
Setelah keluar dari kamar mandi ia malu menatap Ira yang masih menahan tawanya. Ira melihat Rafa keluar dari kamar mandi, ia segera mengambil sesuatu dan menuju kamar mandi. Rafa bergegas menyalakan tv untuk menghibur suasana hatinya.
"Gagal deh, padahal tadi pas momentnya. Selain itu, ia sudah bersedia memberikan hakku yang ada di dirinya. Tapi mungkin belum waktunya." Batin Rafa bersedih.
Ira tersenyum kemudian mendekati Rafa. "Maaf ya, aku tidak tahu jika hari ini datang bulan!" merangkul lengan Rafa.
Rafa yang di rangkul Ira. Jantungnya bersenam deg deg deg dua kali lebih cepat. Ira yang menyenderkan kepalanya di lengan Rafa, mendengar detak jantung Rafa yang keras.
"Raf kamu kenapa, mengapa detak jantungmu terdengar keras sekali. Apa karena aku di sampingmu?" tanya Ira menggoda.
Rafa langsung salah tingkah dan wajahnya memerah. "Tidak aku... aku..." jawab Rafa gerogi.
Ira mendekatkan tubuhnya ke Rafa, yang saat ini Rafa menggeserkan tubuhnya ke samping.
"Ira kamu mau ngapain?" Rafa menggeser tubuhnya.
"Bukannya tadi kamu menginginkannya? berbalik menanyai Rafa.
Rafa yang tidak tahan dengan sikap Ira segera mendorong Ira di sofa. Rafa mencium bibir Ira dengan rakusnya. Ira memukul-mukul dada Rafa. Rafa bergegas berdiri dan duduk kembali.
"Pasti bengkak ini." Getutu Ira memegang bibirnya.
"Awas saja, nanti saat datang bulanmu selesai kamu akan aku habisi di situ!" ucap Rafa menunjukkan tempat tidur.
Ira hanya menatap Rafa ketakutan. Rafa yang berhasil membuat Ira ketakutan tersenyum.
"Ayo sini." Rafa menepuk tempat duduk di sebelahnya. Ira segera mendekat dan duduk. Mereka berdua saling berpelukan.
_ _ _
Rais masih termenung, hanya ke galauan yang ia rasakan. Sementara perasaannya masih tersangkut ke Ira. Meisie yang mengunjungi restoran Rais duduk dengan anggunnya. Bertepatan juga dengan Zeba yang baru datang, langsung menuju ruangan pribadi Rais. Meisie memandang curiga dan menanyai salah satu karyawan Rais.
"Mas, sini." Ucap Meisie melambaikan tangannya kepada waiter.
Waiter tersebut mendekat.
"Iya Mbak, mau pesan apa?" dengan tersenyum.
"Orage juice aja Mas. Oohh yaa Mas mau tanya, perempuan yang baru masuk ruangan itu siapa ya Mas?" Meisie menunjuk ruangan Rais.
"Teman dekatnya tuan Rais Mbak!"
"Oohhh begitu, ya sudah terimakasih." Meisie tersenyum.
Waiter tersebut menundukkan kepala dan beranjak pergi.
__ADS_1
"Ternyata masih sama seperti dulu kamu Rais" gumam Meisie beranjak pergi dan tidak jadi menemui Rais. Minuman yang Meisie pesan di minum sedikit dan segera menuju kasir.
Rais yang tidak tahu kedatangan Meisie tidak bertanya apa-apa pada karyawannya, sebab ia juga tidak berpesan pada karyawannya jika dia punya janji.
●●●
Rafa dan Ira pergi ke sebuah taman. Dua insan ini saling bercengkrama. Rafa menarik tangan Ira dan mengajaknya duduk di kursi taman.
"Mana telapak tanganmu Ira." Rafa memegang tangan Ira dan menggambar bentuk love di telapak tangannya.
Ira tersenyum melihat kelakuan Rafa seperti itu, seperti keajaiban dunia saja.
"Raf..., apa kamu sehat?" Ira memastikan kenormalan otak Rafa.
Rafa mengerutkan alisnya. "Memang kenapa?"
"Barusan yang kamu lakukan, apakah itu keadaan sadar?" Ira menatap mata Rafa.
Rafa terkejut dengan ucapan Ira, menurutnya lucu. Tawa Rafa seketika pecah.
"AAA... HHAA... HAA... HA..., Ira kamu ada-ada saja. Aku kan suami sahmu memangnya aneh melakukan hal ini?" Rafa masih tertawa geli.
Ya jelas aneh lah Raf, apa kamu tidak sadar dengan kelakuanmu, seorang Rafa bisa-bisanya berbuat romantis. Dalam hati Ira ia masih tidak percaya.
