My Presdir Arogan

My Presdir Arogan
Episode 38


__ADS_3

keluarga Viola cukup lama berada di mall tersebut, Adam memanjakan orang tua dan adik-adiknya itu.


Sore menjelang mereka--pun memutuskan untuk pulang. Adam, Mila, Anita, pak Arga dan Bu Hanum, mereka pulang bersama menaiki mobil Adam. Seperti posisi awal mereka. Viola dan Dave berdua di mobil yang berbeda.


Walau--pun baru beberapa jam bersama, Dave dan Viola sudah terlihat sangat akrab, mereka bahkan sudah saling tukar nomer ponsel. Dan minggu depan Dave mengajak Viola untuk jalan bersama, menikmati akhir pekan mereka. Dave gerak cepat sepertinya!!


Viola dan Dave sampai terlebih dahulu di rumah Viola, entah kemana kakak dan orang tuanya, padahal tadi mereka terlebih dahulu pergi pulang.


"Mereka sepertinya belum sampai," ucap Dave. Memarkirkan mobilnya di halaman rumah Viola.


"Iya, kemana mereka? Bukannya mereka tadi pulang lebih dulu dari kita?" Tanya Viola.


Dave menganggukan kepalanya, "ya sudah kita tunggu saja mereka,'' jawab Dave.


Viola dan Dave--pun keluar dari mobil tersebut, mereka berjalan menuju kursi yang terbuat dari plastik yang ada di depan teras rumah Viola, warna kursi plastik itu-pum terlihat sudah memudar, Dave nampak ragu untuk duduk di sana.


"Kenapa?" Tanya Viola, ia keheranan melihat Dave yang masih berdiri, padahal kursi di sebelahnya kosong.


Dave tersenyum kikuk, tanganya menggaruk kepala, yang tidak gatal, matanya menatap ke kursi plastik usang itu.


Viola tersenyum sambil mengelengkan kepalanya, melihat tingkah Dave tersebut.

__ADS_1


"Tenang saja kursinya masih kokoh kok, walau--pun sudah tidak cantik lagi!" Ucap Viola, tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya, sepertinya wanita itu tau apa yang sedang di pikirkan oleh Dave.


Dave menganggukan kepalanya pelan, perlahan dia pun duduk di kursi tersebut. Seketika suasana menjadi hening, Dave dan Viola masih sama-sama diam.


Dave merasakan jantungnya mulai tidak normal, jika di tv mungkin jantung Dave akan terdengar bunyi, deg deg deg yang sangat kencang. Sedangkan Viola, wanita itu terlihat biasa-biasa saja.


"Oh iya Vi, elo kerja di mana?" Tanya Dave, ia membuka suaranya, tidak baik diam terlalu lama apa lagi di samping Viola, bisa-bisa jantung Dave melompat ke angkasa raya.


"Gue kerja di YS grup," jawab Viola.


"Emm, jadi apa?"


"Waaw keren! Kalau gue jadi Presdir-nya seneng banget sih bisa punya sekertaris kaya elo. Kaya kerja juga gak bakalan capek," ujar Dave.


Viola memutar bola matanya malas, "ck, itu sih menurut elo, gue juga seneng kalau Presdir-nya kaya elo,'' sahut Viola, wajah wanita itu nampak sedikit kesal.


Dave mengangkat sebelah alisnya, "loh emangnya kenapa dengan Presdir elo itu?" Tanya Dave, jujur saja Dave merasa penasaran, dari gelagat Viola, Dave bisa menyimpulkan bahwa ia sepertinya tidak nyaman bekerja di sana.


"Elo taukan Presdir Ys Grup?" Tanya Viola.


"Emm, Krisna Yudistira--kan?"

__ADS_1


"Iya, elo tau orangnya?" Tanya Viola lagi, dan Dave menjawab dengan gelengan kepalanya.


"Krisna Yusdistira itu, laki-laki yang tadi bersama Diki."


"Yang tadi kita bertemu di mall?" Tanya Dave. Viola langsung menganggukan kepalanya, namun dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat kesal.


"Yang sikapnya dingin itu?" Tanya Dave lagi.


"Iya yang dinginnya melebihi es batu yang ada di kulkas gue, gak cuman dingin sikap bos gue itu, dia juga menyebalkan, arogan pula," jelas Viola dengan wajah kesalnya.


"Terus kenapa elo masih kerja di sana?''


"Gue kerja butuh, bukan kerja betah. Lagian sekarang itu susah cari kerjaan, maka itu gue masih tetep bertahan kerja di sana!"


Dave hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Mamang sudah terlihat sih ke Arogan--an di diri seorang Krisna Yusdistira. Tadi saja Kris tidak sama sekali menerima uluran tangannya. Bahkan dia terlihat tak perduli.


Bersambung...


Like, komen dan Votenya ya.


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2