
"Kak boleh aku bicara sama kakak sebenatar?" Tanpa menunggu jawaban dari Anita, Viola langsung menarik tangan sang kak. Anita hanya pasrah dan mengikuti langkah sang adik menuju kamarnya.
Viola menutup rapat-rapat pintu kamarnya, agar kedua orang tuanya, serta Adam tak mendengar percakapannya dengan kakaknya itu.
"Dek, ini gak seperti yang kamu banyangkan," ucap Anita, ia memegang erat tangan Viola. Jujur saja Anita takut, takut kalau sampai Viola berpikir yang tidak-tidak.
"Aku akan menjelaskan semuanya Vio," sambung Anita. Matanya terlihat berkaca-kaca.
Viola terdiam, ia menatap lekat wajah kakaknya itu, lalu Viola menghambur memeluk Anita. Diluar dugaan Anita, ia sedikit terkejut, tiba-tiba Viola memeluknya.
"Terima kasih kak," ucap Viola dengan lirih. Isakkan tangis terdengar dari bibirnya.
Anita diam mematung, sungguh ia tak mengerti, kenapa adiknya malah berterima kasih? Hey Viola, kakakmu itu sudah merebut calon tunangan kamu, kenapa kamu malah berterima kasih.
Anita melepaskan pelukan adiknya perlahan, "Vio, kenapa elo malah berterima kasih, gue mau tunangan sama Deva." Tutur Anita, Anita sengaja menekan kata ' Tunangan', untuk menyadarkan Viola.
"Iya kak gue tau. Gue berterima kasih sama elo. Karna elo mau gantiin posisi gue!" Ucap Viola seraya mengelus senyumannya manisnya.
"E--elo gak marah sama gue?" Viola langsung menggelangkan kepalanya.
"Kenapa harus marah? Kak elo taukan perasaan gue ke Dave itu gimana selama ini? Sampe detik ini gue gak sama sekali bisa mencintainya, gue menganggap Dave kaya teman gue sendiri," jelas Viola.
Anita merasa lega, syukurlah. "Gue kira elo bakalan marah Vio, gue udah deg-degan aja tau!" Ketus Anita.
"Ck, lebay elo kak!" Ledek Viola, "ngomong-ngomong kok bisa elo gantiin posisi gue? Apa elo semala ini emang main belakang sama Dave hemm?" Tanya Viola, Viola sengaja menggoda kakaknya. Padahal ia tak kakaknya tidak mungkin hal serendah itu.
__ADS_1
"Sialan elo, ngomong dijaga ya! Walaupun gue jomblo akut, gue gak ada niatan buat rebut milik orang!" Pekik Anita, ia merasa tak terima dengan ucapan sang adik.
"Hehe, gue becanda kali kak. Eh iya elo yakin mau gantiin posisi gue?"
"Gak gue gak yakin, asal elo tau ya! Gue kepaksa ngelakuin ini, kalau gak inget sama ibu, bapak dan kak Adam. Gue ogah gantiin elo. Untung saja cuman tunangan, kalau nikah gue mending bunuh diri aja." Kesal Anita.
"Ck, bunuh diri. Bunuh diri di toge.''
"Iyalah, biar mati suri gue!"
"Mana bisa mati bege, gantung diri di pohon toge, yang ada togenya patah duluan,"
"Udah ayo samperin mereka lagi, nanti gue ceritain semuanya." Lanjut Anita. Viola langsung menganggukan kepalanya.
Mereka--pun keluar dari kamar Viola tersebut, kedua orang tua mereka serta sang kak, yaitu Adam. Menatap mereka penuh tanya. Dalam pikiran mereka, Viola dan Anita tengah bertengkar hebat. Merebutkan Dave.
'Loh kok mereka tidak babak belur?' gumam Adam bertanya pada dirinya sendiri. Adam berpikir jika kedua adiknya itu, akan main jambak-jambakan, atau tinju-tinjuan. Mengingat kedua adiknya itu sama-sama mempunyai sikap yang bar-bar. Tapi Anita tak se--bar-bar Viola adik bungsunya.
Sedangkan kedua orang tua mereka, ibu Hanum dan pak Arga. Mengulas senyuman mereka, melihat kedua gadisnya itu terlihat baik-baik saja. Mereka yakin kedua putrinya itu sudah sama-sama dewasa, tidak mungkin keduanya melakukan hal konyol, yang sempat terbesit di benaknya.
"Ka--kalian, baik-baik sajakan?'' tanya Adam sedikit terbata-bata.
Viola dan Anita saling melemparkan pandangan mereka, mereka merasa aneh dengan pertanyaan yang kakak sulungnya itu lontarkan.
"Kita baik-baik saja kok!" Jawab Anita dan Viola secara bersamaan.
__ADS_1
"Vio, kamu gak apa-apa? Kamu gak marah Anita menggantikan posisi kamu?" Cerca Adam.
"Kak, aku gak apa-apa kok. Lagian kalau Dave maunya sama kak Nita, Vio bisa apa?" Ungkap Viola.
"Sudah-sudah, bapak yakin kedua adikmu itu sudah dewasa Adam, mereka tidak mungkin melakukan apa yang sedari tadi kamu pikirkan," sahut pak Arga. Pak Arga tau apa yang di maksud Adam, apa yang ada dipikiran Adam. Karna pada awalnya ia pun sempat memikirkan hal itu.
"Baiklah, kalau begitu Adam permisi dulu pak, Bu." Pamit Adam.
"Vio, Nita, kakak pulang dulu," lanjutnya berpamitan kepada dua adiknya itu. Mereka semua menganggukan kepalanya.
"Hati-hati kak," pesan Viola. Dijawab anggukan oleh Adam.
"Asalamua'allaikum."
"Walaikum'salam."
Adam--pun berlalu meninggalkan rumah kedua orang tuanya itu. Ada perasaan lega di hati Adam. Syukurlah semuanya baik-baik saja. Tidak seperti yang ia pikirkan. Adam bangga kepada kedua adiknya itu, adik-adik kecilnya dulu, kini sudah bisa bersikap dewasa.
Usai kepergian Adam, pak Arga dan Bu Hamun, berpamitan kepada dua anak gadisnya itu. Malam sudah makin larut mereka memutuskan untuk beristirahat.
Dan Viola serta Anita, kini mereka tengah berada di kamar Viola. Malam ini mereka akan tidur bersama. Anita akan menceritakan semuanya kepada Viola. Begitu juga Viola, ada yang ingin ia bicarakan dengan kakaknya itu.
Bersambung...
Jangan lupa like, komen dan Votenya ya.
__ADS_1
Terima kasih.