
Viola tengah sibuk dengan aktifitas pekerjaanya. Pekerjaanya hari ini sungguh banyak.
Tiba-tiba ponsel miliknya bergetar. Viola tak mendengarnya, namun ia mengabaikannya. Tidak ada waktu rasanya, masih ada hal penting yang harus ia kerjakan saat ini. Hingga ponselnya berhenti bergetar, namun beberapa detik kemudian ponselnya kembali bergetar.
"Ih siapa sih yang nelpon, gak tau apa orang lagi kerja!" kesalnya, sambil menyambar ponsel tersebut.
Viola menatap layar ponselnya, panggilan masuk terlihat di sana.
"Dave? Mau ngapain dia telfon," Viola terheran, namun ia mengangakat telpon tersebut.
["Hallo..."]
[Hallo Vi, maaf mengganggu mu."]
["Iya kenapa Dave? Ada apa?"]
["Apa nanti siang kita bisa bertemu, aku ingin mengajak makan siang bersama."]
["Makan siang? Boleh, nanti kabari saja tempatnya, gue akan datang kesana."]
["Gak mau aku jemput? Kalau kamu mau aku akan jemput kamu ke tempat kerja kamu."]
["Gak usah Dave. Kita ketemu di sana saja nanti!"]
["Oke, baiklah."]
["Ya sudah gue lagi kerja, udah dulu ya. Bye.."]
Tut...
Viola mematikan sambungan telfon tersebut secara sepihak, lalu ia--pun kembali melanjutkan pekerjaannya.
Tak terasa jam istirahat--pun tiba, namun Viola masih setia menatap layar leptopnya dengan jari-jari lentiknya yang masih bergerak lihay di atas keyboard leptop tersebut.
"Ehmmm..." Seseorang berdehem, sambil memasuki ruangannya.
Sontak Viola--pun mengalihkan pandanganya, menoleh kearah sumber suara tersebut.
"Eh, bapak! Ada apa?" Tanya Viola, kepada Kris yang baru saja masuk ke ruangannya itu.
"Ayo cepat," jawabnya.
"Cepat apa pak?" Viola mengernyitkan dahinya.
''Cepat, ikut saya!"
"Kemana?"
Kris menghelai nafasnya, "apa kamu lupa, tadi saya bilang apa sama kamu?" Viola terlihat berpikir sejanak.
__ADS_1
"Cepat saya tunggu diluar," ucap Kris lagi. Lalu keluar dari ruangan Viola.
"Oh iya, gue lupa siang inikan gue mau nemenin bos angkuh itu. Ya ampun gimana ini, mana ada janji sama Dave lagi. Ah elo bodoh banget si Vi, kenapa gak sampe gak ingat."
Viola beranjak dari kursinya, ia segara keluar dari ruangannya itu.
"Nanti aku kabarin Dave lagi aja deh. Dari pada ngamuk ni es batu." Gunamnya.
"Ayo pak." Ucap Viola yang sudah berdiri di samping Kris.
Kris langsung mengayunkan kakinya, di ikuti oleh Viola. Langkah mereka terhenti saat melihat Diki, yang berjalan berlawan arah.
"Tunggu-tunggu! Mau kemana kalian?" Tanya Diki.
"Bukan urusan elo." Jawab Kris dengan ketus.
"Ck, ikut dong. Jangan pergi berdua-duan, nanti yang ketiganya setan loh!"
"Iya setannya elo!" pekik Kris, lalu ia manarik tangan Viola. Untuk melanjutkan jalan mereka.
Diki terlihat kesal, ia memutar bola mata malas.
"Ck, sialan elo." Teriak Diki, namun tak di hiraukan eloh Kris, sedangkan Viola ia menoleh kearah Diki, dengan memberikan cengiran kudanya.
"Sudah berani ya tuh bocah, pegang tangan si Viola, gue yakin elo udah mulai kesem-sem Krisna Yudistira. Bentar lagi gue yakin elo bucin." ujar Diki, sambil memandangi Kris dan Viola, hingga mereka hilang. Masuk ke dalam Lift. Lalu Diki menyunggingkan senyumannya.
Viola terlihat salah tingkah. Jantungnya di dalam sana terasa sedang mengadakan party besar-besar, karna Viola merasakan jantungnya berdegup kencang seperti sedang diskoan.
"Ya ampun, ada apa ini?" Gunamnya.
Viola memandangi tanganya yang di genggaman oleh bos angkuhnya itu. Tak sadar Viola menarik ujung bibirnya tersenyum.
