
Kris dan Viola pun meninggalkan Gedung kantor cabang YS Grup tersebut. Kris melajukan mobilnya membelah jalan raya, yang terlihat cukup padat. Karna sekarang tepat jam istirahat.
Tidak ada pembicaraan di dalam mobil itu, Kris fokus mengemudikan mobilnya, sedangkan Viola wanita itu memandang ke arah samping kaca mobil, menikmati perjalan tersebut.
Tak lama kemudian Kris membelokan laju mobilnya, membuat Viola bingung, Viola menoleh kearah bosnya itu.
"Maaf pak, kita mau kemana ya? Ini bukan jalan menuju kantor?" Tanya Viola.
"Saya tau!" Jawab Kris, seperti biasa tanpa dingin dan datar. Berbicara tanpa menoleh kearah Viola.
"Terus?" Viola mengerutkan kedua alisnya.
"Apa kamu bisa diam!"
Viola mendengkus kesal, benar-benar harus banyak sabar menghadapi bosnya, yang satu ini.
Kris menghentikan mobilnya di sebuah pusat perbelanjaan yang terkenal di kota tersebut. Viola tak membuka suaranya, terserah bosnya itu mau membawanya kemana. Lagian kalau bertanya juga percuma, yang ada Viola malah naik darah kalau bicara dengannya.
"Turun." Titah Kris, usai ia memarkirkan mobilnya di basmen mall tersebut.
Viola langsung menurut, ia pun turun dari mobil tersebut. Di ikuti oleh Kris.
Kris berjalan memasuki pusat perbelanjaan itu, Viola setia mengekor di belakang Kris, walau pun hatinya gregetan ingin bertanya, namun Viola menahannya.
Mereka masuk ke sebuah toko pakaian formal.
"Oh dia mau beli baju!"---Batin Viola.
Seorang pelayan toko mengahampiri mereka.
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya dengan ramah dan sopan.
"Carikan pakaian kantor yang bagus, cocok untuk dia." Jawab Kris, kepada pelayan toko itu, sambil menoleh kearah Viola.
Viola terlihat membulatkan mata menatap kearah Kris.
"Maksud bapak saya?" Viola menunjuk dirinya sendiri.
"Memang saya bawa orang lagi?" Kris berbalik bertanya, Viola langsung mengelengkan kepalanya.
"Mari mbak ikut saya!" Pinta pelayan toko tersebut.
__ADS_1
"Tapi pak---" Viola menatap tak percaya kepada Kris.
"Cepat." Kris menatap tajam Viola, membuat Viola akhirnya pasrah, dan mengikuti langkah pelayan toko tersebut.
"Silahkan di pilih mbak, mau yang mana?" Tanya pelayan toko itu, kepada Viola. Sambil memperlihatkan koleksi pakaian formal milik toko tersebut.
Viola tersenyum lalu mengangguk, Viola mulai memilih pakai-pakai itu, modelnya bagus-bagus. Memang sangat cocok dengan kriteria seorang Viola, pelayan toko itu seperti sudah paham dengan keinginan setiap konsumen-nya.
"Wah ini bagus banget." Ucap Viola dalam hatinya.
Namun detik kemudian wanita itu membulatkan matanya, "What? Harganya gila!!!"
Viola kembali menaruh pakaian itu ke tempatnya, setelah melihat bandrol harga pakaian yang ia sukai itu. Rasanya bulu kunduk Viola seketika berdiri tegak.
Satu setel pakaian itu harganya sampai jutaan.
Uang dari mana dia? Jika punya uang pun sepertinya Viola mikir-mikir lagi buat membelinya. Emang sih ada harga ada kualitas. Tapi bagi seorang Viola, jika mengutamakan hal tersebut, gak mungkin.
"Lebih baik aku beli baju serba 35 ribu di pasar, sejuta aja bisa dapat banyak. Ini sejuta satu potong doang. Tidak miskah, aku tidak kuat." --Gunam Viola, sambil menggubiriskan bahunya.
Sudah hampir satu jam Viola memilih-milih pakaian yang ada di toko itu, pelayan toko yang sedari tadi menemani Viola pun merasa sangat kewalahan. Ditawarin ini gak mau, ditawari itu gak mau. Maunya apa sih ini orang? Mungkin pelayan toko itu dalam hatinya menggerutu seperti itu.
Sebenarnya bukannya Viola gak suka dengan pakai-pakaian yang ditawarkan oleh pelayan toko itu, tapi Viola lagi nyari harga yang agak-agak miring. Maksudnya ramah di kantong, lebih tepatnya murce, murah cekali. Tapi sayangnya tidak ada yang cocok dengan harga kantong Viola. Ya iyalah wong ini Brand ternama.
