
Hari demi hari berlalu, usai memecat Viola. Kris semakin menjadi-jadi. Semua orang menjadi salah dimata Krisna. Apa lagi Diki, setiap detik ia yang selalu kena amarah sang bos-nya.
"Diki, cepat kemari," pinta Kris lewat sambungan telpon.
Diki--pun tergesa-gasa berjalan menuju ruangan Kris.
Kris menatap tajam kearah Diki, saat Diki masuk ke dalam ruangan itu.
"Hais, ada apa lagi ini? roman-romannya mau kena semprot lagi ini gue!" gumam Diki.
"Nih liat," Kris memberikan sebuah map berkas dengan kasar kehadapan Diki. Diki mengambil map tersebut.
"Coba baca, kenapa sampe salah begitu isinya hah?'' bentak Kris.
"Salah dikit, gue perbaiki sekarang!" ucap Diki, sambil berajak dari hadapan Kris.
"Kalau elo gak bisa kerja lebih baik elo keluar saja!" ketus Kris.
Diki menghentikan langkahnya, dadanya bergemuruh, sumpah beberapa hari ini Diki sudah cukup bersabar, dan sekarang Diki rasa kesabarannya sudah habis. Diki membalikan tubuhnya, menatap kearah Kris dengan wajah kesalnya.
"Gue tau, elo yang berkuasa di sini yang terhormat Krisna Yusdistira. Tapi apa elo gak bisa hargai sedikit saja perkerjaan gue hah? Apa elo nyadar, elo selalu neken gue dengan kerjaan yang menumpuk gak pernah ada habisnya! Oke, gue tau. Emang itu udah jadi tugas gue. Tapi harusnya elo bisa menghargai sedikit saja usaha orang lain dalam berkerja. Elo pikir gampang hah? Elo enak, terima beres. Lah gue dan karyawan lain? Kita kerja habis-habisan biar bisa sesempurna mungkin kerjain semuanya." Tegas Diki.
"Elo kenapa sih, baperan amat?" tanya Kris, sambil tersenyum tipis. Sebenarnya Kris merasa terpojokan dengan ucapan Diki barusan. Ya apa kata dunia? Kalau dia kalah sama Diki bawahannya.
"Baperan elo bilang hah?" Diki semakin kesal, ia sudah tak bisa menahan amarahnya, enak sekali Kris berkata seperti itu.
"Ngaca!! Siapa yang baperan? Harusnya gue yang bilang gitu sama elo. Jangan karna elo lagi ada masalah pribadi yang membuat elo kesel. Dan elo menumpahkan kekesalan elo sama kita, karyawan elo. Jangan sampe elo nyesel Krisna Yudistira. Elo tanpa gue dan karyawan-karyawan yang lain bisa apa hah?"
Diki langsung pergi, usai menumpahkan semuanya kekesalannya. Jujur saja sudah tidak tahan rasanya menghadapi seorang Krisna Yusdistira, kalau bukan karna kebaikan papa King, papanya Krisna. Diki sudah meninggalkan Krisna sendiri.
Kris terdiam, ia tak bisa berkata apa-apa. Perkataan Diki bagai tamparan keras untuknya. Ada rasa bersalah yang menghinggapi di hatinya, namun Kris menepis rasa bersalah itu. Itulah seorang Kris Arogannya gak ketulungan.
Diki masuk keruanganya, ia menutup pintu ruangannya dengan keras. Kesal, marah. Sayangnya Diki tak bisa berbuat apa-apa.
"Sumpah gue udah gak ngerti lagi sama sikap elo Kris. Makin hari makin jadi, muak gue."
"Viola! Gue harus minta Pah King, buat mempekerjakan lagi dia di sini. Gue tau si Kris itu uring-uringan gara-gara Viola. Dasar bos sok jual mahal, kalau cinta ya bilang cinta! Susah amat, gengsinya kebangetan. Ke duluan orang baru tau rasa elo." ucap Diki, ia bermonolog sendiri. Karna masih kesal kepada Kris.
Sementara itu...
Viola dan Dave, kini sedang berada di salah satu butik ternama. Hari ini mereka akan memilih pakaian yang akan di gunakan, di acara pertunangan mereka.
"Kamu pilih saja mana yang kamu suka Vio, aku akan menunggumu disini," ucap Dave.
__ADS_1
"Lah terus elo gimana?"
"Santai, nanti aku pilih setalah kamu selesai." Viola--pun menganggukan kepalanya.
"Mari mbak," ajak pelayan butik tersebut. Viola mengikuti langkahnya.
"Silahkan di pilih, ini koleksi butik kami. Ini keluar terbaru," ujarnya.
Viola mulai melihat-lihat gaun tersebut, namun entah mengapa tidak ada menarik dimatanya. Malah pikirnya berlalu lalang kemana-mana. Viola ingat kejadian waktu ia pernah ke butik bersama Kris. Tak sadar Viola menarik ujung bibirnya.
"*Stt, apa yang aku pikirkan. Kenapa tiba-tiba aku keinget sama tuh si es batu. Btw gimana ya kabarnya sekarang?" batin Viola.
"Ya ampun Viola, apa yang kamu pikirkan. Sadar, ngapain sih mikirin orang gak jelas kaya gitu," ucapnya lagi, dalam hati*.
