
Viola melajukan motornya, membelah jalan raya yang terlihat sangat padat di pagi hari, apalagi hari ini hari Senin, sudah tidak bisa di pungkiri orang-orang mulai menjalankan aktifitasnya kembali.
Jujur saja Viola sangat membenci hari Senin, dari dulu hingga saat ini. Dulu pas sekolah paling malas jika harus mengikuti ucapara dan sekarang hari senin ia kembali masuk kerja. Apa lagi di kantor setiap harinya Viola harus menguatkan hatinya, bersabar menghadapi My Presdir Arogan--nya.
"Kapan ya gue jadi holang kaya? Enak kayanya naik mobil bagus, duduk santai, mobil ada yang bawa sama sopir," keluh Viola.
Tak lama kemudian Viola--pun sampai, ia langsung menuju ruangannya, karna Viola yakin perkerjaanya pasti sudah numpuk-puk hari ini.
Dan benar saja, tumpukan berkas sudah tersusun rapi di atas mejanya.
"Ini kerja apa di kerjain?" keluhnya kesal.
Viola mendudukkan pantatnya di atas kursi kerja miliknya itu. Ia mulai membuka leptop-nya. Mulai mengerjakan pekerjaanya.
"Wah-wah rajin sekali eperibadeh!!!" Seru seseorang yang masuk tanpa permisi ke dalam ruangan Viola, siapa lagi kalau bukan calon bad boy, babang Diki.
"Stt, sialan ngagetin aja elo Pokemon!"
"Hais kok Pokemon sih? Udah keceeh begini juga masih bilang pokemon!" Sangrah Diki, tak terima.
"Elo emang kaya pokemon tau, muncul di mana saja!"
"Gemoy dong gue..." Diki meyugar rambutnya dengan gaya sok ganteng.
"Gemoy kaya cimol elo mah," sahut Viola, meledeknya.
Diki memutar bolanya mata malas, lalu ia berjalan mendekat ke meja Viola.
"Lagi ngapain elo?" Tanyanya, sudah tau Viola lagi kerja malah nanya. Hadeeeh, minta di tabok online ini mah.
"Lagi makan!" jawab Viola, asal-asalan.
"Makan, makan apaan Neneng?"
"Makan hati!!!" Jawab Viola, dongkol.
"Makan hati enak, dari pada makan batu,"
"Oh ya? Tapi sekarang kayanya gue pengen makan buaya deh!!" ucap Viola, tersenyum dengan senyuman yang sulit di artikan.
Diki menatap bingung, "buaya? Elo sehatkan Vi?"
"Sehat kok," jawab Viola. "Gue pengen makan buaya darat kaya elo." Sambungnya, Viola berajak dari kursi lalu berjalan mendekat kearah Diki.
Diki terlihat ketakutan, seketika badannya terasa gemetar, Viola terus berjalan mendekat namun Diki terus menjauh, selangkah Viola maju, selangkah Diki mundur.
Maju mundur, maju mundur cantik, cantik, cantik...
"Vi, e--lo ma--au nga--pain?" Tanya Diki, terbata-bata.
Namun Viola tak menjawab, Viola masih menyunggingkan senyuman liarnya itu.
"Awas gue mau lewat," ucapnya, Viola menabrakkan bahunya ke bahu Diki. Lalu Viola menjulurkan lidahnya, tertawa kepada Diki.
__ADS_1
"Calon bad boy kok gitu!" Ledeknya sambil berlalu dari ruangan tersebut. Viola berjalan menuju pentry, Viola merasa haus, ia berniat mengambil air minum.
"Sial," pekik Diki, ia marasa malu.
"Kirain gue dia ngajak bercinta," sambungnya.
wkwkwk ngarep.
Diki--pun keluar dari ruangan Viola, ia marasa salah tingkah sendiri.
"Astaga pikiran gue kok jadi omse ya!!" Gumam Diki.
Ada yang tau Omes apa? Bukan Omes presenter itu ya!!
Omes yang di **katakan Diki itu (otak Mesum)
Wokeey lanjut**....
.............
