
Sementara itu, Dave yang baru saja meninggalkan Caffe tempat ia bertemu dengan Anita. Dave langsung melajukan mobilnya menuju satu tempat.
Tak lama kemudian Dave sampai, seorang laki-laki terlihat sudah menunggu kedatangannya.
"Aku sudah turuti apa mau kamu! Ingat tepati janji kamu. Kalau sampai kamu berani macam-macam dengan Viola atau--pun melukainya. Lihat saja nanti," tegas Dave, yang kini sudah berhadapan dengan laki-laki tersebut.
"Oke, baiklah. Tapi ingat tugasmu belum selesai. Kamu harus membatalkan dulu pertunangan kalian."
Dave tersenyum sinis, "tenang saja, aku akan membatalkannya."
"Bagus! Dan satu lagi, jangan bilang siapa--pun tentang hal ini. Kalau sampai kamu memberi tahu orang lain tentang masalah ini, maka aku akan melanggar janjiku, aku akan membuat semua perusahan keluargamu hancur, dan gadis kesayanganmu itu hancur," ancamnya.
"Berhenti mengancamku. Kau pikir kau ini siapa hah?" Bentak Dave, "jika saja kalian tidak membawa-bawa perusahan milik keluargaku, aku sama sekali tidak takut dengan ancaman kalian. Dasar manusia-manusia busuk, memanfaatkan kekuasan hanya untuk keuntungan pribadi. Cuih..." Dave tidak bisa lagi menahan amarahnya.
"Jaga bicaramu!" bentak laki-laki itu. Ia menatap Dave penuh amarah.
"Kenapa hah? Kamu tidak terima? Memang benarkan kenyataannya." Dave tersenyum smirk.
__ADS_1
Laki-laki itu terlihat mengepalkan tangannya, wajahnya sudah semakin memerah menahan amarah. Ucapan Dave sangat menyinggung hatinya. Ia merasa harga dirinya di injak-injak oleh Dave. Namun Dave terlihat begitu santai menanggapinya.
"Kenapa? Masih mau mengelak?" ucap Dave lagi.
Laki-laki itu hanya terdiam, lalu berajak dari hadapan Dave. Tanpa sepatah kata--pun.
"Argggg......" Teriak Dave.
'Maafkan aku Viola, aku terpaksa melakukan semua ini. Aku sangat mencintaimu, maafkan aku. Aku tau aku laki-laki lemah, bahkan aku tidak bisa memperjuangkan--mu, hanya karna ancaman mereka. Tapi percayalah Viola, aku sangat mencintaimu. Aku tau setelah aku membatalkan semuanya, kamu pasti akan membenciku. Tapi aku tidak ada pilihan, aku gak mau perusahaan keluarga ku hancur, mereka dengan susah payah membangun semuanya, aku tak ingin mereka kecewa, walaupun aku tau mereka akan lebih kecewa dengan keputusan ku saat ini. Aku mencintaimu Vio, maafkan aku..' gumam Dave, dengan lirih.
Ya sebenarnya Dave sangat mencintai Viola, ucapnya tadi kepada Anita, hanya bohong belaka. Semua itu karna ada orang yang mengancam Dave. Dave tau dalang dari semua rencana itu. Namun Dave tak bisa apa-apa, karna memang orang yang mengancamnya bukan orang sembarangan, bahkan orang tersebut sangat berperan besan dalam perusahan milik keluarganya. Maka dengan itu, Dave mengalah, ia tak mau keluarganya terkena imbasnya, walaupun Dave tau jika ia membatalkan pertunangannya dengan Viola, keluarganya akan lebih kecewa.
Sementara itu, Adam yang masih berada di kantornya, beberapa kali ia mencoba menghubungi Dave, namun ponsel adik iparnya itu susah sekali di hubungi.
Adam merasa tidak tenang, apa lagi ia terus teringat ucapan Anita tadi, Adam ingin menanyakan kebenarannya kepada Dave. Adam tak mau salah sangka terlebih dahulu, apa lagi tadi ia kelepasan membentak adiknya, rasa menyesal menghinggapi hati Adam.
"Dave, kamu dimana sih? Kenapa ponselmu tidak aktif," ucap Adam. Tangannya masih sibuk memainkan ponselnya, mencoba kembali untuk menghubungi Dave. Namun nihil ponsel Dave tidak aktif.
__ADS_1
"Ya tuhan, kenapa jadi seperti ini? Sebenarnya mana yang benar? Dan mana yang salah? Apa mungkin Dave seperti yang dikatakan Anita? Tapi itu tidak mungkin. Tapi aku tak bisa membohongi hatiku sendiri, Anita sepertinya berkata jujur, aku sangat mengenali sifat adik-adikku!" lirih Dave.
Pikirnya mulai berkecambuk, Adam bingung. Di sini, yang berbohong Anita atau Dave?
Adam menyugar rambutnya dengan kasar, ia sudah tak bisa lagi fokus dengan perkerjaaannya. Adam--pun memutuskan untuk pulang.
Bersambung...
Like
Komen
Vote
Jangan lupa ya!!
Byee...
__ADS_1
Terima kasih.