
Pemandangan yang indah dan sejuk di pandang mata, apalagi saat ini masih terlihat lautan kabut. Rafa dan Ira sama-sama menghirup udara sejuk pagi hari. Embun pagi menusuk pori-pori kulit sangat nyaman dan segar.
"Apa kamu menyukainya sayang?" Rafa menatap wajah Ira yang masih menikmati kesejukan di area kebun teh ini.
"Sangat dan baru kali ini aku merasakan tubuhku nyaman sekali sayang!" jawab Ira masih memejamkan mata sambil menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan.
"CCUPP..., aku mencintaimu." Rafa mencium bibir Ira dadakan. Ira yang terkejut langsung membuka matanya.
Para pekerja kebun yang melihat keromantisan Rafa dan Ira langsung membuyarkannya.
"Permisi Mbak Mas di area sini juga ada peginapan jika ingin menginap." Salah seorang pemetik daun teh menawarkan penginapan dengan menujukkan tempatnya.
Rafa dan Ira langsung melihat orang tersebut menujuk tempat penginapan. Rafa dan Ira hanya mengangguk dan tersenyum kemudian tukang pemetik daun teh tersebut berpamitan.
"Mau menginap?" tanya Rafa yang masih menatap penginapan yang terlihat sedikit seram.
"Tidak usah ya Rafa lagian aku ingin pulang saja sehabis ini!" jawab Ira dengan kaku, ada rasa takut saat menatap penginapan yang terlihat besar dari area perkebunan teh ini.
"Ya sudah kalau begitu ayo pulang sayang." Rafa mengeratkan gengamannya untuk Ira. Dengan senang hati Ira menerima gengaman erat Rafa sang suami.
Sesampainya di mobil Ira tersenyum lega ia takut seperti yang ada di film-film tiba-tiba mobilnya berhenti di saat yang tidak tepat dan berakhir menginap di tempat tersebut mau tidak mau.
Rumah Rafa Aditya.
"Kamu kenapa sih setelah sampai rumah ekspresimu seperti itu?" Rafa binggung dengan tingkah ketakutan Ira.
"Aku tidak apa-apa sayang!" jawab Ira tersenyum lebar.
"Okelah aku percaya, apa kamu sudah lapar lagi?" Rafa menatap Ira yang mengambil piring dan mengambil nasi dan lauk yang lumayan banyak, lebih tepatnya dua kali lipat porsi biasanya.
Rafa menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat Ira makan dengan lahapnya. Rafa langsung duduk mendekat. Ira yang melihat Rafa mendekat langsung menyuapi Rafa dengan senang hati Rafa menerimanya.
__ADS_1
Setelah selesai makan Ira bergegas mencuci piringnya sendiri. Ira melamun saat setelah mencuci piring, Rafa menyadari sedari tadi saat Ira melamun.
"Heeyyy... ada apa sih kamu melamun?" Rafa menepuk pundak Ira. Ira terkejut.
"Eehhh... tidak apa-apa sayang. Eemmm... kita jangan jalan-jalan ke perkebunan itu lagi ya!" Ira memainkan jari jemarinya.
"Kenapa???" Rafa menatap wajah takut Ira.
"Ya... aku takut Raf jika aku bertemu dengan orang tak kasat mata lagi!" Ira segera duduk. Rafa juga menyusulnya.
"Memang pernah?" Rafa tersenyum tidak percaya dengan ucapan Ira barusan. Rafa sadar jika di kehidupan ini berdampingan dengan makhluk tak terlihat asal tidak menganggu pasti tidak di ganggu.
"Pernah sebelum aku kehilangan baby kita. Aku pikir dia benar-benar anak kecil Rafa karena aku bisa menyentuhnya, setelah aku menanyakan langsung kepada pemilik perguruan pencak silat ternyata tidak pernah ada anak kecil bernama Raden Sakti!" jawab Ira apa adanya.
"Kenapa aku tidak asing dengan nama itu, seperti pernah mendengarnya? ohhh aku ingat dia bisa memberikan titisan pembaca hati. Kalau tidak salah, benarkan sayang?" tanya Rafa mengingat legenda itu.
