
Keluarga besar itu pun masuk ke dalam pusat perbelanjaan tersebut, Viola dan Anita bersorak gembira.
"Huhu, udah lama gue gak ngijak mall ini." Ucap Anita.
"Kasihan," sahut Viola.
"Ck, elo juga samakan?"
"Enggak, kemarin gue ke sini."
"Wah kok kamu gak bilang-bilang ibu sih Vio?" Sahut bu Hanum, bertanya.
"Hais, haruskah ibunda?"
"Tentu saja!" Jawab Bu Hanum, tak mau kalah.
Mereka semua senyum melihat tingkah, Viola dan ibunya.
"Sudah ah, gak di rumah gak di luar kalian itu selalu saja begini!" Sahut pak Arga.
"Anakmu tuh pak!"
"Ih kok Vio sih Bu?"
"Lah terus?"
"Sudah-sudah, kita makan dulu ya! Adam dan Mila juga Dave tadi gak sempat sarapan." Ajak Adam.
Mereka semua mengangguk, lalu berjalan ke salah satu resto yang ada di mall tersebut. Setalah sampai di dalam resto, mereka bergantian memesan makanan mereka. Tak lama kemudian makanan datang dan mereka pun menikmati makanan itu, sambil mengobrol hangat, tak lupa tertawa dengan tingkah Viola dan Anita yang bar-bar tingkat dewa.
...........................
"Selamat pagi menjelang malam, Papah King!" Sapa Diki, saat masuk ke dalam rumah mewah milik Yudistira, dan mendapati laki-laki yang ia panggil dengan sebutan papah King itu, tengah menikmati secangkir kopi di temani dengan kepulan asap dari nikotin yang ia hisap, dan matanya fokus membaca koran yang ada di hadapannya.
"Pagi menjelang siang Diki," protes Yusdistira, tanpa mengalihkan pandangnya dari koran tersebut.
__ADS_1
"Gak mau Pah King, aku maunya malam," ucap Diki, ia mendaratkan pantatnya di sofa, duduk di samping Yusdistira.
"Kamu ini ada-ada saja."
"Hehe." Diki memberikan cengiran kuda pony--nya.
"Berhentilah mengisap itu Pah King, tidak baik untuk kesehatanmu!" Tegur Diki, saat melihat Yudistira menghisap kembali batangan nikotin tersebut.
"Akan aku usahakan," jawabnya, sambil mengeluarkan asap nikotin tersebut dari hidung dan mulutnya.
"Selalu saja begitu. Ya sudah aku ke atas dulu." Pamit Diki, ia beranjak melangkahkan kakinya menuju lantai atas.
"Sepertinya anak itu masih tidur Dik, bangunkan dia. Ajak dia keluar! Inikan weekend sekali-sekali kalian melepas penat, jangan mengurus perkejaan terus." Pinta Yudistira.
"Aku pun berencana seperti itu Pah King, semoga saja manusia batu itu mau!" Sahut Diki, sambil terus berjalan menaiki anak tangga.
"Siapa yang kau sebut manusia batu?" Tiba-tiba terdengar suara khas yang menyahut ucapan Diki, Diki sudah hafal dengan suara itu, Kris terlihat sudah berdiri di dekat tangga, dengan mata elangnya, sepertinya dia mau turun kebawah.
"Siapa lagi," jawab Diki. Tak ada takut sama sekali saat melihat Kris yang menatapnya dengan tatapan tajam itu.
"Kau menyebutku manusia batu?" Kris semakin menajamkan matanya kearah Diki.
"Kau..." Teriak Kris.
"Hey kalain ini, sudah besar juga. Bisakah kalian tidak ribut seperti itu. Menganggu ketenanganku saja!" Ucap Yudistira, menatap jera Kris dan Diki.
"Dia yang mulai Pah!"
"Apaan? Kok gue. Kris yang mulai Pah King."
"Sudah-sudah, lebih baik kalian keluar sana pergi, pusing kepalaku kalau kalian terus di sini." Ucap Yudistira, sambil memijat pelipisnya, dan menggelengkan kepalanya.
Kris melenggang menuju kamarnya, Diki pun ikut mengikuti Kris.
"Lihatlah mey, anakmu dan anak angkatmu itu, jika mereka dekat kepalaku serasa mau pusing dengan tingkah mereka itu," lirih Yudistira, sambil mengingat kembali mendiang istri tercintanya.
__ADS_1
..................
"Ngapain elo masuk ke kamar gue?" Tanya Kris kepada Diki, seperti biasa dengan minum eksfesinya.
"Ck, pelit elo," jawab Diki.
"Gue mau ngajak elo jalan, kali-kalilah kita weekend." Lanjut Diki.
"Ogah..." Tolak Kris mentah-mentah, "pergi aja sendiri, ngapain elo ngajak gue."
"Hais, sombong sekali kau anak muda." Ledek Diki, tak terima ajakannya di tolak oleh Kris.
"Pergi sana, kau menganggu ketenanganku saja!" Usir Kris.
"Baiklah kalau kau tidak mau ikut, padahal aku sudah janjian dengan Viola." Bohong Diki.
Kris langsung mengalihkan pandanganya, menatap Diki, Diki yang ditatap oleh Kris, melebarkan senyumannya.
"Gue yakin elo pasti mau, iyakan. Iyalah masa enggak!" Gunam Diki.
"Ngapain elo ketemu dia?" Tanya Kris, ada rasa penasaran dalam hatinya, untuk apa Diki berjanjian dengan gadisnya, eh Kris menggerutu sendiri, kenapa ia meyebut Viola sebagai gadisnya. Sial.
"Ngapain elo keppo?" Diki malah berbalik bertanya.
"Ck," Kris memutar bola matanya malas, "pergi sana, gue gak peduli elo mau janjian dengan siapa pun, bukan urusan gue!" Lanjut Kris, sok gak peduli. Demi meningkatkan harga diri dan gengsi tingkat provinsi.
"Ya sudah kalau begitu." Jawab Diki, ia melangkahkan kakinya, keluar dari kamar Kris.
"Oke kalau begitu, gue mau serepet si Viola ah. mayankan dia cantik jelita. Awww...." Gunam Diki.
Bersambung.
Hay teman-teman, mohon maaf untuk kemarin saya berjanji tapi gak nepati janji saya.
Ada urusan penting di dunia nyata, yang sangat menyibukkan saya. Semoga kalian paham ya.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan Votenya ya.
Terima kasih.