My Presdir Arogan

My Presdir Arogan
Episode 48


__ADS_3

Kris sudah sampai di rumahnya, wajahnya penuh dengan amarah. bagaimana tidak ia merasa dirinya terhina oleh Viola.


"Lihat saja besok, aku akan membuat perhitungan denganmu gadis menyebalkan, akan ku pastikan kamu bertekuk lutut di hadapanku," batin Kris.


Entah apa yang akan dilakukan oleh Kris besok, namun sepertinya dia benar-benar marah. Untuk pertama kalinya dia di perlakukan oleh seorang wanita.


Kris masuk ke dalam rumahnya itu, di ruang tengah terlihat papa Yusdistira tengah duduk santai di sofa, Kris melewati papa--nya begitu saja. Entah itu sengaja atau--pun Kris tak menyadarinya! Tapi masa iya? Papanya segede gitu juga, masa gak keliatan. Tapi ya sudahlah.


Sementara itu, papa Yudistira yang melihat Kris melewatinya begitu saja, merasa heran. Namun papa Yusdistira bisa melihat gelagat Kris jika seperti itu, pasti dia sedang emosi. Tapi emosi sama siapa? Apa jangan-jangan cintanya di tolak sama Viola? Ah masa iya sih, seorang Krisna Yusdistira ada yang menolak? Secara di mata kaum hawa Kris terbilang laki-laki sempurna, hanya satu saja kelebihannya, ya sedikit angkuh, bersikap dingin. Eh itu kelebihan apa kekurangan ya? Kalian pikirkan sajalah!!!


"Apa iya, seorang Krisna Yusdistira yang sejuta pesona, di tolak satu wanita?'' ucap papa Yusdistira.


Laki-laki parubaya itu berpikir keras, apa selama ini ia salah menilai Viola dan Kris yang terlihat saling cinta, namun keduanya masih tak menyadarinya?


"Diki, sepertinya aku harus cari informasi lagi sama dia," ucapnya, lalu ia meraih ponselnya, untuk menghubungi Diki.


***


Sementara itu, Diki masih berada di kantornya, tumpukan berkas masih tertumpuk, menggunung di hadapinya.


"Sial ini gara-gara, si bos arogan yang uring-uringan jadi kerjaan gue tambah banyak." Gerutunya.


"Si Viola lagi, tumben-tumbenan kagak mau bantuin gue, pake ada acara keluarga lagi. Bisanya juga tanpa gue suruh dia selalu bantu gue!"

__ADS_1


"Dua makhluk yang menyebalkan, sebelas dua belas. Gue jadi lemburkan!"


Dengan wajah yang kusut merusut, bibir mengkerucut, kaya curut, eh.


Diki mulai mengambil berkas-berkas yang harus ia kerjakan itu.


Beberapa menit Diki terfokus dengan perkerjaanya itu, konstrasinya terpecah saat mendengar beberapa kali ponselnya berbunyi.


Awalnya Diki menghiraukannya, karna ia ingin cepat-cepat menyelesaikan semua pekerjaanya itu, set dah itu kerja apa di kerjain.


Namun karna ponselnya terus berbunyi, akhirnya Diki--pun mengambil ponselnya.


"Hais, Baginda raja ngapain nelpon gue?" Ucapnya sambil menatap layar ponselnya, panggilan masuk dari papa King alias papa Yusdistira.


Diki--pun menggeser tombol berwarna hijau, mengangkat telpon tersebut.


"Hallo Dik, kamu bisa ke rumah sekarang gak?"


"Aku masih di kantor Pah King, kerjaan numpuk gara-gara anak om yang lagi kumat, semua beban hidupnya jadi di tumpahain ke aku ini."


"Kapan kamu pulang?"


"Kayanya aku lembur Pah King, malam baru pulang. Ada apa sih Pah King? Kok kaya urgen banget!"

__ADS_1


"Iya emang, papa tunggu malam di rumah."


Tut


Panggilan terputus begitu saja, papa King--nya mematikan sambungan telpon tersebut sebelah pihak.


"Hais, anak sama bapak bener-bener mengesalkan hari ini." Kesal Diki, sambil memandangi ponselnya.


"Wait? Tapi ada masalah apa ya?" Diki terlihat berpikir sejenak.


"Ah nanti saja gue tanya langsung. Sekarang gak ada waktu mikirin Pah king dulu. Otak gue udah penuh sama ini kerjaan. Bisa-bisa nanti otak imut gue hancur terlalu banyak berpikir!" Ucapnya lagi.


Diki--pun kembali fokus keberkas-berkas tersebut.


Bersambung...


Like


Komen


Vote


Jangan lupa ya!!

__ADS_1


See u


Terima kasih.


__ADS_2