My Presdir Arogan

My Presdir Arogan
Episode 24


__ADS_3

Viola tersenyum lega, akhirnya ia sudah bisa menghafal dan memahami isi berkas yang di berikan Diki tadi, untuk bahan acara metting nanti siang.


"Cukup mudah, bismilah semoga semuanya lancar nanti." Ucap Viola. Dengan penuh semangat.


Kris menutup layar leptop-nya, lalu ia melihat jam tangan mahalnya, yang terlilit di pergelangan-nya itu.


Kris membuang nafas berat, sebentar lagi metting akan segara di lakukan. Kris merasa was-was, mengingat ini pertama kalinya, Viola ikut metting bersamanya, Kris takut gadis gila itu mengacaukannya.


Kris pun berajak dari kursi kebesarannya itu, membenahi penampilannya terlebih dahulu, mengingat metting kali ini bukan metting kaleng-kaleng.


"Semoga dia tidak mengacaukan semuanya." Ucap Kris, lalu berjalan keluar dari ruangannya.


Saat Kris membuka pintu ruangannya itu, terlihat Viola sudah berdiri mematung di sana.


"Eh pak, baru saja saya mau masuk." Ucap Viola dengan ramah, dan mengulas senyumanya.


"Jangan banyak bicara, cepat. Jangan sampai kita terlambat." Tegas Kris, tanpa melihat kearah Viola, Kris melanjutkan langkahnya.


Viola mengangguk, lalu ia berjalan. Viola berjalan sedikit ke susah karena ia belum terbiasa memakai sepatu heels-nya itu.


"Ya ampun itu orang jalannya cepet banget sih."--Gumam Viola.


Yang tertinggal cukup jauh oleh Kris yang sudah berjalan di depannya.


"Apa kamu tidak bisa berjalan lebih cepat." Teriak Kris.


"I-ya pak." Viola terbata-bata.


"Ah sepatu sialan." Gerutu Viola.


Viola mencopot sepatu heels itu dari kakinya, menenteng sepatu tersebut, lalu berlari mengejar Kris.


Kris sudah berdiri, di depan Lift menunggu Lift itu terbuka. Viola akhirnya sampai di dekat Kris, dengan nafas yang sedikit tersenggal-senggal.


Kris menoleh kearah Viola yang berdiri tepat di sampingnya.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Kris, matanya melihat tajam kearah Viola, yang berdiri di sampingnya itu, dengan satu tangan menenteng sepatunya, dan satu tangannya lagi mendekap map di depan dadanya.


"Saya tidak melakukan apa-apa!" Jawab Viola, berbicara apa adanya.


"Pakai sepatumu."


"Tapi pak---"


"Pakai, kamu mau membuat saya malu hah?" Viola mengelengkan kepalanya pelan.

__ADS_1


"Pakai cepat." Akhirnya Viola pun memakai sepatu heels-nya itu kembali.


"*Bos sialan, tidak tau apa penderitaan yang gue rasakan pake ini sepatu bejad." Gerutu Viola.


"Kak Anita juga, ini gara-gara dia. Kaki gue yang imut lucu, bersahaja ini pasti terluka." Lanjut Viola, dalam hatinya.


Lift* pun terbuka, Kris dan Viola langsung melangkahkan kaki mereka, masuk kedalam sana.


Mereka sama-sama diam. Tidak ada yang bersuara di dalam Lift tersebut, Kris memasang wajah dingin dan datarnya. Seolah ia tidak menganggap keberadaan Viola yang di sampingnya.


Viola sesekali mencuri pandang kepada Kris, sambil menggerutu dalam hatinya.


"Sumpah demi apa pun, ini orang apa batu sih. Atau batu yang menyerupai orang, atau sebaliknya? Atau bongkahan es kutub Utara yang tertinggal di sini. Heran gue ini waktu hamil emaknya ngidam apa? Anaknya bisa kaya gini." --Gumam Viola.


"Jaga mata kamu, jangan terus memandangi saya. Nanti naksir, tau rasa." Ucap Kris, tersenyum miring. Menyadari bahwa Viola sedari tadi mencuri-curi pandang kepadanya.


Viola langsung membulatkan matanya. "Naksir?" Viola mengambangkan senyuman mengejeknya. "Amit-amit, jangan ke PeDe--an ya pak." Lanjutnya, memutar bola matanya malas.


