My Presdir Arogan

My Presdir Arogan
Episode 56


__ADS_3

Kris baru saja selesai mengerjakan semua pekerjaanya, hari sudah sore. Kris memutuskan untuk pulang ke rumahnya.


Perlahan Kris sudah lebih baik, tak uring-uringan lagi, sepertinya ia sudah mulai bisa menjalankan hari-harinya tanpa Viola.


Bukan bisa, tapi harus bisa. Tekadnya, walaupun setiap detik pikiranya terus di hantui oleh bayang-bayang gadis menyebalkannya itu. Tapi Kris berusaha menepis semuanya.


Tapi Kris tak bisa membohongi hatinya kecilnya, semakin ia ingin membenci Viola dan melupakannya, semakin besar rasa cinta dan rindunya kepada gadis itu.


Cinta? Kris tak habis pikir, bisa-bisanya dia kini mengakui kalau dirinya sudah jatuh cinta pada Viola.


Dan rindu? Kris tak pernah bermimpi akan merindukan gadis menyebalkannya itu.


Tapi kenyataannya? Kris kalah, pikiran dan hatinya terus berperang, pikirannya memaksa hatinya untuk melupakan Viola, namun hatinya menolak keras keinginan tersebut. Hampa! Ya Kris hampa tanpa Viola.


Kris ibarat, orang yang tengah lari di tempat, kakinya bergerak, tapi posisinya tetap.


Pikirnya bergerak berusaha melupakan Viola, tapi hatinya masih masih tetap, nama Viola masih tergores disana.


Secepat inikah cintanya mendalam kepada Viola? Entahlah, itulah cinta, kadang cinta tak berlogika.


Kris membereskan meja kerjanya, menutup leptopnya sebelum ia beranjak dari ruangannya itu. Usai semuanya beres dan rapi, Kris--pun berajak dari kursi kebesaran-nya.


Namun baru saja Kris akan melangkah, pintu ruangnya terbuka, sosok Diki terlihat muncul di sana.


Kris menoleh kearah Diki yang berjalan masuk ke dalam ruangannya itu.

__ADS_1


"Ada apa?'' Tanya Kris dingin.


"Ini," Diki memberikan satu lembar kertas. Kertas itu terlihat seperti sebuah undangan.


"Apa ini?" Tanya Kris, ia mengambil kertas tersebut.


"Buka saja!" Titah Diki.


Kris menurut, ia membuka kertas tersebut.


Deg...


Jantungnya terasa berhenti berdetak, ribuan belati terasa mengiris-ngiris hatinya.


Matanya membulat sempurna saat melihat nama yang tertulis di kertas undangan tersebut.


Kris langsung meremas undangan pesta pertunangan Viola tersebut, Kris memang di undang karna memang perusahannya dengan perusahaan milik keluarga Dave berkerja sama. Matanya memerah, dadanya bergemuruh.


"Jika elo beneran cinta perjuangin bro, jangan sampai elo nyesel. Sebelum janur kuning melengkung Viola masih milik Negera dan orang tuanya!" Ucap Diki, sok bijaksana. Ia menepuk bahu Krisna.


"Nanti gue jemput elo malam, elo pasti hadirkan di pesta pertunangannya, ingat kita harus tetap profesional, ini undangan perusahan." Ucap Diki lagi, ia--pun berlalu keluar dari ruangan Kris.


Kris tak bergeming, pikirnya kacau sama seperti hatinya. Viola akan bertunangan dengan Dave! Cemburu? Tentu saja Kris sangat cemburu, bahkan tak terima.


Walaupun Kris sadar posisinya, untuk cemburu--pun ia tak berhak sebenarnya. Viola bukan siapa-siapanya, tidak ada hubungan khusus, pernah menjalin hubungan--pun itu hanya sebatas pekerjaan.

__ADS_1


"Arggg...." Teriak Kris, ia membanting kertas undangan yang sudah tak berbentuk itu lagi dengan keras.


"Kenapa semuanya jadi seperti ini?" Teriak Kris lagi.


Kenapa? Kenapa di saat ia jatuh cinta, memberikan hatinya untuk wanita, belum apa-apa, ia sudah merasakan kecewa.


Viola si gadis menyebalkan, membuat Kris yang acuh dalam dunia percintaan, terjebak dengan perasaan cinta tersebut. Padahal belum tentu Viola mencintainya.


Kris belum pernah mengucapkan cinta kepada Viola, tapi sakitnya sudah seperti ini. Bagaimana kalau ia menyatakannya dan Viola menolaknya. Apakah rasa sakitnya akan lebih parah dari ini?


Entahlah, itulah yang membuat nyali seorang Krisna Yusdistira menciut, antara gensi dan takut.


Gensi menyatakan cinta, takut kalau Viola menolaknya.


Bersambung...


Ya udahlah terserah elo aja Kris. Author jadi ikutan kesel sama elo.


Selamat berjuang aja dah, semoga elo gak salah langkah.


Jangan lupa like, komen dan Votenya ya!!


Besok kita ramai-ramai datang ke pertunangan Viola dan Dave. 😁🤭


Malam ini, kita biarin Kris mikir dulu aja, harus gimana dia menghadapi kenyataannya.

__ADS_1


Oke, bye-bye...


Terima kasih.


__ADS_2