
Sebelum Diki keluar rumah mewah milik Yudistira tersebut, Diki berjalan terlebih dahulu ke kamar kecil, ada cairan yang ingin di buang, dan tak kuat lagi untuk Diki tahan.
"Huh, lega!!!!" Serunya usai keluar dari WC tersebut.
Diki pun berjalan keluar rumah, tapi masa iya sih dia pergi sendiri, mau kemana coba? Bertemu dengan Viola, tidak mungkinlah. Diki-kan tidak berjanjian dengan wanita itu, dia hanya membohongi Kris biar ikut bersamanya, namun nyatanya manusia batu itu tidak mau ikut.
Diki membuang nafas beratnya, "ya udahlah jalan sendiri saja, sekalian cuci mata!" Ucapnya, lalu Diki pun masuk ke dalam mobilnya.
"Eh kucing kawin, eh elo ngapain di situ? Ngagetin gue aja!" Bentak Diki, terkejut melihat Kris yang sudah duduk manis di dalam mobilnya.
Kris tidak menjawab, ia hanya menoleh kearah Diki sekilas, dengan wajah datarnya.
"Elo mau ikut, tadi katanya kagak mau. Ck, sok jaim!" Ledek Diki.
"Jalankan mobilnya." Titah Kris.
Diki--pun mulai menjalankan mobilnya, keluar dari halaman rumah papah King itu. Melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, membelah jalan raya yang terlihat padat, pemandangan yang sudah biasa. Apa lagi sekarang hari Minggu, sudah pasti banyak orang-orang yang pergi keluar untuk jalan-jalan, menikmati akhir pekan mereka. Pergi bersama pasangan mereka atau-pun dengan keluarga.
"Mau kemana kita?" Tanya Diki, matanya masih fokus kejalanan.
Kris menatap heran, "bukanya kita mau ketemu Viola?"
"Hehe," Diki memberikan cengiran kuda, sambil menggaruk tengkuak yang tidak gatalnya.
Tatapan Kris berubah tajam, "elo nipu gue?"
"Hehe, sedikit!"
Kris mendengus kesal, "putar balik mobilnya, kita kembali kerumah!" Titahnya.
"Hais, tidak bisa! Kita jalan-jalan saja, sekali-kali apa jangan di rumah terus wekeendnya. Kau macam authormu saja weekend gak pernah kemana-mana!"
Set dah bocah ngapain bawa-bawa gue, kalau gue weekend keluar cerita elo kagak kelar-kelar!🙄
__ADS_1
Kris tak menjawab, membiarkan Diki melajukan mobilnya. Ada benarnya juga sekali-kali weekend dengan jalan-jalan, ya walaupun tidak ada tujuan.
Tak ada percakapan lagi, Diki fokus mengemudikan mobilnya, sedangkan Kris ia fokus memainkan ponselnya.
Tak lama kemudian mereka pun sampai di salah satu pusat perbelanjaan yang ada di kota tersebut. Kris dan Diki langsung memasuki pusat perbelanjaan tersebut.
Diki mengamati semua pengunjung yang ada di mall tersebut, kebanyakan pengunjung mall tersebut bergandengan dengan pasangannya.
"Lihatlah Kris," ucap Diki.
"Apa?" Tanya Kris. Diki tak menjawab Kris, ia langsung mengandeng tangan Kris.
"Apaan sih elo!" Kris langsung melepas tangan Diki dengan kasar.
"Biar sama kaya orang-orang, gandengan gitu!"
"Amit-amit, gue masih normal." Bentak Kris, ia langsung berjalan mendahuli Diki.
"Woy tunggu!" Teriak Diki, berlari kecil menyusul Kris.
"Kenapa elo jalan cepat banget sih, kaya kuntilanak aja elo!" Ucap Diki, dengan nafas ngos-ngosan, berusaha berjalan mengimbangi langkah sahabatnya itu.
"Sejak kapan kuntilanak berjalan? Dan sejak kapan kuntilanak itu berubah gender jadi laki-laki?" Tanya Kris.
Diki menggaruk kepala yang tidak gatal, "iya juga ya! Sejak kapan? Dan itu kuntilanak bisa punya daster, dari mana ya?" Ucap Diki, berbalik bertanya.
Kris hanya menggelengkan kepalanya, sambil terus mengayunkan kakinya berjalan.
"Bentar-bentar!" Ucap Diki, ia menghentikan langkahnya, begitu juga dengan Kris.
"Ada apa?" Tanya Kris.
"Bentar gue lagi mikir, itu kuntilanak siapa yang beliin daster gitu? Serius gue nanya!"
__ADS_1
Lagi-lagi Kris mengelengkan kepalanya, sambil menghelai nafas kesal, bagaimana ia mempunyai sahabat macam ini? Tingkat kewarasannya kurang.
"Pikir aja sendiri!" Ucap Kris, lalu melangkahkan kakinya kembali.
"Eh bentar-bentar! Tunggu!"
"Apa lagi?" Kris kini menatap tajam Diki.
"Itu liat, itu..."
"Apa ada kuntilanak?"
"Hais, bukan. Itu lihat!" Ucap Diki, pandanganya mengarah lurus kedepan.
"Ngomong yang jelas! Ada apa? Kuntilanaknya berubah dasternya jadi bunga-bunga?"
Diki mengelengkan kepalanya, "elo kuntilanak Mulu deh, ini bukan kuntilanak!"
"Terus?"
"Bidadari tak bersayap!"
Kris tersenyum tipis, "bidadari tak bersayap? Cacat dong!"
"Astaga Krisna Yudistira, lihat itu siapa?'' Diki membalikan bahu Kris.
Kris tertegun, melihat wanita yang tengah berjalan kearahnya, dengan senyuman yang mengambang, wanita itu melambaikan tangannya kearah Kris dan Diki.
Bersambung.
Ngopi yuk, bagi kopinya ya!
Kita weekend sambil ngopi. hehe.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan Votenya juga yesss...
Terima kasih.