
Ira yang mendapat kiriman foto tersenyum licik.
Aku ikuti permainanmu Meisie, walaupun umurmu lebih tua dariku, dengan mudah kamu menipuku. Iam sorry baby. Tawa renyah setelah memikirkan rencana.
Ira mengetik beberapa pesan ke seseorang. Rafa yang mendapat pesan dari Ira hanya tersenyum.
●●●
Rafa yang baru pulang di rumah utamanya, merasa lega melihat Ira baik-baik saja, Rafa langsung memeluknya dari belakang.
"Sayang." Rafa menyenderkan dagunya di pundak Ira.
"Aaww..., kamu berat Raf. Jangan meletakkan dagumu itu!" keluhnya ke Rafa.
Rafa segera duduk di samping Ira, dan mengikuti pandangan kemana Ira menatap. Tapi hanya menatap sekilas, dari lantai tiga terlihat jelas lampu jalan yang seperti, bintang kelap kelip. Kemudian Rafa menatap Ira membuat Rafa malah fokus menatap wajah cantik Ira, sampai tidak berkedip.
Ira merasa di pandang Rafa terus-terusan, mulai merasa tidak nyaman. "Kenapa sih Raf, apa ada yang salah dengan wajahku?"
Rafa yang ketahuan mematap Ira tanpa henti tersenyum. "Kamu memang cantik Ira, pantas saja bisa meluluhkan hatiku!"
Ira yang mendapat gombalan malam hari, mengambil camilan dan menyuapkannya ke Rafa. Rafa dengan senang hati menerima suapan Ira. Tetapi Ira tidak berhenti menyuapi Rafa, sampai-sampai Rafa tidak bisa berbicara.
"Di habiskan ya sayang," seraya mengelus pipi Rafa dan berlalu pergi.
Rafa melanjutkan mengunyah dan mengikuti langkah Ira yang menjauhi area balkon. Dengan kakinya yang panjang, membuat Rafa dengan mudah menyusul Ira.
6 hari kemudian.
Setelah kejadian foto itu, Rafa berada di rumah dan mengurus pekerjaan dari rumah. Hari ini Ira sudah selesai datang bulannya, lebih tepatnya hari ini masa suburnya. Rafa sudah menghitung dan meperdiksinya melalui internet yang ia baca di laptopnya.
Rafa mendekati Ira yang baru selesai mandi, Ira mandi malam hari sebelum tidur. Rafa mencium pipi Ira dan langsung memeluknya.
Ira yang tahu akan kelakuan suaminya pasrah di tempat.
__ADS_1
"Sayang, bolehkah?" Rafa bertanya dengan raut wajah yang sudah di penuhi nafsu.
"Iya!" jawabnya dengan malu.
Rafa mencium seluruh wajah Ira dan semakin turun ciumannya. Jubah yang di kenakan Ira sehabis mandi sudah berserakan di lantai, begitu juga pakaian Rafa. Rafa melakukan kewajibannya sebagai suami untuk pertama kalinya, begitu juga dengan Ira. Rafa berterimakasih kepada istrinya, karena bersedia menyerahkan mahkotanya dengan ikhlas.
Malam yang panjang terjadi di kamar Rafa dan Ira. Merasa sudah kelelahan Rafa dan Ira tertidur dengan berpelukan. Ira yang sudah bangun, mengoyangkan tubuh Rafa, tetapi Rafa tidak kunjung bangun membuatnya frustasi dan meninggalkan Rafa sendirian.
"Rafa di bangunkan tidak bisa, untuk ia tidak merenggutnya dengan paksa, jadi aku juga tidak tersakiti." Berjalan menuju kamar mandi dan membersihkan diri.
Suasana di kediaman Rafa begitu berisik, dengan adanya suara kicauan hewan-hewan pagi hari.
Bibi Nilam dan Ira sedang membuat puding dan roti di dapur. Rafa yang baru bangun menuruni anak tangga dengan cepat. Mungkin kurang teliti saat melangkah hingga menyebabkan Rafa terjatuh dari tangga.
Suara begitu keras sampai terdengar dari dapur dan taman belakang, Rafa yang mengeluhkan kesakitan di kaki dan kepala membuatnya langsung pingsan. Terlihat ada darah segar yang keluar dari kepalanya.
