
Sementara itu, Diki yang baru saja selesai mengerjakan semuanya pekerjaanya. Ia langsung meluncurkan mobilnya menuju kediaman papa Yusdistira.
Sekitar tiga puluh lima menit kemudian, dia sampai di rumah tersebut. Diki segara keluar dari dan berjalan masuk ke dalam rumah tersebut.
Papa Yusdistira terlihat sudah menunggu ke datangan Diki.
"Pak King..." sapa Diki, ia mendekat kearah papa Yudistira, lalu meraih tangannya.
"Ada apa Pah King?" lanjutnya bertanya, usai menyalami papah Yusdistira, yang sudah ia anggap sebagai papanya sendiri.
"Duduk dulu, gak sopan bicara sama orang tua sambil berdiri gitu!" titah Papa Yudistira, Diki memberikan cengiran kuda, lalu ia--pun duduk di samping papa King--nya.
"Cepek?" tanya papa Yusdistira, ia melihat wajah Diki yang terlihat sangat lelah.
"Enggak!!'' jawab Diki sedikit ketus. Udah tau malah nanya, eh sabar gak boleh esmosi kalau bicara sama orang tua, jadi anak durhaka baru tau rasa!
"Bicara sana sama Kris, sedari tadi dia gak mau keluar kamar! Keliatannya dia sedang marah. Apa kamu tau sesuatu?"
"Ck, dia merajuk ceritanya Pah King, ngurung di kamar segala lagi, caper!!" jawab Diki, ia malah meledek Kris.
Papa Yudistira mengelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis, "sudah samperin sana!"
"Hais, itu orang pasti lagi kesel sama Viola deh Pah King,"
"Kesel? Bukannya hari ini dia mau nembak Viola?"
"Gagal kaya Pah King, atau Viola nolak dia? Eh tapi tadi Diki gak liat Kris barengan sama Viola, malah Viola pulang duluan. Katanya ada kepentingan keluarga!''
Pah King--nya hanya mengangguk-anggukan kepalanya.
"Ya sudah cepat temuin dia, biasanya dia suka mau cerita kalau sama kamu!"
"Ck, Pah King bisa aja. Kalau kaya gini sih Diki kaya mamah dedoh. Mamah curhat dong!!!'' ucap Diki, sambil menirukan suara yang pernah ia tonton di salah satu stasiun tv.
Diki--pun langsung berjalan menaiki anak tangga, menuju kamar Kris. Papa Yudistira lagi-lagi mengelengkan kepalanya. Sikap Kris dan Diki bertolak belaka. Tapi dua-duanya sama-sama menyebalkan kadang. Tapi percayalah papa Yusdistira sangat menyayangi kedua laki-laki itu.
__ADS_1
Klek..
Diki membuka kenop pintu kamar Kris, tanpa mengetuk atau minta izin sama yang empunya kamar, dia langsung nyelonong masuk begitu saja.
Kris yang melihat kedatangan Diki, ia langsung memberi tatapan tajam. Namun tatapan tajam Kris gak ngaruh tuh buat Diki, gak takut!!
"Ngapain elo?" tanya Kris, dengan wajah dinginan, matanya masih menatap tajam Diki, yang berjalan mendekatinya, melangkah dengan begitu santai.
"Mau numpang istirahat!" jawab Diki, ia menjatuhkan tubuhnya di atas kasur super duper empuk milik Kris tersebut.
"Elo pikir kamar gue hotel?" Diki tak menyahut, ia malah memejamkan matanya, sejanak merenggangkan otot-otot dan otak imutnya.
"Sana keluar dari kamar gue!" usir Kris, "jangan ganggu gue!"
"Elo di tolak Viola?" Bukannya menjawab, Diki malah berbalik bertanya.
Kris tersenyum sinis, di tolak? Mana ada? Seorang Krisna Yusdistira yang mempunyai sejuta pesona, di tolak oleh seorang wanita! Pikir Kris, dengan Angkuhnya.
"Gak, oh iya besok bikin surat pemecatan buat gadis itu!"
"Siapa lagi, buat gadis menyebalkan itu!"
"Elo becandakan?" Diki terkejut mendengar ucapan Kris barusan.
"Emang elo liat kalau gue lagi becanda hah?" Diki langsung mengelengkan kepalanya.
"Tapi apa kesalahan Viola sampe dia mau elo pecat? Apa dia melakukan kesalahan yang fatal? Elo gak bisa mecat karyawan seenaknya dong Krisna. Jangan bawa-bawa urusan pribadi sama kerjaan. Elo gak profesional benget sih!" pekik Diki.
Bukan apa-apa, kalau Viola di pecat, setiap hari auto dia lembur terus, lagian juga kerja Viola selama ini bagus!
"Sudah jangan banyak bicara lakukan saja!" tegas Kris, tak mau di bantah, keputusannya sudah bulat tidak bisa diganggu gugat.
"Stt, elo bener-bener ya Kris, pikir dulu dengan baik-baik. Jangan ngambil keputusan saat elo emosi gini! Kerja Viola itu bagus." Diki keukeh membela Viola.
"Oke, kalau elo gak mau. Biar gue yang bikin surat pemecatan itu sendiri, sekalian gue buat surat pemecatan juga buat elo," ancam Kris.
__ADS_1
Diki langsung menelan silivanya. Ia bingung di sisi lain, sangat di sayangkan jika perusahan memecat Viola, gadis itu sangat baik selama berkerja di sana. Tapi jika tidak nasibnya di ujung tanduk juga.
"Ah sial, keliatannya Kris gak main-main. Mampus gue kalau sampe beneran di pecat. Mana cicilan masih banyak, ah Viola maafin gue ya!!" batin Diki.
"Oke besok gue kerjain semuanya!" jawab Diki, pasrah.
"Bagus!!" Kris tersenyum puas.
"Lihat saja besok, aku pastikan kamu bertekuk lutut dihadapanku Viola, inilah akibatnya kalau kamu bermain-main denganku!" gumam Kris.
***
Sementara itu Viola kini sudah berada di kamarnya, usai ia pulang dari rumah Dave. Pikiran dan hati Viola gelisah.
"Ah bagaimana ini? gue nyesal udah menganggukan kepala tadi, gue kira Meraka gak bertanya sama gue! Ah sialan kenapa gue jadi kejebak di situasi seperti ini sih." gumam Viola.
Bersambung...
Like
komen
vote
Jangan lupa ya!!
Konfliknya udah mau mulai guys, tetap stay ya!!
Tenang aja konflik gak berat kok.
Cukup rindu aja yang berat, konflik jangan!! Eh
See u
Terima kasih.
__ADS_1