My Presdir Arogan

My Presdir Arogan
Episode 51


__ADS_3

Sebelumnya...


Mereka semua terlihat membulatkan matanya saat melihat Viola yang menganggukan kepalanya itu.


"Elo beneran mau Vi?" tanya Anita, ia menatap sang adik penuh tanya? Segampang itu seorang Viola?


"Emm, mau apa kak?" Viola malah berbalik bertanya, dengan perasaan gugupnya.


"Sudah nak Anita, kasian nak Viola gugup tuh!" sahut mami Dave. Anita memberikan senyuman kikuk sambil menganggukan kepala. Sedangkan Viola ia masih bertanya-tanya ada apa sebenarnya?


"Ya sudahlah, nanti gue tanya di rumah aja! Beneran ini bocah mau kawin sama si Dave, eh kawin nikah maksud gue!" gumam Anita.


"Ya sudah kalau begitu kami pamit dulu besan, sudah malam juga!" ucap pak Arga.


"Enggak nginep aja sekalian besan!" tawar papi Dave.


"Ah tidak, besok saya harus berkerja," tolaknya halus.


"Ya sudah, biar sopir kami mengantarkan kalian!" Pak Arga menganggukan kepalanya.


Mereka--pun berajak dari ruang tengah tersebut, menuju keluar, keluarga Dave mengantarkan keluarga Viola sampai depan. Sopir terlihat sudah siap, mereka--pun langsung masuk ke dalam mobil tersebut. Dan mobil--pun berlalu meninggalkan rumah tersebut.


"Adam, Mila. Kalian nginep saja ya!" ucap maminya.


Mila menoleh kearah Adam, Adam menganggukan kepalanya.


"Ya sudah ayo masuk kita istirahat!" mereka--pun masuk ke dalam rumah kembali.


Sementara itu di perjalan menuju pulang, di dalam mobil orang tua Viola, Viola serta Anita. Tidak ada yang membuka suara, mereka sama-sama diam, dalam larutan pikirannya masing-masing.


Sekitar empat puluh menit kemudian, mereka--pun sampai di rumah mereka. Viola langsung masuk ke dalam kamarnya, diikuti oleh Anita, dengan seribu pertanyaan yang akan mencerca adiknya.


"Elo ngapain ke kamar gue?" tanya Viola, terheran. Viola duduk di tepi ranjangnya, di ikuti oleh Anita.


"Elo beneran Vio mau?"


"Mau apa sih kak? Ngomong yang jelas deh. Kalian semua itu dari tadi buat aku bingung sendiri!" keluhnya.


"Elo bingung, apa lagi gue Vio,"


"Terus hubungannya apa sama gue?"


"Ck, yakin mau nikah sama Dave? Emm, maksud gue! Elo cinta sama dia, sampe elo terima tadi lamaran keluarganya?" cerca Anita.


Viola mengerutkan keningnya, "maksud elo kak?"

__ADS_1


"Astogeh, demi apa sih, elo lagi pura-pura. Apa pura-pura lupa hah?"


"Kak, jelasin ada apa sih? Jujur aja gue gak ngerti sama sekali arah pembicaraan mereka tadi. Tapi gue nyimak, Dave mau nikah, sama siapa? Sama elo?"


Anita langsung menepuk jidatnya, ya ampun jadi kak Adam gak cerita kalau Viola dan Dave akan di jodohkan. Ya ampun kok jadi runyam begini, auto salah paham ini. Pikir Anita.


"Tadi kak Adam gak cerita sama elo? Pas dia jemput elo Vio!" Viola langsung mengelengkan kepalanya.


"Mampus ini, sudah. Tamat ini, berabe urusannya ini, salah paham jadinya!"


"Kak elo kenapa sih? Coba jelasin semuanya sama gue!"


Anita menghelai nafasnya, "oke jadi gini Vio, elo sama Dave itu dijodohin. Jadi maksud pertemuan tadi itu, mau membicarakan soal siap apa enggaknya elo sama Dave buat menikah. Sebenarnya ini itu udah di rencanain lama banget, tapi kita gak maksa buat elo langsung gitu aja, jadi kita mau lihat hubungan elo sama Dave itu murni. Dan belakangan ini kita liat elo masa Dave semakin dekat. Jadi kita pikir elo sama Dave udah sama-sama saling menyukai." Jelas Anita.


Viola langsung membulatkan matanya, apa-apaan ini? Kenapa mereka begitu? Kenapa main jodoh-jodohkan saja! Tidak ini tidak bisa di biarkan.


"Apa? Kalian gila apa hah? Gak gue gak mau, lagian gue gak suka sama Dave, gue anggap dia udah kaya kakak sendiri. Dan untuk kedekatan kami belakangan ini, itu murni karna gue ngerasa bersalah sama kecelakaan yang Dave alami. Kenapa kalian mengambil kesimpulan seperti itu. Harusnya kalian itu tanya gue dulu, jelasin semuanya sama gue, kasih tau gue. Dan elo juga kak, kenapa elo gak ngasih tau gue?"