Bibi Nilam langsung memanggil suaminya, sementara Ira menangis melihat Rafa seperti itu. Paman Adi dan satpam rumahnya segera membopong tubuh Rafa menuju RS.
Ira yang mendapat musibah tersebut jatuh di lantai. Bibi Nilam memeluk erat tubuh Ira serasa tidak percaya dengan apa yang terjadi.
Bibi Nilam takut jika Rafa tidak mengingat Ira. Akan tetapi Bibi Nilam terus berdoa semoga baik-baik saja hubungan rumah tangga Ira dan Rafa.
3 hari kemudian.
Ira yang berada di samping ranjang tidur Rafa senantiasa menemani suaminya yang berbaring di ranjang rumah sakit.
"Sayang, apa kamu tidak ingin bangun?" menggengam tangan Rafa. Rafa mengerakkan jarinya dan mulai membuka matanya.
"Meisie." Ucap lirih Rafa, membuat Ira terkena serangan jantung.
Ira segera melepas gengamannya dan berdiri kemudian berjalan mundur, Ira terjatuh di sofa kamar Rafa. Dengan menutup mulutnya. Air mata menetes di pipinya.
Bibi Nilam yang niatnya mengantikan Ira berjaga terkejut saat melihat Ira menangis dan Rafa terbangun. Pikirnya itu tangis bahagia karena Rafa bangun. Saat mendengar Rafa menyebutkan nama Meisie tepat saat Bibi Nilam berada di samping ranjang tidur, Bibi Nilam langsung membuat kesimpulan jika Ira menangis karena ini.
__ADS_1
Bibi Nilam menyodorkan gelas air putih ke mulut Rafa. Setelah minum Rafa mencari sosok Meisie kesana kemari.
"Kamu mencari apa Raf?" tanya Bibi Nilam.
"Aku mencari Meisie Bi. Di mana dia?" ucap Rafa tanpa melihat Ira.
Ira segera berdiri dan meninggalkan ruangan Rafa. Ira yang berpapasan dengan Paman Adi tidak melihatnya. Pamsn Adi binggung dan langsung menuju kamar rawat Rafa. Sesampainya di kamar Rafa, Paman Adi tersenyum bahagia melihat keponakannya sudah siuman. Paman Adi menanyai keadaan Rafa dan keluhan yang ia rasakan saat ini.
"Aku baik Paman. Paman apa Meisie tahu jika aku di sini?"
Paman Adi binggung dengan sikap Rafa.
"Tidak dia tidak disini, dan juga dia tidak mau tahu keadaanmu!" jawab Paman Adi berbohong.
Bibi Nilam terselamatkan dari pertanyaan Rafa dengan kehadiran suaminya.
"Kenapa dia setega itu?" ucap Rafa bersedih.
"Raf, apa kamu tidak mengingat jika kamu sudah menikah?" tanya Paman Adi.
"Menikah sejak kapan. Apa dengan Meisie?" Rafa tersenyum dengan perkataannya barusan di dalam pikirannya ia menikah dengan Meisie.
"Bukan, tetapi dengan Ira!" menyodorkan ponsel Rafa, yang wallpapernya foto Rafa dan Ira.
"Siapa ini Paman. Aku tidak mengenalnya?"
"Ini istrimu Raf!" jawab geram Bibi Nilam. Tiba-tiba sepintas bayangan Ira lewat di memori otaknya membuat ia mengeluhkan pusing dan pingsan.
Bibi Nilam terkejut dengan kejadian barusan dan memanggil Dokter, Dokter segera menangani pasien. Setelah memeriksanya, Dokter menyarankan untuk tidak memaksa ingatan pasien, agar tidak terjadi hal yang fatal. Bibi Nilam dan Paman Adi mengangguk paham. Kemudian kembali ke ruangan Rafa, melihat Rafa masih belum sadar kemudian menunggunya di luar kamar rawat Rafa. Paman Adi mencoba menghubungi ponsel Ira namun tidak aktif. Dan berkali kali di coba namun tetap sama saja.
_ _ _
Ira yang berada di apartemen menangis sesengukan. Ira tidak berani kembali ke rumah utamanya, ia takut jika nanti Rafa pulang tapi tersakiti, seperti ucapannya saat mulai sadar pagi tadi.
__ADS_1