
Tak terasa akhirnya Viola--pun sampai di rumahnya. Dengan basah kuyup, ia turun dari motornya. Lalu berjalan menuju pintu rumahnya, dan mengutuk pintu rumah tersebut.
Tok tok tok
Klek..
Pintu terbuka, Bu Hanum yang membukakan pintu tersebut terkejut melihat Viola yang basah kuyup, wajah putri bungsunya itu juga terlihat pucat.
"Ya ampun Vio, ngapain kamu ujan-ujanan, udah tau ujan kenapa gak berhenti. Cari penyakit aja kamu, ayo masuk!" ucap Bu Hanum. Ia merasa khawatir dengan kondisi Viola, namun itulah cara penyampaian Bu Hanum. terkesan bukan khawatir tapi kesal, mohon di maklum itu udah wataknya.
Viola hanya diam, ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah tersebut.
"Ganti baju dulu sana, nanti ibu buatkan teh hangat buah kamu," titah Bu Hanum. Namun lagi-lagi Viola tak diam, ia tak bergeming, Viola terus melangkah menuju kamarnya.
Bu Hanum menatap bingung, ada apa dengan Viola? Tumben-tumbenan diam begitu, dingin macam es batu. Apa itu efek kehujanan ya? Pikirnya.
Bu Hanum langsung menggelangkan kepalanya, kenapa ia bisa berpikir seperti itu? Konyol memang. Lalu Bu Hanum pun bergegas menuju dapur, ia membuatkan teh hangat untuk Viola, serta membawa obat untuk Viola, obat penolak angin. Yang suka diiklankan di televisi. Usai itu ia segera menuju ke kamar Viola.
Sementara itu, Viola yang sudah berganti pakaian. Ia kini terlihat sedang bersandar di kepala ranjang. Kepala terasa berat, tatap Viola menerawang, namun tatapan tersebut terlihat kosong. Entah apa yang sedang di pikirkan Viola. Dengan wajah yang sangat pucat, rambut yang masih basah, membuat Viola terlihat sangat tidak bergairah.
Viola menoleh kearah pintu kamarnya, saat pintu itu terbuka. Sosok sang ibu terlihat masuk ke kamarnya itu, dengan membawa satu gelas besar teh hangat dan obat untuk Viola. Bu Hamun berjalan mendekati Viola, lalu memberikan teh tersebut dan juga obatnya.
"Ini minum dulu," Bu Hamun menyodorkan gelas yang berisi teh hangat tersebut, Viola meraihnya lalu meneguk teh tesebut.
__ADS_1
"Ini obatnya juga di minum. Kamu pasti masuk angin. Minum ini tolak angin--nya!'' Bu Hamun memberikan obat tersebut, usai membukanya.
Viola menurut ia meminum obat tersebut. Menolak angin itu rasanya enak, membuat tubuh kita sehat seperti semula. Tapi menolak Kris, kenapa tubuhnya menjadi sakit semua, bahkan bukan hanya tubuhnya hati dan jantungnya juga.
"Sudah sekarang kamu istirahat. Lagian kenapa sih kamu malah ujan-ujanan. Jadi beginikan. Besok itu acara pertunangan kamu dan Dave, kamu jangan sampai sakit. Tidurkan biar obatnya mempan!" ujar Bu Hanum. Viola mulai merebahkan tubuhnya, Bu Hanum menyelimuti Viola, setalah itu ia keluar dari kamar putrinya itu.
"Besok aku akan bertunangan dengan Dave! Ya tuhan kenapa rasanya aku ingin sakit saja, dan pertunangan itu di tunda, kalau bisa dibatalkan saja." ucap Viola.
Viola--pun mulai memejamkan matanya, rasa hangat dari selimut membuat rasa kantuk datang. Tak lama kemudian Viola pun terlempar ke dunia mimpinya.
***
Semantara itu, Dave, kedua orang tuanya, serta Adam dan Mila. Kini mereka tengah berkumpul. Dave yang keukeh ingin membatalkan pertunangannya dengan Viola mendapat tentangan dari kedua orang tuanya serta kakaknya dan Adam kakak ipar sekaligus kakak kandung Viola. Dave kini terlihat seperti seorang tersangka yang tengah dihakimi oleh mereka.
"Apa alasan kamu Dave sehingga kamu keukeh ingin membatalkan pertunangan kamu dengan Viola?" Tanya Adam. Sebenarnya Dave sudah menjelaskan semuanya, Deva mengatakan kepada mereka bahwa Dave tidak mencintai Viola tapi mencintai Anita kakaknya Viola. Namun Adam tak percaya, Adam yakin ada sesuatu yang tidak beres dengan Dave. Adam tau betul Dave seperti apa. Dan saat ini Adam tau Dave tengah berbohong kepadanya.
"Kak aku sudah bilang, aku tidak mencintai Viola! Aku mencintai Anita." Jawab Dave dengan tegas. Tegas diluar lembek di dalam. Hatinya menolak mengatakan hal tersebut.
"Papa gak habis pikir Deva sama kamu. Kamu sengaja mau mempermalukan kita semua hah? Dengar Dave undangan sudah di sebarkan. Kau paham?" Pekik papa Dave penuh amarah.
"Iya Dave yang dikatakan papa benar, kita tidak mungkin membatalkan semuanya," sahut Mila sang kak, ikut menimpalinya.
"Acara itu akan tetap berlangsung, kita tidak perlu membatalkannya,"
__ADS_1
"Maksud kamu apa Deva?" Sahut mamah Dave.
"Aku akan tetap bertunangan, tapi tidak dengan Viola." jawabnya.
"Lalu?" tanya mereka serentak.
"Anita," jawab Dave. "Aku mau bertunangan dengan Anita!" lanjutnya.
Mereka semua membulatkan matanya, menatap Dave tidak percaya. Apa Dave benar-benar mencintai Anita, sehingga dia ingin bertunangan dengan wanita itu.
"Tidak, itu tidak mungkin Dave. Anita kemarin ke kantor kakak, dia menceritakan semuanya. Bahkan dia marah saat kamu bilang mencintainya. Anita tidak mungkin mau bertunangan dengan kamu, dia tak mencintai kamu, kakak kenal siapa Anita, bagiamana Anita karna dia adik kandung kakak!" tutur Adam.
"Kita belum mencobanya kak, jika kalian ingin tetap pertunangan itu terjadi, maka rayu Anita agar mau bertunangan denganku!" tegas Dave, lalu ia berajak dari hadapan mereka.
'Sial kenapa jadi seperti ini, maafkan aku Viola. Bukan aku tidak mau memperjuangkan kamu, tapi ini semua demi keluargaku. Dan untukmu Anita maafkan aku juga, aku membuatmu terlibat dalam masalahku,' gumam Dave.
Bersambung...
Jangan lupa like, komen dan Votenya oke...
Komen yang banyak, kalau mau author crazy up.
Like, komen dan Vote kalian semangatku.
__ADS_1
Yuhuuuu...
Thank you.