
Dave tengah mengemudikan mobilnya, membelah jalan raya. Dave terlihat begitu sangat bersemangat, bagiamana tidak siang ini Dave akan bertemu Viola untuk makan siang bersama. Dave sengaja berjanjian di resto yang tak jauh dari kantor tempat Viola berkerja.
Sekitar menempuh waktu tiga puluh lima menit, akhirnya Dave--pun sampai. Namun saat ia hendak keluar dari mobilnya, ponsel Dave berbunyi. Terlihat satu pesan notifikasi masuk ke benda pipih canggih tersebut.
["Dave sorry, kayanya aku gak bisa dateng, ada urusan kerjaan. Sorry ya, lain kali aja."]
Dave membaca isi pesan dari Viola tersebut, perlahan senyuman Dave hilang, semangat 45 yang ia rasakan seketika hilang tak lagi di rasakan. Ada rasa kecewa dalam hatinya, karna tak jadi bertemu dengan Viola.
["Oh oke Vi, gak apa-apa. Next time harus jadi ya!"]
Dave membalas pesan dari Viola.
["Oke..."]
Dave menghelai nafasnya, kenapa coba Viola ngabarin sekarang, mana sekarang Dave sudah sampai di restonya lagi. Mau tidak mau Dave--pun masuk ke dalam resto tersebut, karna cacing yang ada di perutnya sudah meronta.
Dave duduk di kursi dekat jendela kaca resto tersebut, lalu ia memanggil pelayan. Pelayan tersebut menghampiri Dave, lalu mencatat pesanan Dave, dan berlalu...
Mata Dave menyapu setiap sudut resto tersebut, tidak ada yang menarik. Lalu ia beralih memandang kearah luar, mata Dave tertuju pada mobil yang baru saja berhenti tepat di depan resto tersebut. Seorang wanita keluar dari mobil tersebut dan di susul oleh satu orang laki-laki, mereka berjalan beriringan untuk masuk ke dalam resto tersebut.
"Viola..." ucap Dave pelan. Matanya terfokus kepada wanita itu.
"Loh bukannya itu bosnya?" Dave menghelai nafasnya, ada rasa bergejolak dalam hatinya melihat kebersamaan Viola dan Krisna.
"Jadi benar Viola sedang ada pekerjaan, tapi aneh juga perkejaan kok di waktu istrihat begini."
Tak lama kemudian, pesanan Dave datang. Pelayan meletakan semua pesanan Dave tersebut di atas mejanya.
"Salamat menikmati pak!"
"Terima kasih." Pelayan tersebut--pun berlalu.
Viola yang sedang berjalan, sekilas ia mendengar suara yang tidak asing di telinganya. Lalu pandanganya menyapu setiap sudut ruangan resto tersebut. Namun Viola tak menemukan suara yang ia kenali itu. Ya karna posisi Dave membelakangi Viola.
''*Gue seperti mendengar suara Dave. Tapi..."
"Ah apa perasaan gue saja. Huh jadi gak enak sama Dave." Gumam Viola*.
"Ada apa?" Tanya Kris, kepada Viola. Kris memperhatikan Viola yang sedari tadi seperti sedang mencari sesuatu.
"Emm, tidak pak!" jawab Viola, mengalihkan pandangannya kearah Kris.
Kris mengangguk, sambil tersenyum. Lalu mereka duduk di tempat yang sudah di sediakan resto tersebut. Viola dan Kris duduk saling berhadapan.
"Kamu mau pesan apa?" Tanya Kris, ia tengah membuka buku menu.
__ADS_1
"Emm, apa saja pak. Tapi yang porsinya agak gede.'' jawab Viola, sambil terkekeh.
Malu sih sebenarnya, tapi ya sudahlah. Dari pada nanti gak kenyang. Viola ingat terakhir ia makan bersama bosnya itu. Cuman di kasih daging panggang seuprit pula, cacing di perut Viola mana kenyang miskaaaa...
Kris terlihat menganggukan kepalanya, lalu ia memanggil pelayan resto, dan memesan makanan untuk ia dan Viola.
"Jadi kita langsung makan pak?"
"Iya.."
"Emm, terus setalah itu? Mana clien kita? Apa mereka belum datang? Kita kok cuman berdua?" Viola melontarkan pertanyaan bertubi-tubi kepada Krisna.
Bukannya menjawab, Kris malah tersenyum manis. Entah kenapa Kris kok jadi gemes liat Viola, lucu...Eh
"Astoge, dia senyum Nobita...! Apa ini yang di namakan kejaiban dunia yang ke delapan!" Gunam Viola.
Ya untuk pertama kalinya Viola melihat senyuman merekah dari bibir bos angkuhnya itu.
