
Pada malam itu...
Malam sudah larut, Viola sudah tertidur pulas. Namun di saat pulas-pulasnya tertidur. Viola merasakan tenggorokannya kering, Viola--pun membuka matanya yang masih terasa berat tersebut.
Dengan mata yang masih setengah terpejam, Viola meraih gelas yang berada di atas meja samping ranjangnya.
"Stt, habis lagi!" Umpat Viola, saat ia melihat gelas tersebut kosong.
Mau tidak mau, akhirnya Viola--pun bangun dari tempat tidurnya, dengan langkah yang memalas, ia keluar dari kamar tersebut.
Namun pada saat Viola berjalan menuju dapur, Viola melewati kamar orang tuanya.
Viola--pun reflek berhenti berjalan, ia menguping pembicaraan kedua orang tuanya itu. Yang kebetulan pintu kamar tersebut sedikit terbuka.
"Pak sepertinya kita batalkan saja pertunangan Viola sama Dave," ucap Bu Hanum.
"Sepertinya Viola tidak menyukai Dave," lanjutnya.
"Batalkan bagaimana maksud ibu? Kita tidak mungkin membatalkannya Bu, itu sama saja kita mempermainkan mereka. Ibu taukan kalau orang kaya marah seperti apa?"
"Iya pak. Ibu tau! Tapi tidak mungkin orang tua nak Dave seperti itu."
"Bu kita tidak tau isi hati orang lain. Jangan melihat orang dari luarnya saja. Lagian kalau di batalkan itu sama saja membuat kita malu, lagian Viola juga gak proteskan?"
"Tapi pak---"
"Sudahlah bu, membatalkan semuanya gak mungkin. Masalah cinta itu urusan belakangan Bu."
"Terserah bapak, yang pasti ibu udah ngingetin bapak. Kalau sampai terjadi apa-apa nanti sama Viola, bapak yang bertanggung jawab. Ingat pak pernikahan itu bukan untuk main-main. Harta gak menjamin hidup bahagia. Toh kita hidup sederhana seperti ini buktinya, kalau hidup penuh cinta sudah di jamin rumah tangga bahagia!" Ketus Bu Hanum, lalu ia membelakangi suaminya.
Kesal, itulah yang kini tengah di rasakan oleh wanita paru baya itu, walaupun ia ibu yang bawal, cerewet dimata anak-anaknya, namun kasih sayangnya tidak terhingga.
__ADS_1
Bu Hanum tidak mau Viola jadi korban ke egoisannya, maka dari itu dia mengingatkan suaminya, namun apalah daya pak Arga sepertinya sudah bulat dengan keputusannya.
Pak Arga terlihat memijat pelipis keningnya, ia terlihat bingung, apa yang dikatakan istirnya memang benar. Tapi di sisi lain, ia tak ingin mengingkari janjinya kepada orang tua Dave. Sejak dulu mereka memang sudah berniat menjodohkan Dave dan Viola, sebelum Adam dan Mila menikah.
Pak Arga pikir, orang tua Dave akan melupakan perjanjian tersebut, karna salah satu dari anak mereka masing-masing sudah ada yang bersama. Adam dan Mila.
Namun nyatanya, orang tua Dave masih keukeh menjodohkan Dave dengan Viola, seperti janji mereka dulu kala.
Viola yang masih setia menguping di balik pintu kamar orang tuanya itu, entahlah Viola tak kalah bingung. Ia setuju dengan perkataan ibunya, namun ia tak mungkin mengecewakan bapaknya.
Tenggorokan yang tadinya haus, seketika hilang begitu saja, Viola berajak dari depan kamar orang tuanya itu, ia kembali ke dalam kamarnya.
Pak Arga yang melihat ada bayangan di depan kamarnya itu--pun, bertanya-tanya siapa yang lewat, ada rasa sedikit kekhawatiran di hatinya.
'Apa itu Viola?' gumamnya.
Pak Arga--pun berajak dari ranjang, ia berjalan ke luar kamarnya, ia melihat pintu kamar Viola baru saja tertutup, sudah di pastikan tadi memang Viola. Viola pasti mendengar semua obrolannya dengan sang istri.
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan pintu, Viola langsung tersadar dari lamunannya. Ia menoleh kearah pintu kamarnya, pak Arga terlihat masuk kedalam kamarnya.
"Pak..."
"Kamu belum tidur Vio?" Tanya pak Arga, ia berjalan mendekat kearah Viola.
Viola menggelengkan kepalanya, sambil tersenyum tipis.
"Bapak tau kamu tadi menguping semua pembicaraan bapak sama ibu," ucap pak Arga. Matanya menatap lekat putri bungsunya itu.
Pak Arga sangat menyayangi Viola, ia tau. Ia salah memaksa Viola, tapi ia melakukan semua ini demi masa depan Viola.
__ADS_1
"Maaf," jawab Viola lirih, ia menundukan kepalanya.
"Tidak apa-apa," pak Arga mengelus kepala putri bungsunya itu, "bapak harap kamu tidak mengecewakan bapak!" Lanjutnya.
Tidak mengecewakan? Viola paham betul apa yang dikatakan oleh bapaknya itu.
"Iya pak, Viola berjanji tidak akan mengecewakan bapak. Kalau emang semuanya membuat kalian bahagia, apa--pun akan Viola lakukan!"
Pak Arga tersenyum, ada rasa bangga. Namun ada juga rasa yang tak bisa di jelaskannya.
"Terima kasih. Maaf, bapak tau bapak egois. Tapi bapak melakukan ini untuk kebaikan kamu nak, andai saja bapak tidak terlanjur berjanji dengan kedua orang tua Dave, bapak tidak akan melakukan ini."
"Iya pak, Viola paham. Bapak tidak usah khawatir, selama ini Vio selalu merepotkan bapak dan ibu. Anggap saja ini salah satu balasan Viola untuk kalian, walaupun Viola tau semua yang sudah kalian lakukan untuk Vio, tidak pernah bisa terbalaskan."
"Jangan bicara seperti itu nak, kamu itu putri bapak, bapak maupun ibu tidak pernah merasa direpotkan!''
"Terima kasih pak!"
"Sama-sama, nak!"
"Sekarang kamu tidur, sudah malam. Bapak juga mau tidur," lanjut pak Arga. Diangguki oleh Viola, pak Arga pun berlalu keluar dari kamar putri bungsunya itu.
Sejak malam itulah, Viola berusaha akan menepi janjinya kepada orang tuanya. Menerima Dave, walaupun sampai detik ini Viola belum ada rasa cinta kepada laki-laki itu.
Bersambung ...
Maaf baru sempat up.
Jangan lupa, like, komen dan Votenya.
Terima kasih.
__ADS_1