
Kris menghentikan laju mobilnya, saat mendengar isak-kan tangis Viola. Entah ada dorongan dari mana seorang Krisna Yudistira, saat ini merasa bersalah dan tidak tega melihat Viola.
Jujur saja ini pertama kalinya Kris membuat seorang wanita menangis, walau pun Kris bersifat dingin, dan agak-agak Angkuh gitu. Tapi ini untuk pertama kalinya Kris membuat seorang wanita menangis akibat perilakunya.
"Bagaimana cara agar dia tidak menangis lagi. Stt cengeng banget sih ini cewek! Gue kira orang kaya dia gak bisa nangis."--Gumam Kris.
Viola yang menyadari bahwa Kris menghentikan laju mobilnya, Viola mengangkat kepalanya, lalu mengusap air matanya.
"Kenapa dia menghentikan mobilnya, gue yakin dia pasti akan menurunkan gue di sini." --Batin Viola.
"Sudah puas menangisinya?" Kris membuka suaranya, bertanya pada Viola, tanpa melihat kearah wanita itu.
Viola tak menjawab, ia hanya menganggukan kepalanya. Lalu Kris menjalankan mobilnya kembali.
"Maaf...." Ucap Kris, dengan tulus. Namun masih dengan wajah datarnya.
Viola langsung menoleh ke arah Kris, demi apa? Barusan Krisna Yudistira, mengucap maaf pada-nya.
Kalau Anita yang mendengar ini, pasti dia bakalan bilang. "Demi susu sapi, bergambar panda, iklannya naga! Serius?"
Viola tak sadar, ia tersenyum manis kepada Kris.
"Saya juga minta maaf, karna tadi saya sudah lancang menampar bapak, tapi sumpah itu saya kelepa---"
"Kalau itu tidak bisa di maafkan!" Tegas Kris, memotong ucapan Viola.
"What?! Gue kira----, sumpah ini orang!! Mau gue tabok lagi kayanya." Ucap Viola, dalam hatinya.
Viola terlihat kesal, ia langsung membuang pandangannya kearah samping. Sumpah lama-lama Viola tabok lagi ini orang.
Kris tersenyum tipis, melihat Viola yang terlihat kesal kepadanya. Namun detik kemudian Kris tersadar, ia menggerutu dirinya sendiri.
"Sadar Krisna, ngapain elo senyum kaya gitu." Umpat-nya dalam hati.
Tak lama kemudian akhirnya mereka pun sampai di salah satu gedung perkantoran, tempat di mana mereka akan melakukan metting dengan para clien-nya. Kris menghentikan laju mobilnya.
"Turun." Pinta Kris, kepada Viola. Viola langsung mengangguk dan keluar dari mobil tersebut. Di susul oleh Kris. Kris memberikan kunci mobilnya kepada petugas keamanan yang berada di sana, memintanya untuk memarkir-kan mobil mewahnya itu.
Kris dan Viola di sambut dengar hormat, saat mereka memasuki gedung tersebut. Ya ini adalah gedung perkantoran cabang milik YS Grup. Lagi-lagi saat mereka masuk, orang-orang di sana sangat terkagum pada mereka, seperti biasanya. Namun kali ini yang menjadi pusat perhatian mereka adalah wanita yang berjalan di samping atasannya, Viola.
__ADS_1
Viola hanya tersenyum, saat mendengar pujian dari orang-orang yang berada di sana. Jika orang mendapat pujian akan meresa senang. Namun tidak dengan Viola, ia merasa risi. Apa lagi para laki-laki mereka nampak jelas menikmati lekuk tubuh Viola itu.
Kris dan Viola kini sudah berada di dalam lift. Kris melihat Viola dari pantulan ding-ding lift yang terbuat dari full kaca itu. Memperhatikan bahwa gadis itu sepertinya tidak nyaman.
"Besok jangan berpenampilan seperti itu lagi. Kau dengar?!" Ucap Kris.
Viola langsung menganggukan kepalanya, yang sudah pasti menuruti permintaan bosnya itu. Lagian memang Viola sudah berniat tidak akan berpenampilan seperti sekarang ini. Cukup kali ini saja, Viola lebih nyaman dengan penampilan yang biasa.
"Jangan kamu pikir dengan berpakaian seperti itu akan tergoda." Lanjut Kris.
Viola langsung membulatkan matanya. "Maaf ya pak saya tidak ada niatan sama sekali untuk menggoda bapak." Ketus Viola.
"Lagian saya itu kepaksa pakai baju ini. Karna emang tidak ada baju lagi." Lanjut Viola, berbicara apa adanya.
"Alasan!!"
"Terserah bapak mau percaya atau tidak. Terserah." Jawab Viola. Pasrah, tidak ada gunanya berdebat dengan My Persdir Angkuhnya ini, sampai kapan pun tidak akan selesai.