"Ya gue gak tau, gue kira kak Adam udah jelasin sama elo." Anita nampak bingung, "terus tadi elo ngapain nganggukin kepala elo, saat ditanya siapa tau enggak nikah sama Dave?"


"Ya itu karna gue gak tau apa-apa, lagian tadi mereka gak bertanya apa-apa sama gue! Kalian semua menyebalkan. Pernikahan itu bukan untuk main-main, gue gak suka sama Dave, gue gak mungkin nikah sama dia kak!"


"Iya gue ngerti, tapi kalau udah kaya gini mau gimana coba?"


"Ya kita batalkan saja semuanya, bereskan?"


"Terus gue harus gimana kak? Lagian ini semua salah kalain!"


"Iya gue tau, tapi elo jangan egois Vio, kasian ibu sama bapak, kak Adam juga."


"Egois elo bilang hah? Yang egois itu siapa hah? Gue apa mereka?" bentak Viola.


Anita terlihat bingung, bagaimana ini?


"Jawab kak?" bentak Viola lagi.


"Vio jangan kaya gini. Oke-oke gue emang salah, mereka emang salah."


"Gue mau bicara sama ibu dan bapak!" ujar Viola, ia berajak dari duduknya.


"Vio tunggu!" Anita menarik tangan Viola.


"Apa lagi sih kak!"


"Jangan seperti ini, kita cari jalan keluarnya sama-sama oke!"

__ADS_1


"Jalan keluar, ini jalan keluarganya kak, gue harus bicara sama ibu dan bapak, agar mereka membatalkan semuanya."


"Itu bukan cara yang terbaik Viola, kita cari jalan yang lain saja!'' Anita mencoba menahan Viola, jangan sampai Viola berbicara kepada ibu dan bapaknya, Anita yakin pasti kedua orang tuanya akan marah dan kecewa sama Viola.


Otak Anita berpikir keras saat ini, ia mencoba mencari solusi yang baik.


"Sini duduk lagi!" pinta Anita, ia manarik pelan Viola agar duduk kembali di sampingnya.


"Viola, dengerin gue! Gue sayang sama elo. Gue gak mau kalau sampai ibu dan bapak marahin elo dan kecewa sama elo. Karna elo emang gak salah, ini semua hanya salah paham. Gue ngerti posisi elo, tapi elo juga harus ngertiin posisi ibu dan bapak kalau sampai semua ini di batalkan." Ucap Anita, ia mencoba memberi pengertian kepada adiknya itu. Anita tau posisi Viola saat ini sulit.


"Terus gue harus gimana kak! Gue gak cinta sama Dave!"


"Belum Vio, elo coba jalanin aja sama Dave, elo bilang sama dia jangan pernikahannya jangan di percepat dulu. Urul waktunya. Dan menurut gue elo coba buka hati buat dia, Dave laki-laki baik, kakak yakin dia pasti bisa bahagian kamu, kakak yakin seiring berjalannya waktu kamu pasti mencintainya."


Viola terdiam sejenak, ia mencoba mencerna semua perkataan kakaknya itu.


"Belajar membuka hati untuk Dave? Ya tuhan bahkan aku tidak pernah tau bagaimana rasanya jatuh cinta?" gumam Viola.


"Bagaimana?" tanya Anita lagi.


"Entahlah kak, nanti gue pikirin lagi. Tapi kalau misalnya selama itu, gue gak jatuh cinta sama dia gimana?"


"Apa kalian akan tetap maksa gue buat nikah dengan dia?" lanjut Viola.


"Jika emang elo gak bisa jatuh cinta sama dia, nanti elo bilang sama dia sejujurnya Viola, gue yakin Dave pasti ngerti, Dave pasti akan membatalkan semuanya. Tanpa harus kita yang berbicara kepada orang tuanya!"


"Tapi kak, gue gak mau ngasih harapan sama Dave. Gue gak yakin kalau gue bisa jatuh cinta sama dia."


"Vio, dicoba saja dulu." Keukeh Anita.


Viola membuang napas beratnya, "okelah, ya sudah sana elo keluar gue mau istirahat. Capek!" usir Viola.


"Oke, tapi inget ya yang gue katakan barusan."


"Iya-iya, sana cepat elo keluar."


Anita--pun segara keluar dari kamar Viola.


"Maafin gue dek, gue udah maksa elo. Tapi gue ngalakui ini buat kebaikan elo. Gue harap elo bisa jatuh cinta sama Dave." Gumam Anita.


Usai kepergian Anita, Viola mengusap wajahnya dengan kasar.


"Ya tuhan, kenapa jadi seperti ini. Aku harus bagaimana?" lirih Viola.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan Votenya.


Terima kasih.


__ADS_2