My Love Rafa Aditya

My Love Rafa Aditya
Jelas


__ADS_3

Setelah masuk kedalam ruangannya Rafa meminta di buatkan cappucino. Rafa memeriksa semua data yang masuk dalam laptopnya.


Meisie hari ini mengunjungi kantor Rudi, dan ingin mengetahui sesuatu.


Rudi yang masih berbincang-bincang dengan Aldo terkejut saat Meisie langsung masuk ke ruangannya tanpa permisi.


Meisie langsung bergelayut manja di lengan Aldo. Aldo bahkan tidak menepis kelakuan Meisie, bahkan Aldo meminjam ruangan Rudi untuk bercinta. Tetapi Aldo tidak menanamkan benih ke dalam tubuh Meisie, hanya sekedar ciuman saja.


Aldo masih mengingat jika ia mempunyai seorang putri yang harus ia jaga. Walaupun belum pernah berbicara 4 mata tetapi saat mengetahui ia memiliki seorang putri ia tidak pernah lagi melakukan hal bejat kepada seorang wanita.


Aldo memang laki-laki tampan, jika anaknnya laki-laki mungkin wajahnya hampir sama, sayangnya ia memiliki putri yang wajahnya mewarisi darah ibunya Aldo.


Aldo merupakan keturunan dari Belgia Indonesia, ibunya orang Belgia sedangkan ayahnya orang Indonesia asli. Dan pantas saja putrinya memiliki paras yang cantik dan imut.


Aldo selama ini selalu mengawasi putrinya dari jauh bahkan sering beberapa kali mengikutinya dari belakang, saat putrinya sampai tujuan dengan selamat ia akan memacukan kendaraannya ke kantor miliknya.


●●●


Restoran Rafa Aditya.


Banyak pembeli dan pesanan di restoran Rafa, pelayanannya yang selalu ramah, cepat dan enak. Menjadi primadona tersendiri di restoran itu.


Rafa yang hanya diam tanpa sepatah katapun akhirnya meloloskan air matanya. Rahasia yang tidak pernah ia dengar hari ini langsung mendengarnya.


Apalagi setelah Beno bercerita kepadanya, membuat dirinya ingin sekali menenggelamkan diri dilaut. Ibu yang selalu ia banggakan berbuat seperti itu kepada kekasihnya.


Beno memberika beberapa file kepada Rafa melalui email. Ada sebuah foto pernikahan Aldo Chand dengan istrinya di kantor agama yang barusan Beno terima dari bawahannya.


Rafa menatap foto itu dengan teliti.


"Kenapa aku tidak asing dengan wanita yang mengenakan kebaya ini, wanita ini mirip dengan ibunya Ira, atau jangan-jangan memang benar. Aku akan pulang dan menanyai Ira." Rafa bergegas pulang ke rumah utamanya.


Pertanyaan demi pertanyaan muncul saat Rafa melajukan mobilnya. Sesampainya di rumah Rafa langsung menarik lengan Ira dengan kasar.


Ira hanya merintih kesakitan saat Rafa menariknya dengan kasar.


Saat berada di dalam kamar yang terkunci, Rafa segera memperlihatkan foto pernikahan di kantor Agama. Ira menatap foto tersebut.

__ADS_1


"Mama..." ucap Ira lirih.


Rafa tersenyum seperti mendapatkan mangsa yang empuk.


"Jadi benar Aldo Chand adalah ayahmu?" tanya Rafa dingin.


"A... kuuu tidak tahu Raf. Mama tidak pernah memberitahu nama Papa!" jawab jujur Ira.


"Bohong, pasti kamu sudah tahukan jika Aldo Chand Papamu?" ucap Rafa dengan wajah merah padam.


Rafa langsung menarik Ira menuju lantai satu, sesampainya di lantai satu Rafa masih menarik kuat tangan Ira sampai garasi mobil.


Para pembantu rumah Rafa hanya di tidak berani menolong Ira.


Rafa melajukan mobilnya ke kantor Rudi dan mencari kejelasan, sebab beberapa bulan yang lalu ia menanyai Rudi, Rudi hanya bilang belum waktunya, datang saat sudah jelas.


Rafa dan Ira langsung masuk ruangan Rudi, tanpa permisi. Rafa dan Ira terkejut saat melihat Meisie baru keluar dari ruangan pribadi Rudi.


"Kamu pulanglah dulu." Ucap Aldo pada Meisie. Meisie langsung pulang saat menerima notifikasi di ponselnya. Sejumlah uang yang cukup untuk bersenang-senang.


