
Kris sudah berada di kantornya. Entah kenapa pikiranya tiba-tiba menjadi gusar, ia teringat terus menerus dengan Viola, apa lagi sekarang Viola sedang bersama Dave.
"Sial, ada apa denganku? Kenapa aku jadi terus memikirkannya?"
Pintu ruangan Kris terbuka, sosok Diki nampak di sana, Kris hanya menoleh sekilas. Diki langsung masuk dan menghampiri Kris.
"Eh Kris, Viola kok gak ada di ruangannya ya?" Tanya Diki.
"Emang gak ada," jawab Kris.
"Kemana?"
"Di rumah sakit."
"Hah, di rumah sakit? Viola sakit? Sakit apa? Bukannya dia tadi baik-baik saja?" cerca Diki, Diki terlihat terkejut mengkhawatirkan Viola.
"Emang gue bilang dia sakit?" Kris malah berbalik bertanya dan Diki langsung mengelengkan kepalanya.
"Itu pacar dia yang sakit, kecelakaan katanya," lanjut Kris wajahnya terlihat sangat bete.
"Pacarnya? Siapa pacar Viola?" Diki menatap Kris keheranan.
"Si Dave," jawab Kris dengan ketus.
"Oh si Dave, laki-laki yang waktu itu di kenalin Viola sama kita pas di mall itu ya?"
"Jadi dia pacarnya Viola, pantas saja waktu itu dia ga dengan tangan! Ngomong-ngomong kapan ya mereka jadiannya?"
"Mana gue tau, tanya sendiri aja sana. Udahlah jangan bahas mereka bikin hati gue panas aja!" ucap Kris, wajahnya terlihat sangat kesal.
"What? Panas?" Diki terkejut, "akhirnya es batu bisa kepanasan juga!" lanjutnya diiringi dengan tawa.
__ADS_1
"Apa maksud elo?" Kris menatap tajam Diki, "emang ada yang lucu hah?"
"Gak ada," jawab Diki dengan santainya.
"Lah elo kenapa ketawa? Gak ada yang lucu kok ketawa!" gerutu Kris.
"Roman-romannya ada yang sedang cembokur ni ye..." goda Diki.
"Apaan cembukor?" tanya Kris bingung. Jujur saja Kris kadang Kris tidak mengerti dengan bahasa planet Diki.
"Cembokur sejenis air yang kotor!"
"Itu mah comberan dodol." pekik Kris kesal.
"Hahaha," Diki tertawa lapas, "bisa ngelawak juga ini bocah."
"Udah deh jangan bertele-tele."
"Cemburu? mana ada gue cemburu sama dia. Ck amit-amit!!" gumam Kris.
"Cie-cie cembokur ni ye, banyangkan Kris Viola sekarang lagi uwu-uwuan sama Deva! Ah nyesek hati babang," Diki terus menggoda Kris.
"Enggak amit-amit, ngapain gue harus cemburu sama dia," dustanya. "Terus itu apa lagi uwu-uwu, bahasa planet mana lagi itu?"
"Huh, kudet banget sih elo Kris, uwu-uwu aja gak tau!" ledek Diki.
"Kudet apa lagi coba? Udah ah elo keluar sana dari ruangan gue, sumpah lama-lama gue gedeg ngomong sama elo, gak nyambung. Ngomong pake bahasa planet," ucap Kris sangat kesal. Ia mengusir Diki menggibaskan tanganya agar Diki keluar.
"Huh, gak asik elo Kris," keluh Diki.
"Kalau mau asik sana sama Ayu ting-tong!" ketus Kris.
__ADS_1
Diki tertawa kembali, sumpah demi cicak yang merayap di ding-ding tapi kagak jatuh, si manusia batu hari ini menjelma menjadi pelawak, kaya tutul Nirwana.
"Hahaha, itu mah lagu dodol," ujar Diki sambil tertawa.
"Udah sana keluar, nanti usus elo putus ketawa mulu," Kris mengusir Diki kembali.
"Gak akan dong, gue udah punya minuman penangkalnya!"
"Minuman penangkal?" Kris menatap Diki dengan bingung.
"Cintai ususmu, minum----"
"Keluar cepat, pecah lama-lama kepala gue ngadepin orang kaya elo." pungkas Kris. Belum saja Diki selesai ngomong.
Bacanya jangan sambil nyanyi, niruin yang di iklannya ya😂😝
"Iya-iya gue keluar," pasrah Diki, ia berganti tertawa.
"Sik asik, Sik asik kenal dirimu, Sik asik Sik asik dekat denganmu," Diki bersenandung sambil melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Kris.
Kris hanya mengeleng-gelengkan kepalanya, melihat tingkah sahabatnya itu.
"Dosa apa ya gue? Sampe punya temen kaya gitu." gumam Kris.
Bersambung...
Lanjut gak... lanjut gak...
Like, komen dan Votenya dulu.
see u....
__ADS_1