Entah mengapa ada rasa aneh di hati Viola, rasanya ingin bertemu dengan Krisna. Padahal dia sangat benci dengan kelakuan mantan bosnya itu.
Dave masih setia menunggu Viola, namun sudah hampir setengah jam. Viola belum kembali juga, Dave--pun memutuskan untuk menghampirinya.
"Bagaimana? Apa sudah ketemu dengan gaun yang cocok?" tanya Dave, yang kini sudah berdiri di samping Viola.
"Astagfirullah, Dave elo ngagetin gue aja!" ucap Viola kaget, ia tak menyadari keberadaan Dave tersebut.
"Hehe, maaf..."
Viola menggelangkan kepalanya, "aku bingung, semuanya bagus-bagus!" jawab Viola berbohong, eh gak bohong emang bagus-bagus, hanya saja Viola tidak tertarik, bahkan tidak semangat sama sekali.
"Ya sudah pilih saja yang paling kamu suka, tapi kalau mau semuanya boleh kok, mau sama butiknya juga akan aku berikan," ucap Dave. Holang kaya bebas.
"Elo bisa aja, gaklah. Gue bingung, terserah aja deh. Elo pilihin aja yang menurut elo cocok." Pasrah Viola.
"Baiklah," Dave mulai memilihkan gaun untuk Viola. Dave menunjukkan satu gaun yang cantik, lalu bertanya pada Viola, apa Viola suka. Viola mengiyakan saja, dari pada lama.
Akhirnya Dave--pun memilih gaun tersebut, lalu ia mencari setelan jas yang untuknya, tak lama ia menemukan jas yang cocok untuknya, dengan warna yang senada, dengan gaun Viola.
"Ini saja mbak," Dave memberikan jas dan gaun tersebut kepada pelayan butik.
"Baik akan saya bungkuskan, silahkan bapak ke kasir."
"Vio, aku bayar dulu ya."
"Iya, gue tunggu di luar aja ya Dave." Ucap Viola, lalu Dave menganggukan kepalanya.
Viola--pun keluar dari butik tersebut, sementara Dave berjalan menuju kasir untuk membayar belanjaannya tersebut.
__ADS_1
Diki terlihat berjalan-jalan menemani Pah King, di mall. Sebenarnya Diki malas, karna ia masih banyak kerjaan. Tapi Pah King--nya itu memaksa, meminta di temani. Walaupun Diki sudah memberikan seribu alasan, namun tetap saja gak mempan.
"Pah King, sebenarnya mau ngapain sih kita kesini? Ayolah Pah King, Diki masih banyak kerjaan nih. Nanti Diki diamuk Kris lagi." Diki terus mencoba membujuk Pah King--nya.
"Sudah, jangan banyak bicara. Papa ingin berjalan-jalan saja sudah lama rasanya, tidak menikmati suasana keramaian seperti ini. Soal kerjaan sudah jangan di pikirkan. Itu perusahaan milik papa, kalau Kris macam-macam sama kamu, papa akan turun tangan."
Okelah, akhirnya Diki pasrah. Lagian posisinya aman, papa King memihaknya. Lagian Diki juga capek kerja terus, kali-kali jalan-jalan bolehlah, apa lagi jalan-jalan sama Pah King, auto perut kenyang dompet aman, belanjaan terpang-pang. Bukan memanfaatkan, tapi kesempatan. Wkwk...
Saat Diki tengah berjalan, ia tak sengaja melihat Viola.
"Pah king..." panggil Diki, namun matanya fokus melihat pada Viola yang tengah berjalan Dangan seorang laki-laki.
"Iya, ada apa sih Dik?"
"Itu liat," Diki menunjuk kearah Viola. Pah King mengikuti arah pandangan Diki.
"Itu Viola--kan? Sama siapa?"
"Iya itu Viola."
"Kalau laki-laki itu, Viola pernah bilang kalau dia temennya, kalau gak salah namanya Dave dah Pah King."
"Temen? Yakin kamu, kok mereka terlihat seperti pasangan. Apa mereka pacaran? Dan mereka kayanya baru keluar dari butik itu, bukanya butik itu khusus pakaian yang suka di pakai pesta, maksudnya pernikahan atau pertunangan?"
"Gak tau sih Pah King. Kalau beneran pacaran, apa lagi mereka mau tunangan, atau menikah. Terus gimana nasib es kutub Pah King?"
"Es kutub? Maksudmu Kris?"
"Iyalah siapa lagi, anak Pah King yang paling dingin itu."
Pah King mengangkat bahunya. "Sudahlah, ayo lanjut jalan lagi," ajak Pah King.
"Es batu sepertinya, akan menjadi bongkahan es yang berkeping-keping. Mampus elo Kris, rasain tuh. Sok jual mahal sih, gengsian. Udah dikeduluan orang baru sadar!" batin Diki.
Ada rasa puas dihati Diki, karna kesal dengan Kris. Namu ada juga rasa kasian, jika mamang benar Viola dan Dave akan tunangan atau menikah.
Bersambung...
Jangan lupa like, komen dan Votenya.
Pasti ada yang anehkan, kenapa sih Viola tetap aja bertahan sama Dave, part selanjutnya kita beberkan oke...
Terima kasih.
__ADS_1