My Presdir Arogan

My Presdir Arogan
Episode 28


__ADS_3

Viola terlihat sudah menghabiskan makanannya, ya pastilah habis dalam 5 menit juga, wong makanannya cuman seuprit. Viola sebenarnya masih merasa lapar, tapi apalah daya tangan tak sampai. Mau pesan lagi, liat harga makanan yang ada di menu restoran itu saja, sudah membuat Viola seketika mau mengeluarkan matanya. Kalau di pake buat makan nasi Padang bisa dapet 10 porsi, seketika itu pun cacing yang di perut Viola berhenti meronta.


Tak lama kemudian Kris terlihat sudah kembali.


"Ayo kita pulang!!" Ajak Kris, sambil berjalan keluar dari restoran tersebut.


"Eh pak tunggu!! Ini makanan sudah di bayar belum?" Tanya Viola, sambil tergesa-gesa mengikuti langkah Krisna. Namun Kris tak menjawabnya.


"Udah kali ya, kalau belum dia gak mungkin keluar dari resto ini." Gunam Viola, menjawab pertanyaannya sendiri di dalam hati.


Mereka kini sudah berada di Besmen tempat Kris memakirkan mobilnya, Viola dan Kris langsung menaiki mobil tersebut, dan meninggalkan mall.


Tidak ada pembicaraan saat dalam mobil tersebut. Kris dan Viola sama-sama diam. Dan tak lama kemudian mereka pun sampai di depan kantor pusat YS Grup. Viola langsung turun dari mobil Kris tanpa sepatah kata pun.


"*Dasar tidak tau terima kasih." Ucap Kris, dalam hatinya, sambil memandangi Viola yang berjalan masuk ke dalam kantornya itu.


"Jangan harap gue mau berterima kasih sama elo, ini belanjaan gue yang bayar juga nantinya. Ya walau pun di cicil." Gunam Viola*.


Viola kini sudah berada di dalam ruangannya. Tubuhnya terasa lelah. Berjalan di mall tadi membuat kakinya terasa mau patah di tambah ia memakai sepatu heels.


"Gimana meeting-nya?" Tanya Diki, masuk kedalam ruangan Viola, tanpa permisi.


"Bisa gak kalau masuk itu ketok pintu dulu!!" Ketus Viola.


"Oh oke-oke, kalau gitu gue ulang lagi." Diki kembali berjalan keluar dari ruangan Viola.


"Gak usah udah basi." Viola memutar bola matanya malas. Diki terkekeh, lalu ia menghentikan langkahnya, berbaik ke arah Viola, mengurungkan niatnya tadi.


Diki berjalan mendekat ke arah Viola, Diki melihat ada sebuah feper bag, di atas meja Viola itu.


"Wah-wah apa ini?" Tanya Diki, dengan tingkat ke Kepo--an yang sangat tinggi, Diki mengambil feper bag itu dan melihat apa isinya.


"Waoow, baju baru guys!!!" Seru Diki. "Di belanjain pak bos ni yeee..." Lanjut Diki.


"Ck, bos matamu. Mana ada!" Ketus Viola.


"Terus?"

__ADS_1


"Kredit gue." Jawab Viola.


"Hahaha," Diki tertawa. "Becada--mu luar biasa anak muda." Lanjut Diki.


"Stt, gak percaya dia. Itu emang di belanjain sama bos elo, tapi gue harus bayar. Gajih gue tiap bulan di potong 20 persen buat itu bayar baju." Ucap Viola, wajahnya terlihat kesal.


"Parah banget emang tuh orang! Udah tau gue orang missquuen ngajak belanja ke toko brand ternama. Gak ada akhlak emang." Lanjutnya.


"Sabar-sabar, ini ujian." Ucap Diki, di iringi tawanya. Membuat Viola semakin kesal.


"Orang sabar pasti kesel." Lanjut Diki, sambil menepuk bahu Viola pelan.


"Sialan elo."


"Oh iya ini..." Diki memberikan sebuah kunci.


"Kunci?"


"Iya ini kunci motor buat elo." Jelas Diki.


"Buat gue?" Viola menunjuk dirinya sendiri, dengan mata yang melihat kearah Diki bingung.


"Ya iya gak mungkin. Lagian Doraemon gak butuh motor babang, dia punya baling-baling bambu, dan pintu kemana saja kalau mau pergi."


"Terserah elo deh."


Viola hanya mencibirkan bibirnya, lalu mengambil kunci motor itu.


"Elo ngasih ke gue ini?"


"Gak!! Bukan gue yang ngasih."


"Terus?"


"Menurut elo?" Diki malah berbalik bertanya, Viola mengangkat bahunya dengan kepala yang menggeleng.


"Itu dari pak Kris."

__ADS_1


Viola langsung membulatkan matanya, "what? Elo gak becandakan Dik?" Diki langsung menggelangkan kepalanya. Viola terlihat mengambangkan senyumnya. Namun detik kemudian senyum itu hilang.


"Gak mau ah Dik, nih." Viola mengembalikan kunci motor itu kepada Diki.


"Loh kenapa?" Membuat Diki terheran.


"Gak apa-apa, gue belum ada niatan buat ganti motor baru, lagian gue yakin motor gue yang lama bisa di benerin." Viola memaksakan senyumannya.


"Oh iya gue denger dari orang-orang kantor. Motor elo ada yang ngerusakkin ya?" Tanya Diki, Viola menganggukan kepalanya.


"Iya Dik, pasti gue keluar lumayan banyak duit buat ngebenerin-nya. Mana gue baru aja masuk kerja. Hilal gajihan masih lama, ditambah nanti gajihan gue di potong pula." Jelas Viola, wajahnya terlihat lesunya.


"Ya udah elo peke aja dulu motor ini buat sementara."


"Gak. Gue gak ada duit buat bayar itu motor." Tolak Viola.


"Astaga elo pikir Kris jual ini motor ke elo?" Diki tertawa.


"Enggak Viola, ini itu motor kantor. Jadi elo bisa pake gratisan, gak udah bayar. Nanti kalau motor elo udah bener lagi, elo bisa kembalikan motornya." Jelas Diki.


"Ck, kenapa gak bilang dari tadi?" Viola mengambil kunci motor itu kembali dari tangan Diki. Membuat Diki terkekeh.


"Ya udah gue balik kerja lagi." Pamit Diki, diangguki oleh Viola. Diki pun keluar dari ruangan Viola dan kembali ke ruangannya.


"*Viola-Viola polos banget sih elo. Eh tunggu tapi kenapa tuh si bos kayanya perhatian banget sama dia?"


"Katanya benci tapi perhatian, gue yakin lama-lama elo bucin Krisna Yudistira." Ucap Diki dalam hatinya*.


Sebenernya Diki berbohong pada Viola, kalau motor yang Kris berikan adalah motor milik kantor. Padahal motor itu khusus di berikan oleh Kris kepada Viola.


Untuk menjaga image gengsi tensi tinggi. Kris memerintahkan Diki untuk tidak mengatakan yang sebenarnya. Bisa-bisa wanita itu mengeri yang tidak-tidak kepadanya, oh tidak Miska...


Viola tersenyum-senyum sambil melihat kunci motor baru yang ada ditangannya.


"Dari kuncinya, ini motor keluaran terbaru itukan. Waw gila sih, motor kantor bagus banget." Gunam Viola.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, dan komen.


Terima kasih.


__ADS_2