"Iya, aku sempat bisa membaca hati Rafa namun itu sementara tidak permanen setelah di culik pertama kali oleh Rudi waktu itu aku sudah tidak bisa membaca hati lagi!" wajah Ira terpancar sedih mengingat kejadian-kejadian itu.
Sore hari.
Ira tengah asik memberi pakan ikan hias yang ada di kolam dekat taman. Ira duduk di tengah-tengah kolam yang merupakan jembatan kecil sekaligus untuk duduk menikmati ikan-ikan yang yang berenang-renang.
Rafa yang baru saja melihat Ira yang berada di kolam ikan hias Rafa langsung duduk di samping Ira. Ira menoleh sebentar dan melanjutkan mengamati ikan-ikan.
"Apa ikan hias di sini lebih mempesona dariku?" Rafa merasa tersaingi karena Ira terus fokus menatap ikan-ikan sambil tersenyum.
"Iya, bahkan saat pikiranku jenuh ikan-ikan ini membantu meringankan bebanku!" jawab Ira yang masih asik menaburkan pakan ikan untuk yang kedua kalinya. Suara gemuruh ikan memakan pelet yang di tabur Ira begitu nyaring karena di kolam tersebut banyak jenis ikan.
"Hhaahhh ternyata ikan di sini lebih mempesona dari pada suami tampannya bak Malaikat tak bersayap ini." Rafa segera berdiri namun tangannya di cegah oleh Ira.
"Mau kemana?" Ira menatap Rafa yang memalingkan wajahnya.
__ADS_1
"Pergi, kamu tidak menganggapku ada barusan kan aku jadinya sedih!" Rafa berpura-pura marah.
"Duduklah sini terlebih dahulu Rafa, ayo kita menikmati sama-sama pemandangan ikan di kolam ini." Ira berdiri dan mengajak Rafa untuk duduk kembali. Rafa akhirnya menuruti Ira sang istri.
Di tempat lain.
Rais dan Meisie tengah menghabiskan waktu bersama di sebuah club malam.
"Heyy... apa kamu tidak berencana menikah Rais?" Meisie menggoyang-goyangkan gelas wine sambil menatap Rais yang sedari tadi tidak menyentuh minumannya.
"Tidak sebelum kamu bertaubat dan menikah juga!" jawab Rais santai.
"Aku tidak akan menikah lagi sudah cukup satu kali dan tidak ingin mengulang. Menyakitkan untukku. Apa kamu tau Rais aku menyesal telah meninggalkan orang yang mencintaiku dengan tulus demi obsesiku akan kekayaan. Tapi melihat dia bahagia dengan wanita yang ia cintai aku bahagia." Meisie sudah tidak sadarkan dirinya karena banyak minum.
"Aku juga sama, andai aku tidak melukainya mungkin aku jadi laki-laki paling bahagia di kehidupan ini," Rais segera membayar total minuman yang ia pesan.
Kemudian Rais membopong tubuh Meisie dan memasukkannya ke mobil bagian jok belakang. Dari dulu sampai sekarang Rais tidak pernah membiarkan orang lain duduk di kemudi depannya selain Ira sang mantan kekasih. Sesampainya di villa yang Aldo Chand berikan untuk Meisie. Rais segera menyuruh asisten yang ada untuk membopongnya ke dalam villa.
Setelah menghantar Meisie. Rais mampir di tempat pencucian mobil. Entah kenapa setelah berpergian dengan Meisie, Rais selalu mencuci mobilnya.
Mansion Aldo Chand.
Aldo Chand tengah bersiap-siap untuk menemui Novi di kediamannya namun sebelum berkunjung ke tempat mantan istrinya ia membawa beberapa makanan sebagai syarat agar tidak di kira tidak memiliki apa-apa lagi. Selain itu Aldo Chand juga ingin membangun pertemanan yang baik dengan mantan istrinya tersebut.
Rumah Mama Novi.
Para pekerja di kediaman Novi bergegas pulang karena hari menjelang malam juga. Karena ini akhir pekan jadi hari ini hari para pekerja menerima upahnya.
Amir yang tengah mengamati semua isi rumah merasa curiga karena rumah Novi begitu rapi dan banyak hiasan bunga seperti orang yang tengah jatuh cinta saja.
"Siapa tamu yang akan datang???" Amir mengepalkan tangannya.
__ADS_1