My Love Rafa Aditya

My Love Rafa Aditya
Ira wanita cerdas


__ADS_3

Ira yang berada di apartemen menangis sesengukkan. Ira tidak berani kembali ke rumah utamanya, ia takut jika nanti Rafa pulang tapi tersakiti, seperti ucapannya saat mulai sadar pagi tadi.


Bibi Nilam yang masih berada di rumah sakit bersedih, dengan musibah yang di alami Rafa dan Ira. Apalagi di tambah dengan keadaan Rafa yang tidak mengingat Ira istrinya.


Beberapa hari kemudian.


Rafa yang sudah di izinkan pulang langsung mencari ponselnya dan menghubungi kontak Meisie, setelah menemukannya ia segera menghubungi Meisie.


Meisie yang mendapat panggilan dari Rafa tersenyum bahagia, apalagi ia mengajak bertemu di salah satu hotel mewah di kota ini.


"Aku harus mempersiapkan diriku secantik mungkin." Langsung menuju mobilnya dan pergi ke salon.


Rafa yang berada di lantai atas memilih-milih beberapa pakaian, yang akan di gunakan untuk pergi bertemu Meisie nanti malam.


Bibi Nilam yang akan menghantarkan makanan tersenyum, saat melihat Rafa memilih baju.


"Raf..., kamu mau pergi menemui Ira. Istrimu?" tanya Bibi Nilam dengan lembut.


"Tidak!"


"Terusss..., mau pergi kemana. Apa mau berkerja?" Bibi Nilam berpikir jika Rafa rindu dengan restorannya.


"Aku akan bertemu Meisie Bi!" dengan tersenyum lebar di wajahnya.


Jantung Bibi Nila terasa ngilu, mendengar ucapan keponakan satu-satunya ini. Apalagi Ira masih istri sahnya saat ini.


Suara bell menandakan ada tamu berbunyi begitu nyaring di dalam rumah. Pembantu yang bersih-bersih membukakan pintu, ia terkejut ternyata Nona mudanya yang datang. Ira yang sudah tahu jika suaminya pulang melalui telpon dari Bibi Nilam.


"Apa suamiku ada di rumah Mbak Melati?" Ira bertanya tanpa basa basi.


"Ada Non, ada di atas Tuan muda!"


Ira bergegas pergi menuju kamar Rafa, saat akan masuk kamarnya ia terkejut melihat Rafa memilih beberapa pakaian dan Bibi Nilam ada di kamar tersebut membawa nampan.


Tookk... tok.... Bibi Nilam menoleh, dan meletakkan nampan yang ia bawa. Melihat Ira datang Bibi Nilam tersenyum.


"Permisi, apa aku menganggu Bibi?" langsung menyalami Bibi Nilam dan mencium punggung tangannya.

__ADS_1


Rafa yang menatap sekilas langsung menuju kamar mandi.


"Apa dia akan bertemu Meisie Bi?" tanya Ira bersedih.


"Ia Ira, maaf kan Bibi yang tidak bisa mencegah Rafa!" sambil memeluk Ira.


"Tidak apa-apa Bibi, aku yang salah Bibi. Seharusnya aku tidak datang di kehidupannya, aku pasti pembawa sialkan Bi?"


"Kamu bukan pembawa sial Ira, kamu menantu satu-satunya yang Bibi dan Paman akui!" mengenggam tangan Ira.


Ceklek suara pintu kamar mandi terbuka, Rafa sudah selesai bersih-bersih. Langsung menuju cermin dan berdandan. Aroma parfum begitu menyengat, menandakan ia sedang punya rasa untuk orang yang ia kagumi.


Ira segera pergi keluar dari kamar Rafa. Begitu juga dengan Bibi Nilam, tanpa satu katapun yang keluar.


Rafa cuek saja dengan orang-orang barusan. Rafa bergegas menuju mobilnya dengan bantuan sopir. Sesampainya di tempat tujuan ia membawa sebuket bunga untuk Meisie.


Mereka berdua mengobrol ini itu, saling menggengam tangan satu sama lain. Bahkan berita jika pengusaha muda pemilik restoran ternama di kota ini, sedang berjalan dengan wanita lain dengan mesra.


Ira yang membaca trending topik barusan langsung melempar ponselnya dari atas balkon. Hingga hancur berkeping-keping karena ia jatuhkan tepat di atas beton.


"Aku tidak boleh lemah, jika aku lemah pasti si perempuan ganjen itu semakin menjadi-jadi. Apalagi Rafa itu orangnya bucin." Ira bergegas mengambil tasnya dan menuju ke pusat pembelanjaan, ia mengenakan masker dan topi saat keluar.