"Wanita memang selalu menyebalkan, pantas saja laki-laki selalu menolak jika di suruh nemenin belanja. Stt, gue ngalamin sekarang. Lama banget, ngapain aja sih dia." Ucap Kris pelan, saking pelannya ucapannya itu hanya terdengar oleh dirinya sendiri.
Kris pun memutuskan untuk menyusul Viola. Viola yang melihat kedatangan Kris itu, memberikan cengiran kuda lumping-nya.
"Eh bapak..."
"Apa sudah selesai?"
Viola menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Boro-boro selesai, dapet satu aja belum. Lagian kenapa situ bawa gue ketempat Sultan kaya begini. Jiwa missquuen gue meronta-ronta, cuman gigit jari liatin ini kain yang bergelantungan."--Gunam Viola.
"Maaf pak, mbaknya dari tadi cuman pilih-pilih saja." Sahut pelayan toko, memang sedikit nyelekit perkataannya itu, kaya cabe satu nyempil di bakwan, pas ke gigit kepedasan, itulah yang Viola rasakan, saat mendengar perkataan pelayan toko tersebut.
Namun apalah daya itu memang keyataannya. Terkadang kenyataan sangat menyakitkan. Hiks...
"Memalukan." Ucap Kris, memancingkan matanya kepada Viola.
__ADS_1
"Bungkus semua pakaian yang tadi dia pilih sekarang, dan bawa kekasir." Lanjut Kris, kepada pelayan toko, dan pelayan toko itu langsung mengangguk menuruti permintaan Kris.
Kris berjalan menuju kasir, Viola mengikuti bosnya itu.
"Pak tunggu, pak..." Viola mempercepat langkahnya, menyusul Kris.
"Apa dia sudah gila? Bayar pake apa gue nanti. Pake daun? Lagian di mall gak ada daun lagi. Aaahh bagaimana ini??!! Bos syinteeeng..." Gerutu Viola dalam hatinya.
"Ini pak total belanjaannya semuanya jadi, 18 juta." Ucap kasir toko tersebut, sambil memberikan feper bag yang berisi baju-baju untuk Viola.
Kris mengeluarkan dompetnya, lalu memberikan kartu Black-cart kepada kasir tersebut.
"What?! Jadi dia bayarin belanjan gue. Ah tau gitu gue tadi pilih banyak aja. Sial, Doraemon datanglah, gue mau pinjem mesin waktu elo." --Batin Viola.
"Nih..." Kris memberikan ferper bag tersebut kepada Viola. Viola menerima-nya. Lalu Kris berjalan langsung terlebih dahulu keluar dari toko tersebut.
"Terima kasih pak." Ucap Viola, dengan senyuman yang meeka di wajah cantiknya.
"Itu tidak gratis, gajih kamu saya potong 20 persen setiap bulannya."
"Apa?" Viola membulatkan matanya. "Gak bisa gitu dong pak, saya-kan gak minta buat di beliin sama bapak."
Viola terlihat kesal, bisa-bisanya bosnya itu, memutusakan memotong gajihnya secara sepihak! Tidak, ini tidak boleh di biarkan, Viola harus mendapatkan apa yang menjadi haknya. Apa-apaan, 20 persen dari gajihnya di potong setiap bulan.
"Lagian kenapa bapak membawa saya ke tempat kaya begituan. Pokoknya saya gak mau pak. Ini ambil saja bajunya sama bapak." Lanjut Viola, sambil menjatuhkan feper bag itu di depan Kris. Viola melipat kedua tangannya di depan dada, dengan bibir yang mengerut, mirip seperti Nobita lagi merajuk.
Kris memejamkan matanya sekejap, apa-apa gadis ini, kelakuannya sudah seperti anak kecil saja. Sudah mengoceh kaya burung beo, merajuk pula. Lama-lama gue tampol elo Viola.
"Ambil." Titah Kris. Menyuruh Viola untuk mengambil feper bag itu kembali.
"Tidak." Jawab Viola sok angkuh, dan gak butuh.
"Ya sudah buang saja." Kris kembali melanjutkan langkahnya. Viola menghentakkan kakinya, kesal.
Lalu Viola mengalihkan pandangannya kepada feper bag itu, kalau di buang sayang. Kalau di ambil mubazir uang. Ambil aja deh, lumayan.
Viola pun mengambil feper bag itu, lalu berlari mengejar Kris. Kris terus berjalan tanpa menghiraukan Viola, sebenarnya Kris hanya bercanda akan memotong gajih Viola, untuk membayar belanjaan-nya itu. Lagian jadi wanita Viola gak PeKa.
Apa dia gak tau bosnya itu siapa? Krisna Yudistira. Uang 18 juta mah Segede upil buat Krisna. Kekayaannya gak akan habis dimakan tujuh turunan, delapan tanjakan, sembilan belokan, dan sepuluh tikungan. Tolong di camkan!!
Bersambung....
__ADS_1
Like, komen dan Votenya ya guys...
Terima kasih.