My Presdir Arogan

My Presdir Arogan
Episode 49


__ADS_3

Viola dan keluarganya serta keluarga Dave mereka baru saja sampai di kediaman orang tua Dave, rumah mewah bernuansa putih itu terlihat begitu elegan. Viola dan keluarganya di buat takjub, ini memang bukan yang pertama kalinya mereka ke rumah tersebut, namun mereka tetap saja selalu merasa takjub setiap berkunjung ke rumah mewah tersebut.


Antara takjub dan juga gugup, keluarga Viola tentu saja sangat berbeda kastanya dengan mereka, namun syukurnya keluarga Dave atau keluarga Mila juga, yang tak lain menantunya. Yang berarti mereka berbesanan itu tidak pernah melihat orang dari sebuah kekayaan. Mereka sangat menghormati keluarga Viola.


Saat mereka masuk, para pelayan rumah tersebut telihat menyambut mereka dengan ramah.


"Mbak, apa makanan sudah siap?" tanya mami Dave kepada salah satu pelayannya.


"Sudah nyonya!"


"Ya sudah sebaiknya kita langsung menuju meja makan saja, jam makan malam sudah waktunya!" ajak mami Dave kepada semua orang. Dan mereka semua menganggukan kepalanya.


Semua orang langsung berjalan menuju meja makan, berbagai hidangan mewah terlihat sudah tersusun rapi di atas meja makan tersebut.


"Maaf ya, kami hanya bisa menjamu kalian seadaanya!" ujar papi Dave.


"Ah, ini sudah lebih dari cukup besan, terima kasih. Kami jadi merepotkan," ucap bapak Arga, ia merasa tidak enak dengan besannya itu.


"Ah besan ini bisa saja. Tidak kok, kami tidak merasa di repotkan justru kami senang kalian semua berkunjung kesini. Iyakan mih?" papi Dave melirik kepada istrinya.


"Iya pih, benar!"


"Ya sudah, ayo silahkan. Silahkan duduk!" titah papi Dave. Mereka--pun duduk di kursi meja makan tersebut. Untung ini rumah holang kaya, kalau di rumah Viola kalau makan banyakan kaya gini, sudah di pastikan kursi meja makan gak akan cukup.


"Silahkan-silahkan dimakan!" ucap papi Dave lagi. Mereka--pun satu persatu mulai mengambil nasi dan lauk pauk yang sudah tersedia, secara bergantian.


"Dam, kamu pimpin doanya!" titah papi Dave, kepada sang menantu idaman. Eaaaa....


Asal kalian tau ya!! Adam itu mantu kesayanganya papi Dave, makanya dia di percaya untuk memegang semua aset perusahan milik keluarganya. Yang bikin papi Dave merasa sangat bangga kepada Adam sang menatunya itu, di balik kekayaan yang dia berikan, Adam tak pernah menyalagunakan kekayaannya itu, dia hidup sederhana, bahkan rumah Adam dan Mila tidak semewah rumah orang tua Mila. Adam selalu mengajarkan Mila hidup sederhana, di tengah kekayaannya yang melipah.


Adam menganggukan kepalanya, lalu ia mulai memimpin doa, semua orang mengikutinya. Usai berdoa selesai semua orang mulai memakan, makanan mereka masing.

__ADS_1


Di sela makan malam dua keluarga itu, terlihat jelas kehangatan yang terpancar, bahkan wajah mereka semua terlihat begitu bahagia. Jarang-jarang moment seperti ini terjadi. Jadi mereka tak melewatkan moment ini dengan bercangkrama hangat, mengobrol hal-hal yang terkadang membuat mereka tertawa. Apa lagi mendapati kelakuan Viola dan Anita, adik kakak yang selalu mendabatkan apa saja. Dua-duanya tidak mau kalah jika merebutkan sesuatu. Dan hal itu membuat mereka tertawa, sikap bar-bar kedua gadis itu membuat mereka menggelengkan kepala.


Usai menghabiskan makan malam mereka, kini mereka berpindah tempat ke ruang tengah untuk memulai kembali obralan mereka. Namun kali ini sepertinya mereka akan mengobrol serius.


"Haduh, maaf ya besan. Kelakuan dua putri kami ini, kalau membuat kalian tidak nyaman." Ucap ibu Hanum, ia merasa malu dengan keluarga Dave, karna sikap Viola dan Anita.


