My Presdir Arogan

My Presdir Arogan
Episode 52


__ADS_3

Keesokan harinya.


"Mampus, bisa telat ngantor gue!" ucap Viola, ia terlihat begitu tergesa-gesa. Gara-gara semalam dia tidur hampir menjelang subuh. Jadi Viola kesiangan bangun. Semalam Viola tidak bisa tidur, karna terus terpikirkan masalah yang kini menjeratnya.


"Ibu, pak, kak. Aku berangkat dulu ya!" pamit Viola, langsung berjalan kedepan rumahnya.


"Gak sarapan dulu kamu Vio?" teriak pak Arga.


"Gak pak, sarapan nanti saja di kantor. Udah telat!" jawab Viola, sambil terus berjalan keluar rumahnya.


Namun Viola terkejut saat ia membuka pintu rumahnya itu, melihat Dave yang sudah berdiri di depannya.


"Eh kucing lompat..." kaget Viola sambil mengelus dadanya.


"Elo ngapain di sini Dave?" tanya Viola kemudian.


Dave memberikan senyuman, senyuman manis semanis madu, kepada calon istrinya itu. Iya calon istri, karna Viola udah menerimanya semalam! Iyakan?


"Aku sengaja kesini, mau kekantor ya? Aku antar ya," jawab Dave.


"Gak usah gue pergi sendiri aja, naik motor. Biar cepat soalnya gue takut telat kalau pake mobil, pagi-pagi gini jalanan suka mecat!" tolak Viola dengan cepat.


"Lagian emangnya elo gak ke kantor?" Dave langsung mengelengkan kepalanya.


"Enggak, aku gak kantor hari ini. Aku anterin aja ya, di jamin gak akan macet deh." Dave berusaha merayu Viola.


Viola menghelai nafasnya, ya udahlah. Dari pada urusannya makin ribet , terus berdebat kaya gini. Yang ada bukan karna macet Viola telat datang ke kantornya, tapi karna adu mulut sama Dave. Lagian ini masih pagi, jangan sampai mood Viola hancur.


Viola--pun menganggukan kepalanya pasrah. Dave melebarkan senyumnya. Mereka--pun langsung berjalan menuju mobil.


"Silahkan masuk calon istriku," ujar Dave, sambil membukakan pintu mobilnya untuk Viola. Viola hanya tersenyum tipis dan masuk ke dalam mobil tersebut.


"Calon istri? Sial kenapa gue jadi kejebak kaya gini. Lagian kenapa tiba-tiba si Dave jadi lebay begini sih?" batin Viola.

__ADS_1


Usai Viola masuk, Dave--pun segara masuk menyusulnya. Lalu Dave melajukan mobilnya. Dalam perjalan, Viola terlihat diam. Tak seperti biasanya, biasa seorang Viola selalu mengoceh apa saja saat tengah berduaan dengannya. Dave merasa heran, ada apa dengan Viola? Apa ini gara-gara sikapnya tadi, apa Dave terlalu berlebihan, memaksa Viola? Tapi bukankah itu wajar, jika Dave bersikap seperti itu, Viola--kan calon istrinya.


Sampai setengah perjalanan--pun baik Viola ataupun Dave mereka masih terbungkam, tak ada yang membuka suaranya. Mereka larut dalam pikirannya masing-masing.


"Vio..." panggil Dave, ia sudah tak tahan dengan sikap diamnya Viola. Dunia itu terasa berbeda gitu, kalau Viola yang super duper cerewet itu seketika diam kaya patung begini.


"Hmm," jawab Viola dingin. Ck, Viola kok jadi keturunan Kris ya?


"Kamu marah ya sama aku? Maaf jika aku tadi memaksa buat nganterin kamu. Aku janji gak akan ngulangin lagi," ucap Dave, ia terlihat begitu menyesali sikapnya tadi.


"Tidak aku tidak marah," sangkal Viola, "gue cuman kesel aja!" lanjut Viola dalam hatinya.


"Kenapa kamu diam terus? Aku tau kamu sedang marah jika seperti itu!"