Kris melihat pantulan dirinya dan Viola, di depan ding-ding lift yang terbuat dari kaca itu. Dalam hati Kris merasa heran, melihat Viola yang terlihat sangat aneh, senyum-senyum lagi.
Detik kemudian Kris tersadar, bahwa tanganya masih menggenggam tangan Viola. Dengan cepat Kris melepasnya, melepaskan tanganya dengan kasar.
"Aww..." rengis Viola, ia merasa tangannya sedikit ngilu.
"Jangan GeRe, saya memegangi tangan kamu agar kamu jalan cepat," ucap Kris, beralasan.
Viola hanya mendengus kesal dengan bibir yang mengerut.
"Sial apa yang aku lakukan, sampai tak sadar aku sedari tadi menggenggam tanganya. Dan kenapa jantungku jadi tidak normal begini?" Gumam Kris.
Kris terlihat salah tingkah, namun sebisa mungkin ia menutupi ke gugupannya itu, harga diri dong masa seorang Krisna Yudistira Salting. Hello jiwa Angkuhnya kemana.
Tapi Kris tak bisa membohongi hatinya, kenapa rasanya seperti ada bunga-bunga yang bermekaran di sana. Apa lagi tadi Kris sempat melihat Viola tersenyum, haduh berasa mau meleleh saja jiwa es-es beku yang ada di dirinya.
"Stt, apa yang aku pikirkan. Dia tidak manis, bahkan menyebalkan!" Umpatnya dalam hati, mencoba menepis semua rasa itu.
__ADS_1
Kini hati dan pikiran Kris berasa bertolak belaka. Sedangkan Viola ia masih mengerutkan bibirnya.
Ah Kris jadi meresa gemes sama Viola. Eh apa yang Kris pikirkan. Tidak....
Tak lama kemudian, lift--pun terbuka. Kris dan Viola keluar dari Lift tersebut, mereka langsung berjalan keluar dari gedung kantor, berjalan menuju mobil Kris yang sudah terparkir rapi di depan gedung kantor tersebut.
Kris masuk terlebih dahulu, ia duduk di kursi pengemudi. Sedangkan Viola menyusul, ia membuka pintu mobil belakang, namun baru saja ia akan masuk suara khas Kris terdengar sangat nyaring di telinganya.
"Mau ngapain kamu?" Tanya Kris, tanpa menoleh kearahnya.
"Mau masuk!" jawab Viola, terlihat bingung.
"Siapa yang menyuruhmu duduk di sana?" Viola mengelengkan kepalanya pelan.
"Saya bukan supir kamu, duduk di depan!" pinta Kris.
Viola menghelai nafasnya, ia menutup kembali pintu mobil tersebut, dan beralih membuka pintu mobil depan, lalu masuk ke dalam mobil tersebut.
Kris langsung melajukan mobilnya, usai Viola sudah duduk rapi di sampingnya.
"Mau kemana kita?" Tanya Kris. Dengan mata yang masih fokus melihat ke depan, memperhatikan jalanan.
"Loh kok tanya saya pak?" Viola menoleh kearah Kris.
"Emang gak boleh," jawab Kris, kini ia menoleh kearah Viola, dengan senyuman tipisnya.
Viola tersenyum kikuk, dengan tangan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Viola merasa aneh, kenapa sikap bosnya hari ini berbeda.
"Bagaimana kalau kita makan di resto terdekat saja!" ucap Kris lagi. Viola hanya menganggukan kepalanya. Otaknya sedang berpikir keras.
'' *Lah kenapa ini orang? Habis ke jedot pintu apa kelapanya, sok manis begini?" Gumam Viola.
"Ya ampun gue lupa, belum ngabarin Dave lagi*."
Viola menepuk jidatnya. Ia segara mengambil ponselnya dari tasnya. Jarinya bergerak lihay di layar ponsel tersebut. Viola mengirim pesan kepada Dave.
Karna ia tidak bisa makan siang bersama, dan meminta maaf pada laki-laki itu.
Kris terlihat mencuri-curi pandang, ada rasa penasaran. Senang apa Viola, ia terlihat sangat fokus dengan gawai-nya. Ingin rasanya ia bertanya, tapi...
"Hais apa urusanku, terserah dia mau ngapain juga. Gak perduli." Gumamnya.
Bersambung...
jangan lupa like, komen dan Votenya.
Makasih.
Maaf baru sempat up.
__ADS_1