"Tidak ada clien, kita hanya makan siang saja. Tidak apa-apakan?" Viola hanya mengaggukan kepalanya.
Sumpah demi susu sapi, gambarnya beruang, iklannya naga, kalau kata kakaknya Anita. Kok tiba-tiba sikap My Presdir Angkuhnya itu manis sekali nobita, gula--pun lewat manisnya.
"Ini orang kenapa sih? Kok aneh banget hari ini? Apa bener-bener kejedot ya tuh kepalanya, manis banget hari ini baik pula, apa dia sedang bahagia? Apa udah dapat give away ya?" Gunam Viola, kepalanya berfikir keras mendapati sikap Kris yang berubah 200 derajat.
"Pak apa baik-baik saja?" Tanya Viola, "eh..." Viola langsung menutup mulutnya.
Kris mengangkat sebelah alisnya, netranya menatap heran kepada Viola.
"Maksud kamu?"
"Eh enggak pak." Viola memberikan senyuman kikuknya.
"Piyuh, sumpah kok gue ngeri ya? Sikap dia kaya gini." Gumamnya lagi.
Tak lama kemudian pelayan resto mengantarkan pesanan mereka. Kris dan Viola langsung menyantap makanan tersebut, karna memang mereka sudah lapar. Tak ada pembicaraan saat makan, mereka fokus menikmati makanan mereka. Hanya saja Kris mencuri-curi pandang kepada wanita yang duduk di hadapannya itu.
Kris merasa lucu, melihat Viola yang makan begitu lahapnya.
"Pelan-pelan," ucap Kris.
"Hehe, laper pak maaf, lagian ini enak-enak banget makannya." Viola berbicara dengan mulut yang penuh dengan makanan.
Kris hanya mengelengkan kepalanya, Kris merasa ada yang aneh pada dirinya. Biasanya Kris kesal melihat setiap tingkah Viola, tapi kenapa sekarang kok jadi gemes ya! Eh...
"Uhukk...Uhuk..."
__ADS_1
"Ya ampun, ini cepat minum." Kris menyodorkan minuman milik Viola, wanita itu sepertinya keselek.
Keselek cinta, wkwkwk...
"Saya-kan sudah bilang makannya pelan-pelan," lanjutnya, tanganya membantu Viola memegangi gelas tersebut.
"Maaf, terima kasih." ucap Viola, usai minum.
Kris mengambil tisu, lalu ia mengusap ujung bibir Viola. Yang terlihat ada sisa makanan disana. Kris mengusapkan tisu itu dengan lembut. Dengan mata yang menatap Viola teduh. Viola tertegun, ia merasa terkejut dengan sikap Kris. Kini jantung mereka mulai tidak normal. Mata mereka saling menatap satu sama lain.
"*Doraemon help me, kenapa jantungku berdisko-disko begini." Gunam Viola.
"Cantik, manis, menggemaskan. Tuhan rasanya aku ingin---" Gunam Kris.
"Stt, apa yang kupikirkan*."
Kris langsung memalingkan wajahnya, menurunkan tanganya yang masih mengusap lembut ujung bibir Viola dengan tisu. Begitu juga dengan Viola, wanita itu menundukan kepalanya. Mereka berdua terlihat salah tingkah.
"Ayo makan lagi..." ucap Kris dan Viola bersamaan. Mereka semakin salah tingkah dan gugup. Lalu keduanya tersenyum kikuk dan melanjutkan makan dengan perasaan yang tidak bisa diartikan.
Kris dan Viola mereka larut dalam pikirannya masing.
Kris menggerutu dirinya sendiri, sedangkan Viola, sumpah demi apa, dia agak ngeri.
Sedangkan dari sudut sana, sepasang mata. Menatap hampa kepada Viola dan Krisna, dengan perasaan yang bercampur aduk, Dave sedari tadi melihat kearah mereka.
Cemburu? Apa Dave berhak, sedangkan dia siapa? Pacar? Bukan, calon suami? Mimpi aja dulu.
"Mungkin memaksamu jatuh cinta kepadaku, adalah usaha terakhir yang kumiliki, sekalipun aku akan selalu sadar bahwa kamu sudah menaruh hati pada orang lain."
"Awal bukanlah akhir, aku akan berusaha membuatmu jatuh cinta padaku Vi..." ucap Dave, dengan lirih.
Ya iyalah bang Dave, awal bukalah akhir. Bocah juga tau kali, gemes deh author sama kamu...
Bersambung...
Sekian dan terima gajih.
Eh
Terima kasih.
Jangan lupa, like komen dan Votenya ya sayang-sayangku.
I love u, sekebon teh...
__ADS_1
Bye...
See u..