My Presdir Arogan

My Presdir Arogan
Episode 75


__ADS_3

“Saya denger ya kamu bicara apa barusan,” sahut Kris dengan wajah datarnya, menoleh kearah Viola yang berjalan di belakangnya itu.


“Terus? Kenapa hmm? Keberatan itu memang faktanya kali Pak!” jawab Viola sengit. Tak mau kalah.


Kris menghelai napasnya, sambil berpikir keras.


Bukanya mereka sekarang sudah resmi pacaran? Tapi kenapa selalu saja begini, sifat meraka memang sangat bertolak belakang.


“Oke! Sorry,” ucap Kris. Ya, mungkin mulai saat ini ia harus mengurangi sikap yang sedikit arogannya itu, eh bukan sedikit sih, banyak mungkin. Tapi...


Sial, diakan laki-laki, apa tidak akan terlihat lemah di mata Viola, jika ia mengalah seperti ini? Kris rasanya bingung sendiri, antara gengsi dan cinta. Ah sudahlah, membuat pusing saja. Pikir Krisna.


“Hah, apa aku tidak salah dengar? Barusan dia minta maaf?” batin Viola. Tatapannya menatap Kris dengan tatapan yang tidak di mengerti oleh Krisna.


“Ayo cepat!” ajak Kris kembali, seraya mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobil.


Viola hanya mengangguk, lalu ikut masuk ke dalam mobil tersebut. Viola menganggukan kepala yang tidak gatal. Dia merasa konyol sendiri.


Kris mulai melajukan mobilnya, meninggalkan halaman rumah tersebut. Dalam perjalanan Viola sama sekali tak bersuara, begitu pun dengan Kris, ia hanya fokus mengemudikan mobilnya.


Bahkan Viola tak bertanya, mau kemana Kris membawanya.


Hingga tak lama kemudian, Kris mengehentikan laju mobilnya. Viola mengerutkan keningnya, lalu menatap Kris heran.


“Lho kok ke kantor sih?” tanya Viola.


“Mau ngapain?” lanjutnya.


Kris melepaskan selbelt-nya, lalu menatap kearah Viola.


“Kenapa? Gak suka?” Bukanya menjawab pertanyaan Viola, Kris malah berbalik bertanya pada Viola.


Viola mengelengkan kepalanya pelan, enggak sih, bukanya gak suka! Cuman ya mau apa? Secara Viola udah gak kerja lagi di sana. Terus mau ngapain gitu? Apa salah Viola bertanya seperti itu?


“Ayo turun,” ajak Kris. Laki-laki itu terlebih dahulu keluar dari mobil.


Viola hanya mengangguk, menurut, sambil menggerutu dalam hatinya.


“Benar-benar menyebalkan, tidak ada romantis-romantisnya. Coba kaya orang-orang gitu! Bukain pintu mobil kek, apa kek! Huh, meresahkan!” ucap Viola dalam hatinya.


Kris yang sudah berdiri di luar mobil tersebut, langsung menghampiri Viola, lalu menggenggam tangan wanita itu.

__ADS_1


Viola terkejut, eh apa maksudnya? Bertanya-tanya dalam hatinya. Viola sama sekali tidak mengerti apa yang akan dilakukan oleh Kris saat ini. Membawa Viola masuk ke dalam kantornya, dengan tangan yang saling menggenggam.


Viola begitu sangat penasaran, tapi ya sudahlah.


Jika pun ia bertanya, Kris pasti tidak akan menjelaskannya. Mungkin saat ini dia akan menuruti saja, apa keinginan kekasihnya itu.


Namun di balik itu semua, Viola mulai merasakan detak jantungnya berdetak tak karuan.


Apa lagi saat mereka melangkah masuk ke dalam kantor tersebut. Tatapan para karyawan Kris, seakan bertanya-tanya, terlebih melihat sang Presdir itu, tanganya saling bertautan dengan Viola.


Mereka begitu penasaran, tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa, apa lagi bertanya. Mereka memilih diam saja, dengan jiwa kekepoan mereka yang meronta-ronta, ekor mata mereka tak lepas melihat Kris dan Viola hingga keduanya berlalu memasuki lift khusus.


“Hey, bukannya itu Bu Viola?” tanya salah satu karyawan pada temannya. Usai melihat Kris dan Viola memasuki lift.


“Iya, bukannya dia sudah tidak kerja lagi di sini ya? Ngapain dia ke sini, terus tadi mesra benget lagi sama Pak Kris!” sahut temannya.


Saat ini Kris dan Viola menjadi trending utama, bahan ghibah mereka semua. Jiwa kekepoan mereka yang meronta-ronta, membuat mereka gelap mata, bahkan menunduk Viola yang tidak-tidak.