"Saya tidak ke PeDe--an. Itu memang faktanya." Jawab Kris tak mau kalah.


"Stt, walau pun di dunia ini cowok terakhir itu adalah bapak, saya gak akan pernah mau pak." Viola sudah mulai kesal.


"Bisa gak sih ini orang sekali saja tidak menyebalkan." Lanjutnya dalam hati.


"Emang kamu pikir saya mau? Jangan mimpi."


"Ck, ngomongnya. Gak laku juga sok-sok'an. Sombong." Ucap Viola pelan, namun masih terdengar oleh Kris.


"Apa kamu bilang saya gak laku?" Kris menatap tajam Viola.


"Kalau emang iya kanapa? Emang beneran bapak gak laku?" Viola membalas tatapan tajam Kris, dengan tatapan yang lebih tajam.


"Apa buktinya? Kamu jangan sok tau ya."


"Saya gak sok tau! Emang itu kenyataannya."


"Buktinya saja bapak masih jomblo-,kan?" Lanjut Viola.


"Saya masih jomblo karna saya tidak ingin salah memilih pasangan." Sangrah Kris.


"Ck, alasan. Gak laku mah gak laku aja pak. Gak usah ngeles."


Kris mengambangkan senyuman yang sulit di artikan.


"Saya tidak ngeles. Karna saya tidak seperti kamu, wanita gila harta. Cantik-cantik mau pacaran dengan om-om." Ledek Kris.

__ADS_1


Membuat Viola kembali membulatkan matanya, apa maksud ucapannya? Berpacaran dengan om-om? Secara tidak langsung Viola merasa kalau bos-nya itu sudah memfitnahnya. Viola tidak terima.


"Apa maksud elo, siapa yang pacaran dengan om-om hah? Jaga bicara elo ya Krisna Yudistira." Ucap Viola penuh dengan amarah.


Namun Kris terlihat begitu santai menanggapinya.


"Kenapa kamu tidak terima?"


Plak....


Sebuah tamparan mendarat ke wajah tampan Kris, Viola tak bisa menahan emosinya, hingga ia tidak bisa mengontrol dirinya.


"Kamu..." Kris menatap tajam Viola, sambil mengelus pipinya yang terasa perih akibat tamparan dari Viola.


Kris mengangkat tangannya, dan..


Ting...


Lift terbuka, tangan Kris sudah siap untuk membalas tamparan Viola, di sana Viola terlihat menundukan kepalanya. Namun Kris menyadari karyawan-karyawannya memerhatikan mereka. Sambil berbisik-bisik.


"Sial..." Umpat Kris.


Perlahan Kris menurunkan tangannya, mengurungkan niatnya itu. Lalu Kris mengelus kepala Viola.


"Jangan bersedih." Ucap Kris, Kris bersandiwara seolah-olah ia sedang menenangkan Viola. Kris tak mau kalau karyawan-nya sampai memandangnya buruk.


Lalu Kris menarik tangan Viola, "cepat!!" Bisik Kris. Mengeratkan cengkraman tanganya kepada tangan Viola, membuat Viola sedikit meringis. Akhirnya Viola pun pasrah mengikuti langkah bosnya itu.


"*Untuk kali ini kau selamat gadis gila." Ucap Kris dalam hatinya.


"Syukurlah, selamat-selamat. Untung lift-nya terbuka di saat waktu yang tepat." Batin Viola.


"Dasar pandai bersandiwara." Lanjut Viola*.


"Cepat masuk." Kris membuka pintu mobilnya. Lalu Kris, menyeret Viola masuk kedalam mobilnya dengan kasar.


"Aww...." Teriak Viola, namun Kris tidak menghiraukannya. Kris menyusul masuk ke dalam mobil tersebut, duduk di kursi pengemudi. Menyalakan mesin mobilnya, dan langsung melajukan mobilnya itu meninggalkan kantor YS Grup.


Amarah masih terlihat jelas dari seorang Krisna Yudistira, Kris malakukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Membuat Viola ketakutan, sambil memegangi tangannya yang terasa panas, pergelangan tangan Viola terlihat memerah, akibat Cengkraman Kris tadi.


Viola menunduk, air matanya menetes begitu saja.


Antara takut, kesal, marah bercampur aduk di dalam dirinya.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan Votenya.


Terima kasih.


__ADS_2