Sedangkan Viola dan Anita, mereka hanya menyengir kuda mendengar ibunya yang meminta maaf tersebut.


"Elo sih, dek!" bisik Anita kepada Viola, sambil menyengol tangan adiknya itu.


"Lah kok gue? Elo juga kali." Jawab Viola, yang juga berbisik kepada Anita, tak mau kalah. Ibu Hanum langsung memberikan tatapan maut kepada dua putrinya itu, masih saja bikin malu. Awas aja kalau nanti kalau sudah di rumah, ibu Hanum akan menghukum kedua putri bar-barnya itu.


"Sudah, tidak usah di pikirkan besan. Justru kami senang kehadiran mereka membuat suasana semakin ramai," ucap mami Dave.


"Iya benar, gak usah minta maaf, kami senang!" timpal papi Dlaave.


"Ya sudah sekarang ngobrolnya kita alihkan ke mode on serius!" ucap papi Dave lagi. Mereka semua menganggukan kepalanya.


"Jadi kapan acara pernikahannya akan dilakukan!" tanya mami Dave, sangat antusias.


Ke dua orang tua Viola saling melemparkan pandangannya, sedangkan Adam dan Mila hanya tersenyum sambil menganggukan kepalanya, Anita juga ikut tersenyum ia sudah mengerti dengan arah pembicaraan mereka. Sedangkan Dave wajahnya terlihat memerah, senyuman gugup terpancar dari Dave. Sedangkan Viola, ia menatap heran kepada semua orang, Viola sama sekali tidak mengerti dengan pembicaraan tersebut.


Siapa yang akan menikah? Kak Mila? Tidak mungkinlah diakan udah nikah dengan kakaknya kak Adam. Atau Dave yang akan menikah? Tapi sama siapa? Apa jangan-jangan sama kak Anita? Pikir Viola, ia bertanya-tanya dalam hatinya, dengan otak yang berpikir kerasa.


"Kalau kami gimana siap merekanya saja! Yakan pak?" jawab Ibu Hanum, tersenyum melirik kearah suaminya.


"Iya benar, kita bicarakan saja sama jenisnya. Gimana kesiapan mereka!" timpal bapak Arga.


Orang tua Dave, Adam dan Mila, menganggukan kepalanya.


Anita masih setia dengan senyum manisnya, sedangkan Dave ia semakin merasa gugup. Dan Viola, ia masih berpikir keras dengan pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Oke kalau begitu," papi Dave melihat kearah Dave. "Dave kamu sudah siap?" tanyanya.


"Insa'allah Dave sudah siap pih!" jawab Dave, sambil malu-malu meong.


Mereka semua tersenyum lebar, menatap kearah Dave. Setalah itu mereka semua mengalihkan pandanganya kearah Viola. Viola terheran, kenapa mereka menatap kearah Viola? Dan tatapan mereka membuat Viola seketika menjadi gugup. Viola masih tak mengerti dengan semua ini?


Tak sadar Viola menganggukan kepalanya, padahal tidak ada yang bertanya apa-apa kepada Viola, sepertinya wanita itu terkesima.


Orang tua Viola, Anita Adam dan Mila, membulatkan matanya. Mereka tak percaya bahwa Viola menyetujuinya dengan sangat muda. Mereka pikir akan ada penolakan keras dari Viola.


Sedangkan orang tua Dave, mereka tersenyum bahagia. Dan Dave ia merasa semuanya seperti mimpi.


"*Benarkah? Apa aku sedang bermimpi? Viola mau menikah denganku, dia sudah siap menikah denganku. Ya tuhan terima kasih. Engkau sudah mengabulkan semua doa-doaku," batin Dave.


"Ada apa sih ini sebenarnya? Ada apa dengan mereka? Kenapa mereka menatapku seperti itu, apa ada yang salah dengan penampilanku? Ah mereka membuatku merasa tidak nyaman. Sebenarnya siapa yang akan menikah, ah aku jadi pusing begini sih," gumam Viola*.


Tatapan Viola, mengisyaratkan penuh tanya. Dia butuh penjelasan dengan semua ini. Dan anehnya kenapa dia tadi menganggukan kepalanya? Orang gak ada yang nanya juga! Sumpah demi apa--pun, Viola jadi pusing sendiri.


Bersambung...


Like


Komen


Votenya


Jangan lupa ya!!


See u


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2