My Presdir Arogan

My Presdir Arogan
Episode 62


__ADS_3

Mobil Kris berhenti tepat di depan rumah mewahnya, Kris baru saja pulang dari kantornya, sebenarnya ini masih jam kerjanya, namun Kris tak bisa fokus berkerja pikirannya masih kacau balau.


Yang ada di pikiran Kris saat ini hanya, Viola, Viola dan Viola. Viola akan bertunangan besok bersama Dave, Kris merasa sangat gelisah, ia tak rela melihat orang yang dicintainya jadi milik orang lain.


Namun Kris masih tak bertindak apa-apa, ia masih di hinggapi gengsi tingkat tinggi. Ia belum berani berbicara dengan Viola, mengungkapkan rasa cinta. Waktu itu Kris pernah datang kerumah Viola, namun hanya melihat dari kejauhan, Kris masih tak berani menemui Viola.


Kris mengaku kalau dirinya lemah, lemah dalam urusan percintaan, karna memang Kris tidak berpengalaman, Viola cinta pertama Krisna. Maka dari itu dia masih bingung harus bagaimana? Haruskah ia merelakan Viola? Kata orang mencintai tidak harus memiliki, jika orang yang kita cintai berbahagia dengan orang lain, kita juga ikut bahagia.


Tapi kenyataannya tidak, Kris tidak merasakan bahagia, jika memang kata-kata itu benar. Harusnya Kris bahagia melihat Viola akan bertunangan dengan Dave. Semuanya bohong, Kris tetap merasakan hatinya sakit, tak rela Viola bertunangan dengan laki-laki lain.


Kris keluar dari mobilnya, ia berjalan menggontai masuk kedalam rumahnya, namun Kris menghentikan langkahnya, saat melihat papa Yudistira tengah duduk di depan teras rumahnya, papanya terlihat sedang duduk santai sambil menikmati secangkir kopi. Indah banget ya hidup papa Yusdistira.


"Kok tumben udah pulang?" Papa Yusdistira membuka suaranya, bertanya kepada Krisna.


Kris tak menjawab, ia ikut bergabung dengan papanya duduk di kursi yang berada di samping papanya. Terdengar helaian nafas berat dari Kris. Kris sudah seperti orang yang banyak beban.


"Ada apa? Masalah Viola?" Tanya papa Yusdistira lagi. Ya begitulah akhir-akhir ini Krisna galau tingkat dewa.


Lagi-lagi Krisna tak menjawab, ia malah mengambil cangkir yang berisikan kopi milik papanya. Lalu Kris menyeruputnya.


"Pahit." Ucap Kris, usai meneguk kopi tersebut, kopi favorit papa Yudistira memang kopi hitam tanpa gula. Ya sudah dipastikan pahit tidak ada rasa.


"Ya itu emang kopi hitam tanpa gula Krisna!" jelas papa Yusdistira, sambil menahan tawanya.


"Gak sepahit kisah cintaku Pah!" ucap Kris, ia menyandarkan tubuhnya di kursi tersebut, matanya menatap lurus kedepan, dengan tatap kosong.

__ADS_1


"Kamu tau cara membuat kopi ini menjadi manis?" Tanya papa Yusdistira.


"Di kasih gulalah Pah, anak kecil juga tau!"


"Nah makanya itu, kalau kamu mau kisah cinta kamu itu manis, kasih gula makanya."


"Ini cinta Pah, bukan kopi." Protes Krisna.


"Hay anak muda jangan salah, kopi sama cinta itu gak jauh beda."


Kris tersenyum tipis, sambil menggelengkan kepalanya, ada-ada saja memang tingkah papanya itu. Apa hubungannya kopi dengan cinta.


"Kamu taukan caranya kopi ini agar menjadi manis, kamu bilang tinggal tambahkan gula. Nah kita juga butuh proses biar untuk menambahkan gula tersebut, agar kopi ini manis, kamu harus mengambil gula, mencampurkannya dengan kopi, lalu mengaduknya. Bukan begitu? Lalu apa bedanya dengan cinta? Kamu merasakan kalau kisah cinta kamu itu pahit, sebenarnya bukan begitu, tidak pahit. Hanya saja kamu tidak mau melakukan prosesnya. Tambahkan gula itu dalam kisah cinta kamu, tapi bukan gula pasir tau gula aren. Gula yang dimaksud papa itu gula cinta. Kamu tau gula cinta itu bagaimana? Perjuangan Krisna. Jika kamu benar mencintai Viola perjuangkan dia." Jelas papa Yudistira.


Kris terdiam, ia mencoba mencerna semua kata-kata papa Yudistira. Iya memang faktanya, Kris tidak memperjuangkan Viola. Ia masih tetap bertahan dengan egonya.


"Hanya apa? Gengsi? Masalah ditolak itu urusan belakangan Krisna, kalau kamu sudah berjuang setidaknya kamu tidak penasaran!" pungkas Papa Yusdistira, memotong ucapan Krisna.


Lagi-lagi Kris di buat bungkam, iya memang. Memang yang diucapkan oleh papanya semuanya benar.


"Kamu lemah Kris, payah!" ledek papa Yusdistira, "kalah sebelum berperang. Belum juga berjuang." Lanjutnya.


"Bukan begitu Pah, Kris bingung. Bagaimana caranya Kris berjuang. Viola besok akan bertunangan!" elak Krisna.


"Pikirkan baik-baik ucapan papa tadi. Semuanya butuh proses Kris. Seperti membuat kopi, jika kamu tidak tau caranya, kamu akan melakukan apa?"

__ADS_1


"Bertanya," jawab Kris.


"Bertanya sama siapa?"


"Ya ahlinya Pah, orang yang ahli membuat kopi."


"Lalu?"


"Apa?" Kris malah berbalik bertanya.


Papa Yusdistira menepuk jidatnya, kok bisa sih dia punya anak kaya Krisna. Dalam urusan bisnis ia bisa dengan begitu cepat menanggapi semuanya. Tapi dalam urusan beginian? Sumpah papa Yusdistira, angkat tangan.


"Pikirkan sendirilah Kris, papa pusing." Ucap papa Yusdistira, lalu ia berajak dari duduknya. Berjalan masuk ke dalam rumahnya.


Kris menggaruk kepala yang tidak gatal, "papa saja pusing, apa lagi Kris pah!" gerutu Kris.


Bersambung..


Like


Komen


Vote


Jangan lupa ya...

__ADS_1


satu bab lagi, semoga otak author berjalan lancar ya, gak kaya otak bang Kris..


Wkwkwk


__ADS_2