
Viola pun mulai berjalan meninggalkan tempat itu, Viola memutuskan pulang untuk naik ojek online saja.
Biar lebih cepat sampai pikirnya, kalau naik angkot males, suka ngeteam dulu. Viola sudah sangat lelah hari ini rasanya.
"Ah sial, kenapa hp malah mati lagi." Kesal Viola, karna ponselnya mati, kehabisan baterai. "Apes banget hari ini sumpah." Sambungnya. Kalau sudah begini mau gak mau, ya Viola harus naik angkot.
Andai saja ia bisa memanggil Doraemon, seperti Nobita, Viola akan meminjam pintu kemana saja, agar ia bisa cepat sampai rumah.
Viola kini sudah berdiri di tepi jalan, untuk menghentikan angkot, yang menuju rumahnya. Namun tidak lama ia berdiri, satu buah mobil mewah berhenti tepat di hadapannya.
Viola menatap mobil tersebut, sepertinya Viola tidak asing dengan mobil ini, pernah liat mobil ini. Tapi di mana?
Kaca mobil tersebut perlahan terbuka, Viola melihat kearah kaca mobil yang terbuka itu.
"Masuk!" Ucap orang yang berada di dalam mobil sana, dengan suara dingin khas miliknya, dan tatapnya melihat kearah depan dengan mata yang tertutup oleh kaca mata hitam.
"Saya?" Viola menunjuk pada dirinya sendiri, seakan tak percaya. Jika My Persdir Arogan itu menyuruhnya untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Menurut kamu siapa?" Kris malah bertanya balik. Viola pun mengangguk, dengan cepat ia masuk ke dalam mobil tersebut.
"Siapa yang menyuruh kamu duduk di belakang?" Tanya Kris. Viola mengelengkan kepalanya sebagai jawaban. "Kamu pikir saya supir kamu? Pindah." Sambungnya.
Viola pun keluar, lalu ia masuk kembali ke dalam mobil tersebut, dan duduk di depan bersampingan dengan Kris. Lalu Kris pun mulai melajukan mobilnya.
'Ini bos Arogan, kepalanya ke jedug apa ya? Tiba-tiba baik begini? Ah bodo amat deh, yang penting gue bisa pulang, plus lumayan juga uang gue aman, dapat tumpangan gratisan. Eh tapi gue harus hati-hati nih, harus waspada. Jangan sampe nih orang ngerjain gue lagi.' Batin Viola.
"Jangan mikir yang macam-macam!" Ungkap Kris, tatapannya masih fokus kearah jalan yang ada di depannya.
__ADS_1
Jlep...
Viola menelan ludahnya, lah kok dia tau apa yang ada di pikiran Viola?
"Mak-sud bapak?" Ucap Viola sedikit gugup, menyangkal semua apa yang di katakan Kris tersebut. Kalau Viola Pinokio pasti hidungnya sudah memanjang.
Kris tak menjawab, ia hanya tersenyum tipis, lalu memasang wajah datarnya lagi.
'Ck, dasar patung hidup.' Ledek Viola dalam hatinya.
Viola pun memilih mengalihkan pandanganya kearah samping, sambil menikmati perjalannya itu. Lebih baik liatin jalanan dari pada liatin orang kaya bosnya itu. Pikir Viola.
Lalu suasana di dalam mobil tersebut berubah menjadi hening, baik Viola mau pun Kris mereka tak ada niatan untuk membuka suaranya kembali. Mereka larut dalam pikirannya masing-masing.
Pikiran Viola kini terpusat kepada orang tuanya! Bagaimana nanti ia bilang sama ibu dan bapaknya, soal motornya tadi. Jika Viola mengatakan yang sejujurnya. Biasa kena semprot dari ke dua orang tuanya itu. Double kill dong nantinya. Ya udahlah buat sementara bilang aja kalau motornya mogok dan lagi di benerin di bengkel. Semoga aja nanti motornya bisa di benerin lagi kaya semula, ya walau pun sebenarnya Viola sendiri gak yakin. Karna melihat dari kondisi motornya itu, pasti sangat sulit. Apa lagi motor itu sudah tua.
'Gue harus nganter kemana ini?' Gunam Kris.
'Eh iya gue lupa kasih tau alamat rumah gue.' Batin Viola, yang tersadar dari lamunan masalah motornya itu.
"Oh iya saya lupa kasih tau bapak alamat rumah saya." Ucap Viola, membuka suaranya. "Jl Anggrek no 9." Sambung Viola.
Kris tak menyahutnya, Kris langsung melajukan mobilnya ke alamat yang di sebutkan oleh Viola tersebut.
'Dari tadi ke bilang, sial kelewat lagi jalannya.' Umpat Kris dalam hatinya.
"Berhenti di situ saja pak!" Pinta Viola. Kris pun menuruti, dan menghentikan mobilnya di tempat yang di tunjukan oleh Viola.
__ADS_1
Viola pun keluar dari mobil Kris tersebut. "Makasih pak!'' Ucap Viola tulis.
Kris tak menyahut, ia langsung melajukan kembali mobilnya.
"Huh dasar emang kutub Utara. Dingin banget.'' Ledek Viola, sambil memandangi mobil Kris yang terus melaju jauh dari pandangannya itu. Lalu Viola pun berjalan kearah rumah yang memang sudah tidak jauh dari sana.
Kris terlihat memainkan ponselnya, sambil terus melajukan mobilnya, Kris menelpon seseorang.
"Hallo, ada apa sih telpon malam-malam begini? Ganggu orang lagi istirahat saja!" Ucap Diki kesal, dari sambungan telpon tersebut.
"Berisik elo, tolong beliin motor metik. Dan besok suruh antar motor itu ke kantor. Nanti gue transfer uangnya." Jawab Kris, to the poin.
"Motor? Buat siapa?"
"Jangan banyak tanya, lakukan saja." Ucap Kris. Langsung mematikan sambungan telpon tersebut.
Tau dong Kris mau beli motor buat siapa? Entah kenapa rasanya Kris merasa iba saat ia melihat Viola tadi yang sedang menangisi motor bututnya itu. Maaf ya bukan maksud Kris meledek, emang kenyataannya motor itu sangat jelek sekali, modelnya ketinggalan jaman. Kris menyaksikan kejadian yang tadi Viola alami, kasian juga pikirnya. Hanya kasian! Catat, kasihan gak lebih.
''Stttt, kenapa gue jadi kepikiran dia terus?'' Kris langsung menggubiriskan bahunya. "Sadar krisna sadar!'' Lanjut Kris bermonolog dengan dirinya sendiri.
Bersambung...
Yuk kasih jempol sama komen-nya. Hehe.
Love u all.
See u..
__ADS_1