●●●


Rafa tidak mengantarkan Meisie pulang, sebab Meisie ada janji dengan temannya lebih tepatnya teman bersenang-senang dalam hotel. Rafa tidak tahu jika Meisie wanita seperti itu, pikirnya Meisie wanita baik-baik.


Saat bersama Meisie, Rafa sama sekali tidak merasakan ada getaran cinta dari dalam hatinya, bahkan hampa yang ia rasa. Sesampainya di rumah ia membuka galeri ponselnya melihat satu persatu fotonya, begitu banyak fotonya dengan Ira bahkan saat berciuman juga sangat banyak.


Rafa merasakan sedikit pusing di kepalanya dan segera meletakkan ponselnya di meja kecil.


Ira yang baru pulang setelah menghabiskan dua porsi martabak langsung menuju kamar Rafa, mengecek apa Rafa sudah pulang. Melihat Rafa yang tertidur dengan masih mengenakan setelan jas rapinya membuat Ira tersentuh ingin melepas sepatunya. Saat akan mebuka sepatunya ia teringat jika suaminya baru saja berkencan.


Ira mengurungkan niatnya itu.


Pagi hari.


Ira menyiapkan air hangat untuk Rafa mandi.

__ADS_1


"Raf... bangun sudah siang." Menggoyangkan tubuh Rafa. Rafa terbangun dan dan menggosok matanya.


"Sini duduk dekat aku, apa benar kamu istriku?" Rafa bertanya.


"Aku memang istrimu, apa kamu tidak melihat jika banyak foto kita di ponselmu?" menunjukkan fotonya saat bersama.


"Aku masih ragu, buktikan dengan cara yang lain!" Rafa ragu.


Ira langsung mencium dan melum** bibir Rafa, tidak ada penolakan dari Rafa, bahkan Rafa menikmatinya dan membalas.


"Ini buktinya, bahkan kamu membalas dan menikmatinya." Tersenyum penuh kemenangan di dalam tubuh Ira.


Wajah Rafa langsung memerah dan berlalu meninggalkan Ira. Ira tertawa renyah.


"AAA... HAAA... HAAA..., dasar kamu Raf. Meragukan hubungan pernikahan kita, aku beri ciuman langsung seperti itu ekspresinya." Masih tertawa.


Suara notifikasi dari ponsel Rafa, Ira segera melihat pesan dari siapa. Dan seperti biasa Rafa tidak menggunakan kode dalam ponselnya.


"Dasar ceroboh kamu Raf, jika ponselmu di bajak orang lain bagaimana?" melihat pesan Meisie yang baru muncul.


Aaa... haa... haa... lucu sekali pesan ini, pakai sayang-sayangan lagi. Kayak pasangan resmi saja. Aku yakin Meisie memanfaatkan hilang ingatan Rafa, aku harus bergerak lebih cepat dari Meisie, jika tidak ingatan Rafa akan lama sembuhnya. Dalam batin Ira.


Rafa yang baru selesai mandi mencari-cari pakaian yang ingin ia kenakan untuk pergi ke restorannya.


Ira menatap sekilas dan langsung mendekati Rafa. "Perlu di bantu?" membuka laci yang berisi dalaman baju. "Ini kan yang kamu cari, apa kemarin kamu tidak mengenakan celana dalam saat bertemu Meisie?" Ira sedikit menyindir Rafa.


Wajah Rafa kembali memerah dan langsung mengambil celana dalam dari tangan Ira. Kemudian Ira memberikan pakaian kesukaannya berwarna cream. Pakaian yang Ira berikan saat Rafa berulang tahun. Lebih tepatnya saat masih ada perjanjian hitam di atas putih, waktu awal-awal menikah.


Saat mengenakan pakaian tersebut, bayangan wajah Ira saat tersenyum terlintas. Rafa sedikit yakin jika Ira benar-benar istrinya. Saat Rafa mau berbicara Ira mendahuluinya.


"Tadi Meisie mengirimmu pesan, katanya ia mau ke restoranmu." Sedikit sedih di raut wajah Ira.


Rafa tersenyum melihat Ira yang berbicara seperti itu.


"Kamu cemburu?" ucap Rafa berterus terang.


"Untungnya kamu hilang ingatan, jika ingatanmu sudah pulih dan normal kembali aku pukul wajah tampanmu itu." Bergegas pergi.

__ADS_1


Rafa tertawa dan langsung menuruni anak tangga selesai bersiap-siap.


__ADS_2