Semantara itu, Viola dan Kris kini sudah berada di ruangan kerja—Kris. Viola duduk di sofa yang ada di ruang tersebut, sedangkan Kris, dia duduk di kursi kebesaran-nya dan tangan mulai membuka leptop yang berada di depannya.


“Pak, sebenarnya mau apa sih? Ngapain aku di ajak ke sini?” tanya Viola. Kesal rasanya, dia hanya duduk di sofa memperhatikan Kris yang terlihat fokus dengan pekerjaannya.


Kris mengalihkan pandangannya pada Viola, lalu ia tersenyum tipis. Melihat senyuman tipis Kris, membuat Viola yang tadinya kesal, menjadi salah tingkah.


Setelah itu Kris berajak dari kursi kebesaran-nya. Lalu berjalan mendekati Viola. Viola masih menatap Kris yang berjalan kearahnya itu, sampai laki-laki itu duduk tepat di samping Viola, dengan jarak hanya satu centi saja.


“Saya cuman mau kamu nemenin saya kerja di sini, kamu keberatan?” jawab Kris, dan bertanya pada Viola.


“Kalau kamu gak mau, biar saya antar lagi pulang,” lanjut Kris. Ia berbicara sangat lembut dan hangat.


Membuat Viola semakin gugup di buatnya. Sumpah demi apa pun, saat ini jantung Viola ingin segara copot rasanya.


“Mau pulang?” tanya Kris kembali, karna tak mendengar Viola menyahut ucapannya.


Dengan cepat Viola menggelengkan kepalanya, enggak maulah, ini momen langka bagi Viola, mendapati sikap Kris yang lembut dan hangat padanya. Kapan lagi coba?!


Kris melebarkan senyumnya, lalu mengangkat tangan kearah kepala Viola, Kris mengusap lembut puncak kepala Viola.


Viola menundukkan kepalanya, ah sudahlah ia sudah tidak bisa berkata apa-apa. Yang pasti saat ini Viola lagi di mabuk cinta, dan merasakan bahagia yang luar binasa, eh salah luar biasa maksudnya.


“Ya sudah saya lanjut kerja lagi,” ucap Kris diangguki oleh Viola. Setalah itu Kris berajak kembali menuju meja kerjanya.

__ADS_1


“Eh tunggu Pak!”


Kris menghentikan langkahnya, dan menoleh pada Viola, dengan alis sebelah alis terangkat. Menatap Viola, dengan tatapan penuh tanya.


“Aku lapar,” ucap Viola, lalu tersenyum kikuk. Viola merasakan cacing di perutnya sudah meronta-ronta. Ini sudah siang dan perut Viola belum terisi apa-apa.


Kris melihat kearah jam tangan yang ada di pergelangan tangannya, waktu sudah menunjukan jam makan siang.


“Baiklah, ayo kita makan bersama. Mau makan dimana? Di sini atau di luar?”


“Di sini aja Pak!” jawab Viola.


“Oke, saya akan pesan makanan untuk kita. Tunggu saja.”


Viola menganggukan, sebenarnya ia merasa tidak nyaman berduaan dengan Kris di sana. Tapi, kalau makan di luar, malas juga! Apa lagi pas keluar nanti, melewati para karyawan Kris. Tadi saja, tatapan mereka terlihat sangat mengerikan bagi Viola.


Ya sudah, cari aman saja.


Kris kembali melanjutkan pekerjaan, usai memesan makanan untuk Viola dan dirinya. Sementara Viola, ia memainkan ponselnya. Sebisa mungkin Viola berusaha tetap tenang di sana. Jangan terlihat gugup.


Pikirnya.


Sebelumnya...


Tadi pagi seperti biasa, Kris sudah sampai di kantor dan mulai melakukan perkejaan. Namun ia tidak bisa fokus, karna teringat terus dengan Viola.


Setalah berpikir lama, Kris nekat ia memutuskan untuk ke rumah Viola, bahkan karna terlalu bersemangat, Kris sampai lupa mengabari Viola.


Kris seperti memang sangat merindukan Viola, bahkan rasanya saat ini Kris tidak bisa jauh-jauh dari Viola.


Dengan mata yang menatap layar leptopnya, namun pikiran Kris masih tidak fokus pada perkerjaan. Sadari tadi ia diam-diam curi pandang pada Viola, yang tengah asik memainkan ponselnya.


Kris heran pada dirinya sendiri, padahal Viola udah ada di sana, tapi kok masih saja ia tidak bisa fokus berkerja.


“Apa aku cepat halalkan dia saja ya?” batin Kris, sambil menatap Viola, dengan sudut matanya.


Bersambung....


Maaf teman-teman, Up nya lama😥


Jangan lupa like, komen dan Votenya ya.

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2