"Udah deh Dave, gue gak marah kok. Lagian ngapain gue harus marah sama elo!" Viola mencoba memendam semua kekesalannya itu. Sebenarnya Viola hanya sedikit kesal saja, bukan karna Dave memaksanya untuk mengantarkan Viola ke kantor tapi kesal karna Dave bilang kalau dia itu calon istri nya. Padahal emang bener gitu kenyataannya, tapi Viola belum bisa menerimanya, ia agak risih dengan sikap Dave itu. Ditambah ia merasa canggung saat dekat dengan Dave.


Dave membalas senyuman Viola, syukurlah Viola tidak marah kepadanya. Ahhh sungguh senyum Viola membuat Dave makin cinta.


"Makasih ya udah nganterin gue!" ucap Viola sebelum ia turun dari mobil Dave.


"Sama-sama, nanti pulangnya aku jemput ya? Emm kalau kamu mau sih, kalau enggak gak papa kok!"


Viola menganggukan kepala sambil tersenyum, lalu ia keluar dari mobil Dave tersebut.


Dave menatap punggung Viola yang mulai berjalan masuk kedalam kantor tersebut. Sampai wanita itu menghilang dari pandangannya barulah Dave melajukan kembali mobilnya dari sana.


"Kalau begini, rasanya aku ingin cepat-cepat nikah sama Viola, gak tega liat Viola kerja. Kalau kita udah nikah, aku gak akan izinin kamu kerja Vio, kamu cukup diam di rumah menikmati semuanya, kamu akan jadi ratuku, dan aku akan selalu membahagiakan mu." Gumam Dave.


Sementara itu Viola yang baru saja datang ke ruangannya, ia terkejut melihat ada Diki dan Kris yang sudah ada di ruangannya.


"Loh ada apa ini? perasaan gue kok jadi gak enak begini. Ada apa Diki sama si es batu di ruangan gue pagi-pagi gini." Batin Viola.


"Selamat pagi pak Kris, pak Diki." Sapa Viola dengan ramah, ia berjalan masuk kedalam ruangannya itu.

__ADS_1


"Gak usah basa-basi," jawab Kris ketus.


"Diki berikan," pinta Kris kemudian. Diki menganggukan kepalanya, lalu ia memberikan sebuah map kepada Viola.


Viola menatap Diki, sorot matanya mengisyaratkan bertanya kepada Diki, ada apa ini? Namun Diki hanya membuang napas beratnya.


"Apa ini?" Tanya Viola, ia mulai membuka map tersebut. Viola langsung membulatkan matanya, saat membaca isi surat yang ada di dalam map tersebut.


"Di pecat? Maaf salah saya apa ya pak?" tanya Vila kemudian kepada Kris. Namun Kris tak menjawab ia hanya memberikan senyuman dan tatapan yang sulit diartikan.


"Sekarang bereskan barang-barang kamu dan keluar dari kantor ini. Nanti pihak administrasi akan memberikan uang gaji kamu bulan ini dan pesangonnya." Ucap Kris.


"Tapi pak. Bapak gak bisa pecat saya seenaknya dong, kasih saya alasan kenapa saya di pecat." Viola terlihat kesal. Ia tak tau dirinya salah apa? Perasaan Viola tak membuat kesalahan, tapi kenapa tiba-tiba ia di pecat begitu saja.


"Apa perlu saya kasih alasan hah? Ini kantor saya, saya pemilik perusahaan ini. Jadi terserah saya! Sekarang kamu angkat kaki dari sini."


"Tapi pak---"


"Saya bilang pergi, atau mau saya panggil Security untuk menyeret kamu keluar dari sini hah?" bentak Kris.


"Tidak usah. Terima kasih, saya akan pergi." Dengan kesal dan marah Viola keluar dari ruangannya. Berjalan meninggalkan kantor tersebut.


"Bos macam apa dia, dasar tidak punya hati. Maen pecat orang sembarang aja. Gue benci banget sama elo Krisna Yusdistira..." gerutu Viola.


Bersambung...


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian.


Dengan cara like, komen dan vote ya.


Terima kasih.


Oh iya, ada yang nungguin Kris bucin gak nih??🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2