
Rafa tersenyum bahagia bagaimana tidak, ia baru tau jika wanita yang akan menjadi calonnya adalah Ira wanita cantik natural.
"Aku harus membuat kesan yang baik ke Ira!" membeli beberapa bunga dan coklat.
Setelah membeli beberapa keperluan, ia mengunjungi rumah Ira, sebelum ke sana ia mengirim pesan singkat ke Ira.
"Ira aku berkunjung di rumahmu, apa kamu di rumah?"
Setelah mengirim pesan ia menunggu balasan dari Ira.
Satu jam kemudian.
Ira yang baru saja mendapat pesan langsung membalasnya, ia baru tau sebab dari tadi Ira tidak menyentuh ponselnya sama sekali. Ira yang perlahan menerima temannya yang akan menjadi calon suaminya.
"Iya aku ada di rumah, kalau mau berkunjung kemarilah mumpung aku hari ini tidak pergi berkerja!"
Membalas pesan Rafa.
"Mengapa aku sepertinya tidak ada kemistri dengan Rafa. Apa... jangan jangan gara gara si mulut gula!" memikirkan ucapan Rais 1 minggu yang lalu.
Flashback On.
Rais yang mengajak keluar Ira terpaksa mengunci mobilnya agar ia tidak kabur atau lompat dari mobilnya, melihat keadaan Ira yang begitu tertekan.
"Ira jawab aku, apa benar kamu akan menikah dengan Rafa dua minggu lagi?" tanya Rais ke Ira. Ira menganggukkan kepalanya.
"Iya... aku akan menikah dengannya, aku tidak ingin tersakiti lagi. Cukup kamu saja yang menyakitiku!" memalingkan wajah ke arah cendela.
"Apa kamu tidak bisa memaafkan aku Ira?" menatap bayangan wajah Ira dari kaca.
"Tidak!" jawabnya singkat.
"Ira aku beritau, Rafa itu tidak baik untuk kamu, kamu harus percaya sama aku!" ucapnya penuh keyakinan.
"Terus apa bedanya sama kamu tuan Rais yang terhormat!" jawabnya ketus.
"Jelas aku berbeda Ira, dia hanya ingin main main dengan kamu!" meghentikan mobilnya.
"Kamu itu pandai berucap manis tuan Rais, jangan membalikkan fakta tuan, belum tentu ia lebih buruk darimu!" menatap tajam ke arah Rais.
"Aku lebih tau siapa Rafa, ia lebih cerdik dariku untuk mendapatkan sesuatu yang di inginkan!" mengingatkan Ira.
"Tuan Rais aku mohon, untuk kali ini jangan ikut campur apapun masalah pribadiku, aku berhak menentukan hidupku dengan siapapun!" jawabnya menatap kearah depan.
"Tetapi percayalah kepadaku Ira, aku tidak menipumu!" terus berusaha meyakinkan Ira, agar ia tidak menikah dengan Rafa.
__ADS_1
"Coba kamu selidiki dulu Rafa seperti apa, pasti kamu akan mengetahuinya!" jawabnya pasrah. Dan membuka pengunci mobilnya.
Ira yang mendengar kunci pintu terbuka segera pergi. Karena Rais menghentikan mobilnya di dekat gang rumah Ira.
Jika memang aku bukan jodohmu, aku biarkan kamu memilih yang terbaik untukmu, jika kita memang berjodoh maka aku akan mengejarmu. Di dalam batin Rais.
Flashback Off.
_ _ _
Di teras rumah.
Ira yang menunggu kedatangan Rafa tersenyum saat melihat Rafa dari kejauhan.
Rafa saat ini tidak menggunakan sepeda motornya melainkan mobilnya, maka dari itu ia berjalan kaki kerumah Ira. Para tetangga yang melihat Rafa berbisik bisik saja.
"Ira bagaimana kabarmu?" tanyanya memberikan bunga dan coklat.
"Baik, seperti yang kamu lihat!" ucapnya duduk di kursi kayu tersebut. Dan menyuruh Rafa untuk duduk juga.
"Rafa duduklah, ada apa kemari?"
"Bagaimana jika kita melakukan pernikahan kontrak!" ucapnya yang membuat Ira terkejut.
"Tetapi jika ini di lakukan bagaimana dengan Mamaku?" jawabnya kebingungan.
"Iya baiklah, ayo kita pergi tetapi aku cek rumah dulu ya baru pergi!" masuk kedalam rumah dan mengambil tas serta mengrcek rumah dan menguncinya.
