengan membalas pelukan Bibi Nilam.
"Bagaimana kabar Bibi dan Paman?" menyalami Paman Adi.
"Kami baik, maaf ya Paman tidak pernah berkunjung ke apartemenmu!" ucap Paman Adi.
"Tidak apa apa Paman!" jawabnya sambil tersenyum.
Rafa duduk di kursi kayu dekat cendela. Melihat pemandangan yang bahagia ini, ia terdiam dan berperang dengan pikirannya.
Seharusnya dari dulu aku mengajak Ira ke rumah ini, selain itu Ira juga tidak kesepian. Apalagi sekarang ia tidak berkerja. Dalam batin Rafa.
Ira menyapa Rafa yang sedang melamun.
"Doorr..., melamun saja mikirin apa Raf?" Ira bertanya sambil duduk di samping Rafa.
"Kamu membuatku terkejut Ira, aku tidak memikirkan apa apa!" Rafa menutupi kesalahannya.
"Apa kita menginap disini Raf?" sambil memilin bunga plastik di meja.
"Iya, kamu maukan?" dengan tersenyum.
"Iya!" tidak sabar ingin tahu seperti apa kamar Rafa di rumah ini.
"Ayo ke kamar kalau begitu!" berdiri menuju lantai atas.
Ira mengikuti dari belakang. Sesampainya di kamar Ira kebinggungan akan tidur di mana.
"Eeemmmm Raf, aku tidur di mana?" sambil duduk di sofa panjang.
"Kita tidur satu ranjang di sini. Apa tidak mau istriku?" sambil tersenyum genit.
"Tidak mau, aku malu!" jawabnya dengan muka memerah.
"Baiklah kalau begitu, kamu pilih saja di sofa atau ranjang?" menatap Ira yang masih menahan malu.
"Aku di sini saja!" segera mengambil selimut dan bantal.
"Apa kamu yakin?" sambil merebahkan dan bermanja manja di ranjangnya.
Ira hanya begidik ngeri, takut di apa apakan Rafa.
"Ihhhh...," segera mebalikkan posisinya dan menutup semua tubuhnya.
Rafa mendekati Ira dan langsung mengendongnya ke atas ranjang. Ira terkejut dan.
"RAFAAA... apa yang kamu lakukan lepas!" ucapnya berteriak.
Rafa semakin mendekat dan.
__ADS_1