"Aahh lumayan walaupun tidak di apa-apa kan asal uang terus mengalir." Gumam Meisie saat berada di luar kantor Rudi.


"Kenapa? apa ada masalah?" tanya Rudi memancing emosi.


"Apa maksud foto ini?" tanya Rafa pada Aldo, dengan menyodorkan ponselnya.


"Oohh itu, fotoku dengan mantan istriku!" jawab Aldo Chand santai.


Ira meneteskan air matanya. Tidak percaya dengan begitu santainya berbicara tanpa memikirkan perasaan orang lain yang terluka.


Aldo Chand yang melihat putri kesayangannya menundukkan kepalanya langsung mendekat.


Ira segera berdiri menjauh dari Aldo Chand.


"Jangan mendekat, kamu bukan Papaku. Aku tidak pernah mengenalmu. Dan juga tidak ingin melihatmu." Ucap Ira dengan keras.


Aldo Chand hatinya hancur berkeping-keping, putri kesayangannya yang seumur hidupnya belum ia sentuh dengan kasih sayang, kini tidak ingin mengenalnya.

__ADS_1


"Maafkan Papa nak, Papa minta maaf." Bersimpuh di hadapan Ira.


Rafa tudak tinggal diam ia segera menarik istrinya ke pelukannya.


Tiba-tiba Rudi datang mendekat ke telinga Rafa.


"Dia adalah orang yang membunuh orang tuamu Rafa, ia pembunuh. Aku bukan yang menyebabkan orang tuamu meninggal tetapi dia." Rudi segera beranjak pergi.


Ira yang mendengarnya dengan jelas langsung menatap Papanya yang baru berdiri di sampingnya agak jauh.


"Anda membunuh orang tua suamiku?" tanya Ira dengan amarah.


"Maafkan Papa nak, Papa akan bertanggung jawab. Papa siap di hukum saat ini juga asalkan kamu tidak membenci Papa nak!" menggengam tangan Ira. Ira segera menarik tangannya.


Rafa yang berdiri mematung hanya diam tanpa bersuara. Otaknya berhenti seketika saat di beritahu Rudi barusan.


Ira langsung menelpon pihak kepolisian untuk segera menangkap bukti-bukti jika Aldo Chand adalah dalang di balik kecelakaan orang tua Rafa.


Rafa saat ini berada di pemakaman umum, tidak ada air mata yang keluar dari mata Rafa, sedangkan Ira masih saja meneteskan air mata.


Beberapa kali terucap permintaaan maaf atas nama Papanya. Rafa langsung memeluk dan mengajak Ira untuk kembali ke kediamannya.


Saat berada di dalam rumah. Ira menceritakan pengalaman pahit Mamanya.


"Mama dulu sangat mencintai Papa, tetapi setelah pernikahan itu digelar Mama di sakiti oleh Papa dengan amat sakit. Kemudian Papa juga merampas mahkota Mama dengan memaksa Mama, setelah itu Papa pergi tanpa ada kabar, satu bulan kemudian pengacara Papa datang dan memberikan surat gugatan perceraian untuk Mama. Seketika Mama hatinya hancur pada saat itu. Dan saat itu Mama ternyata telah mengandungku." Ucap Ira tertunduk.


"Maafkan kedua orang tuaku Ira, andai saja Mamaku tidak menghianati Papamu saat acara pernikahan kurang 3 hari. Mungkin saat ini Papamu tidak senekat itu. Menyakiti Mamamu yang teramat dalam." Rafa menjelaskan secara singkat dari kisah Mamanya yang berhianat.


Ira menganggukkan kepalanya, Rafa langsung memeluk erat tubuh istrinya. Sesekali ia mencium keningnya.


"Kita mulai dari awal lagi oke, kita bangun keluarga kecil kita. Aku harap kejadian orang tua kita hanya mereka saja, tanpa kita ikut campur. Biarkan orang tuaku tenang, ya sayang." Rafa membelai rambut Ira.


Ira tersenyum sangat manis.


Bibi Nilam dan Paman Adi tersenyum bahagia. Akhirnya selesai juga misteri kematian kedua orang tua Rafa.


Karena masa lalu yang belum tuntas.

__ADS_1


Bersambung.


Terimaksih pembaca setia karya author yang masih amburadul ini. Tinggalkan jejak yaa serta vote juga boleh.


__ADS_2