
Tiga hari berlalu.
Setiap pulang kerja Viola selalu menyempatkan menjenguk Dave yang masih di rawat di rumah sakit tersebut. Mereka semakin akrab, rasanya Dave semakin ingin cepat memiliki Viola, apa lagi Viola selalu memberikan perhatiannya selama ia sakit.
Sore ini Dave sudah di perbolehkan pulang dan Viola merasa sangat senang. Gadis itu berjanji akan ikut menjemput Dave pulang, setalah ia pulang dari kantor.
Namun disisi lain, Kris selama tiga hari itu pula, menjadi uring-uringan gak jelas. Pikiranya selalu tertuju kepada Viola, malah diam-diam Kris lalu mengikuti Viola saat gadis itu ke rumah sakit untuk menemui Dave. Hatinya selalu dihantui perasaan aneh saat melihat kedekatan Viola dengan Dave.
Viola membereskan pekerjaannya lebih awal, karna hari ini ia sudah berjanji akan ikut menjemput Dave bersama kedua orang tuanya, kakak-kakaknya dan juga orang tua Dave.
Cukup ramai memang, entah kenapa orang tua Viola juga ikut serta, bahkan setelah menjemput Dave mereka akan sekalian makan malam bersama, nantinya di rumah orang tua Dave.
Sore--pun tiba, Viola sudah bersiap-siap untuk pulang. Viola membereskan terlebih dahulu meja kerjanya. Seseorang terlihat memasuki ruangan Viola tanpa permisi.
Viola terlonjak kaget, saat melihat Kris sudah berdiri dihadapannya.
"Mau kemana kamu?" Tanya Kris, dengan wajah datar dan ekspresi wajah dingin.
__ADS_1
"Pulang pak!'' jawab Viola apa adanya.
Dalam hati Kris mengumpat, kenapa dia memberi pertanyaan konyol kepada Viola, menanyakan dia mau kemana, yang jelas-jelas dia tau kalau sekarang jam pulang kantor. Dasar bodoh!!
Kris menjadi salah tingkah sendiri.
"Oh iya ada yang ingin saya bicarakan, apa kamu bisa ikut saya sebentar," ajak Kris.
Viola terlihat bingung, wanita itu berpikir sejanak. Ada apa kok tumben-tumbenan ini bos baik, pasti ada udang di balik bakwan. Gak Viola gak mau membuang wanktunya, karna Adam sudah menunggunya di depan kantor.
"Maaf pak, saya tidak bisa. Saya buru-buru," tolak Viola, ia segara berjalan keluar dari ruangannya.
Selama ini tidak ada orang yang berani menolak permintaannya. Apa dia tidak tau Kris siapa?
Viola menghentikan langkahnya, ia menoleh kearah Kris. "Maaf pak, saya rasa jam kerja saya di kantor sudah habis, jadi saya berhak menolak permintaan bapak. Saya permisi," tegas Viola. Ia segara berjalan kembali.
Kris terlihat sangat kesal, "Sial berani sakali dia bicara seperti itu kepadaku. Lihat saja akan aku pastikan besok kamu tidak akan bisa melangkahkan kaki lagi di kantor ini." Umpat Kris, kesal dah marah.
__ADS_1
Ya niatnya, hari ini Kris ingin berbicara sesuatu kepada Viola mengenai kegundahan yang ia rasakan beberapa hari ini.
Viola tak menghiraukan Kris, ia terus berjalan. Sebenarnya ada rasa tidak enak, tapi ia mengingat lagi kakaknya sudah menunggunya sedari tadi.
Mobil Adam terlihat sudah menunggu di depan kantor tempat Viola berkerja itu. Tak membuang waktu Viola langsung masuk ke dalam mobil Adam.
"Maaf ya kak, menunggu lama," ucap Viola.
"Udah biasa kok, kamu selalu buat kesel kakak," ketus Adam.
Viola hanya memutar bola matanya memalas, emang iya sih, bener yang di katakan oleh kakak tertuanya itu. Mobil Adam--pun melaju menuju rumah sakit.
"Oh iya kak, kak Anita, ibu sama bapak bukannya mereka mau ikut jemput Dave juga ya?"
"Iya, mereka sudah duluan. Tapi supir papa kak Mila yang jemput mereka ke rumah!" jawab Adam. Viola hanya mengangguk bibirnya membulat, oh saja.
Selang tiga puluh menit kemudian mereka--pun sampai di rumah sakit tersebut. Adam dan Viola segara menuju ruangan Dave.
__ADS_1
Bersambung...