"Raf, apa kamu tidak ingin menjelaskan sesuatu?"
"Ya sudah jika tidak mau menjelaskan. Aku akan cari tahu sendiri nanti." Tegas Ira beranjak pergi. Namun genggaman Rafa yang begitu kuat, membuat Ira terjatuh di tempat duduknya lagi.
"Bicaralah yang jelas Ira, aku tidak tahu aku berbuat salah apa ke kamu. Sensi banget kamu." Rafa mencolek pipi Ira.
"Iiihhh... jangan sentuh-sentuh Raf." Menatap tajam Rafa.
"Yang lagi PMS, jangan marah oke. Aku kamu suruh menjelaskan apa?" Rafa tersenyum ke Ira.
"Coba buka ponsel kamu, kamu masih berhubungankan dengan dia?"
Rafa segera menatap layar ponselnya dan melihat ke salah satu aplikasi chat. Rafa tersenyum saat melihat pesan dari Meisie.
"Maksud kamu ini?" Rafa menunjukkan pesan tersebut ke Ira.
"Iya!" memanyunkan bibirnya.
"Kamu kan tahu sendiri dia masa laluku. Apa kamu masih ragu denganku?" Rafa mencium dahi Ira.
Sebenarnya aku tidak ingin ragu denganmu Raf, tetapi melihat pesan kamu dengan Meisie yang selalu kamu tanggapi. Bukannya itu akan membuat celah di rumah tangga kita. Keluh Ira dalam hati.
__ADS_1
Ira berusaha tersenyum. Tetapi tetap saja belum bisa melupakan, walaupun hanya dari pesan singkat antara Rafa dan Meisie.
Restoran Rafa Aditya.
Rafa dan Ira berkunjung ke restoran, para karyawan menyambutnya dengan ramah tamah. Ira tersenyum dan mengangguk, berbeda dengan Rafa hanya menjawab seperlunya. Rafa dan Ira duduk di ruangan pribadi. Seperti biasa karyawan menyediakan berbagai macam menu.
"Bukannya ini mubazir Raf?" Ira menatap makanan dan minuman yang penuh di meja makan.
"Tidak perlu kamu makan, kamu cicipi saja sedikit-sedikit!" Rafa menyantap makanannya, tetapi sebelum itu ia mencuci tangan dan berdoa, begitu juga dengan Ira.
Setelah selesai makan Rafa dan Ira mengelilingi Restoran tersebut. Melihat Ira menatap penuh tanda tanya di setiap sudut ruangan membuat Rafa binggung.
"Ira, ada apa?"
"Tidak ada apa-apa!"
Meisie yang tandinya mengirim pesan ke Rafa hanya diam, menunggu di salah satu meja pembeli.
"Aku pulang ya Raf." Pamitnya Ira ke Rafa, saar berkeliling tadi ia tidak sengaja melihat Meisie. Karena ramai Rafa tidak melihatnya.
"Aku hantar ya?" Rafa menarik tangan Ira, namun oleh Ira segera di lepas.
"Aku pulang sendiri Raf!" Ira segera bergegas pergi menaiki taxi.
"IRAA..., tunggu." Namun naas Ira sudah masuk taxi dan berlalu pergi. Suara deringan telpon terdengar nyaring. Tertera panggilan dari Meisie. Rafa segera menuju meja tempat duduk Meisie.
"Ada apa?" Rafa bertanya tanpa basa basi.
"Aku hanya ingin berkunjung saja Raf, apa tidak boleh?" ucap Meisie selembut mungkin.
"Boleh, kenapa tidak!" Rafa sudah tidak menghiraukan Meisie lagi.
"Kenapa kamu cuek banget sih Raf?" memegang tangan Rafa.
"Jangan lancang kamu." Ucap Rafa dengan taham.
"Maaf." Meisie memelas.
Diam-diam ada orang yang memfoto kebersamaan Rafa dan Meisie. Orang itu suruhan dari Meisie.
Semoga kali ini tidak gagal, waktu itu mengunakan obat gagal, kalau foto pasti tidak, walaupun cuma berpegangan tangan. Aku yakin sudah membuat Ira marah. Dalam batin Meisie berharap berhasil, dengan cara ini.
Rafa yang sudah muak dengan kelakuan Meisie segera bergegas pergi.
"Jika tidak ada hal yang penting lagi, aku pergi." Meninggalkan Meisie.
__ADS_1
Meisie tersenyum penuh kemenangan. Orang yang di suruh tadi segera mengirim foto tersebut ke ponsel Meisie. Meisie yang menggunakan akun palsu segera mengirimkannya ke Ira. Ira yang mendapatkan pesan singkat dari orang yang tidak ia kenal langsung tersenyum penuh makna.