Saat di apartemen.
Rafa berbicara serius ke Ira ini kerja sama yang menguntungkan selain untuk membuat Rais jera dan tidak memainkan perasaan wanita, sekaligus mematahkan gelar jomblo Rafa. Dan soal Mama Novi itu di bicarakan setelah menikah.
"Bagaimana apa kamu setuju Ira?" menulis surat kontrak.
"Iya aku setuju!" menanda tanganni surat perjanjian tersebut. Rasa sedih menyelimuti Ira.
Entah itu perasaan apa yang saat ini ia rasakan.
Kenapa aku jadi sedih seperti ini setelah menandatangani surat kontrak tersebut. Gumam Ira dalam hati.
"Ohh ya... soal barang barangmu di kontrakan, sudah aku suruh orang mengemasnya, sekaligus memberikan santunan kepada warga sekitarmu dan membayar lunas kontrakanmu bulan ini!" ucapnya bergegas ke lantai atas.
Ira hanya tersenyum dan mengucapkan terimakasih ke Rafa. Ira segera masuk ke kamarnya, karena tadi Rafa memberi kunci kamar dan menunjukkan kamarnya. Suara pintu terbuka, Ira bergegas masuk dan merebahkan tubuhnya.
"Pernikahan kontrak, rasanya tidak percaya jika ini akan terjadi di hidupku!" melihat sekeliling ruangan tersebut.
__ADS_1
"Tetapi untuk membalas perbuatan Rais, aku harus bisa. Agar ia tidak memainkan perasaan seorang wanita!" ucapnya segera berdiri dan membuka gorden cendela.
Angin semilir lewat cendela tersebut. Kamar ini tertuju langsung ke arah taman yang berhiaskan bunga warna warni. Apartemen ini sengaja di hias sedemikian rupa, agar lebih mirip dengan rumah idaman bukan apartemen. Ira menyudahi lamunannya dan bergegas keluar karena perut telah berdemo.
"Apakah ada makanan di sini?" membuka lemari pendingin. "Bukannya Rafa pemilik restoran ternama dan memiliki beberapa cabang, kenapa isinya kosong?" menutup pintu kembali.
"Kalau seperti ini bisa kelaparan!" mengelus ngelus perutnya yang sudah berdemo.
"Lebih baik aku keluar sebentar untuk membeli makanan!" saat ingin membuka pintu, tetapi pintu menggunakan password.
"Aduhhh gimana ini, pakai password pula!" bergegas menuju lantai atas.
TTOKKK... TOOKK... TOOKK....
"Sebentar...." Rafa membuka pintu. "Ada apa Ira?" tanyanya, meggosok gosok matanya karena habis bangun tidur.
"Berapa sandinya pintu?" Ira menatap wajah ngantuk Rafa.
"10****** , jangan lupa passwordnya, aku mau melanjutkan tidurku sebentar!" Rafa menutup pintunya dengan tiba-tiba.
"Iyaa...!" menuruni anak tangga dan membuka passwordnya.
Ira yang berada di minimarket membeli beberapa bahan kebutuhan untuk makan. Ia mengambil beberapa produk instant di mini market tersebut.
"Aku beli secukupnya saja, lagian inikan apartemen Rafa, masa aku yang membeli kebutuhan semua. Diakan punya uang lebih!" membayar belanjaan.
Setelah masuk ke dalam apartemen ia segera memasak mie, sebab perutnya sudah tidak bisa di tahan lagi. Rafa yang baru bangun tidur, bergegas menuruni anak tangga.
"Apa yang barusan kamu makan?" tanya ke Ira.
"Aku makan mie instant, perutku sudah tidak bisa di tahan lagi!" ucapnya mencuci piring yang baru ia gunakan.
"Beberapa bahan makanan ini kamu yang beli?" tanyanya membuka kantong kresek tersebut.
"Bukan aku, tetapi tetangga!" jawabnya ketus.
Sudah tau di apartemen ini cuma kita berdua tanpa pembatu bertanya pula. Ucapnya dalam hati.
Rafa tertawa keras melihat Ira memonyongkan mulutnya.
"Apa aku segitu lucunya hingga kamu tertawa lepas?" mengeluarkan beberapa makanan siap saji.
"Yaaa... seperti itu!"
"Apa kamu mau memakan ini?" menawari makanan dalam kotak plastik.
__ADS_1
"Eemmm boleh, aku juga merasa lapar!" Rafa duduk di kursi tinggi yang ada di dapurnya.