Kris baru saja sampai di kantor, seperti biasa para karyawannya membungkuk hormat kepada atasannya itu dan Kris seperti biasa juga dingin dan datar menanggapi mereka, apa lagi suasana hati Kris sedang tidak baik-baik saja hari ini. Bukan hari ini sih, dari kamarin sebenarnya.
Kris langsung masuk ke dalam lift, tak lama lift terbuka dan Kris langsung berjalan menuju ruangannya.
"Panggil Viola ke sini," pinta Kris kepada Diki lewat sambungan telfon. Tanpa menunggu jawaban dari Diki Kris langsung mematikan sambungan tersebut.
Tak lama kemudian pintu ruangannya terdengar di ketuk.
Tok tok tok
Viola membuka pintu tersebut dan langsung mengayunkan kakinya masuk.
"Selamat pagi pak, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Viola ramah, dengan senyuman merekah dari bibir ranumnya.
"Duduk," pinta Kris.
Viola--pun menurut ia duduk di kursi yang ada di hadapan Kris.
"Nanti siang kamu ikut saya," ucap Kris. Seperti biasa dengan wajah yang dingin.
"Bukannya nanti siang tidak ada jadwal metting pak?"
"Memang,"
"Lalu?" Tanya Viola, keheranan.
"Bisa gak kamu gak usah banyak tanya hah? Saya bilang ikut ya ikut," tegas Kris.
"Maaf, baik pak nanti saya akan ikut bapak!" jawabnya.
"Bagus, sana keluar," usir Kris sambil mengibaskan tanganya.
Viola mengangguk dan berajak dari kursi tersebut, berjalan keluar dari ruangan bosnya itu.
__ADS_1
"Ck, gak jelas banget sih tuh orang, ngapain ngajakin gue coba? Kan gak ada acara pertemuan kantor hari ini," ucap Viola pelan, sambil berjalan menuju ruangannya kembali.
"Gue harus hati-hati nih, gue mencium bau-bau ke tidak enakan ini. Awas aja kalau sampai dia ngerjain gue, gue gantung elo bos arogan di pohon kencur!" gerutu Viola.
Viola--pun kembali mengerjakan pekerjaannya.
.....
"Bagaimana Dave? Apa kamu yakin dengan Viola?" Tanya Adam kepada adik iparnya itu.
"Kalau aku yakin banget kak, aku suka dengan sikap Viola yang apa adanya," jawab Dave, diiringi senyuman bahagianya.
Adam mengangguk senang, "tapi kakak sudah mengingatkan kamu ya Dave, Kakak tidak mau memaksa jika Viola tidak jatuh cinta sama kamu," ucap Adam.
"Iya kak, tenang saja. Dave ingat kok kata-kata kakak. Dave juga tidak akan memaksa kok. Kalau sudah jodoh tidak akan kemana-mana, iyakan kak?"
"Iya kamu benar," jawab Adam.
"Dave akan terus berusaha Kak, doakan saja!"
"Tentu saja, kakak senang jika Viola bersama kamu,"
"Ya sudah lanjutkan sana kerja kamu, kakak pusing banyak banget kerjaan hari ini," keluh Adam.
"Sabar kak, orang sabar rezekinya lebar," ucap Dave sambil terkekeh.
"Kamu bisa saja!"
"Belajar dari Viola kak nih," sahut Dave.
"Ketularan amsrud ya kamu," ledek Adam.
Dave menggaruk lehernya, yang tidak gatal. Bisa-bisanya ia berbicara seperti itu, konyol. Pikirnya.
"Ya sudah aku lanjut kerja dulu ya kak!" Pamit Dave, diangguki oleh kakak iparnya itu.
Dave--pun mengayunkan kakinya keluar dari ruangan Adam.
"Oh iya Dave..."
"Kenapa kak?" Dave menghentikan langkahnya, lalu menoleh kearah Adam.
"Ajak Viola makan siang hari ini, dia pasti senang. Gaskeun Dave, jangan kasih kendor." Seru Adam, menyemangati adik iparnya itu.
"Wokey kak, saran yang bagus!"
Dave--pun kembali mengayunkan kakinya, keluar.
"Saran yang bagus, nanti aku hubungi Viola untuk makan siang bersama, semoga saja dia mau," gumam Dave.
Bersambung...
Like, komen Votenya ya...
__ADS_1
Terima kasih.