Lift terbuka, mereka pun keluar dari lift tersebut, laku berjalan menuju ruang metting. Kris dan Viola masuk kedalam ruangan tersebut, mereka di sambung oleh Alan, Alan adalah orang kepercayaan Kris, yang mengurus kantor cabang tersebut. Di sana juga sudah terlihat beberapa orang, yang sudah duduk kursi yang sudah di sediakan. Mereka adalah Clien-clien Yang berkerja sama dengan perusahan YS Grup.
"Maaf menunggu lama." Ucap Kris. Kemudian ia duduk bergabung dengan mereka, di ikuti oleh Viola yang duduk di sampingnya.
Orang-orang di sana terlihat menatap Viola, mereka bertanya-tanya siapa wanita cantik yang duduk bersebalahan dengan bos besarnya itu. Begitu pun dengan Alan, Alan memang sahabatnya Kris, sama seperti Diki, namun Alan tidak terlalu dekat.
Lalu metting itu pun mulai di langsungkan. Kris menyuruh Viola untuk menjelaskan apa saja yang di poin-poin di adakannya metting tersebut. Jujur Kris merasa sangat-sangat was-was. Ia takut Viola tidak bisa menyampaikannya dengan baik.
Viola terlihat mulai menjelaskan apa saja yang tertulis di berkas yang sudah ia pelajari tadi, Viola begitu lancar menjelaskan poin-poin permasalahan tersebut.
Viola terlihat begitu Profesional, walau pun Viola sedikit meresa tidak nyaman dengan tatapan Clien-clien Kris yang natobene kebanyakan laki-laki itu.
Mereka menyimak pembicaraan Viola, namun mata mereka berpusat pada penampilannya. Namun Viola berusaha tak menghiraukan-nya. Ini untuk pertama kalinya Viola menyampaikan presentasi-nya. Ini hari bersejarah untuk Viola, Viola harus fokus dan serius menyampaikannya.
Semua orang bertepuk tangan, mereka puas dengan penjelasan dari Viola, mereka takjub tidak hanya cantik, sekertaris Kris itu memang sangat pandai.
"Pak Kris, hari ini saya benar-benar merasa puas dengan meeting-nya. Sekertaris bapak ini tidak hanya pintar dia juga sangat pandai." Puji salah satu Clien.
Kris hanya tersenyum, sekali-gus ia merasa lega.
Ternyata Viola mengerjakan pekerjaannya dengan sangat baik. Kris pun tak menyangka jika wanita itu begitu terlihat sangat profesional tadi. Kris acungkan jempol kepada sekertaris-nya itu.
__ADS_1
"Tidak seburuk yang aku pikirkan." Ucap Kris dalam hatinya.
Meeting pun akhirnya selesai para clien Kris mulai meninggalkan ruangan tersebut. Dan kini hanya ada Kris, Viola dan Alan yang masih berada di dalam ruangan tersebut.
"Gila tadi kamu keren sekali." Puji Alan kepada Viola.
"Boleh kita kenalan?" Lanjut Alan, mengulurkan tanganya kehadapan Viola.
Viola tersenyum, lalu menganggukan kepalanya, namun pada saat Viola akan menjabat tangan Alan, Kris terlihat meraih tangan Alan terlebih dahulu.
"Kembali berkerja." Titah Kris, sambil mengeratkan jabatan tangan Alan.
Alan terlihat meringis, ia memberikan cengiran kepada Kris. Kris melepaskan tangannya dari tangan Alan, lalu menatap tajam Alan.
"Iya-iya. Pelit banget mau kenal doang." Kesal Alan, sambil berlalu keluar dari ruangan tersebut.
Viola terlihat bingung dengan tingkah Bos-nya itu. Tapi bodo amat-lah Viola tidak mau terlalu memikirkannya.
"Pulang sekarang pak?" Tanya Viola. Namun Kris tidak menjawab, Kris dengan wajah datarnya itu terlihat membuka jas mahal-nya.
"Apa yang dia lakukan? Mau ngapain dia?" --Gunam Viola.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak." Ucap Kris, seakan laki-laki itu tau apa yang sedang di pikirkan Viola.
"Pakai ini," Kris memberikan jasnya kepada Viola.
"Maksud bapak?"
"Sudah jangan banyak bicara, pakai saja." Tegas Kris. Viola pun pasrah, lalu ia memakai jas tersebut.
Detik kemudian Viola paham, mengapa bos-nya itu memberikan jas itu kepadanya. Agar lekuk tubuh Viola tidak terlalu kelihatan jika memakai jas tersebut.
"Terima kasih pak." Ucap Viola tulus, sambil mengulas senyuman manisnya.
"Jangan GeRan." Ketus Kris. Lalu Kris berajak dari tempat duduknya, berjalan keluar dari ruangan tersebut. Viola pun segara mengikuti Kris.
"Terserahlah dia mau bilang apa, yang penting aku sedikit ngerasa nyaman, jas ini cukup menutupi bajuku yang bejad ini."-- Batin Viola.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa, like, komen dan Votenya.
Terima kasih.