My Presdir Arogan

My Presdir Arogan
Episode 74


__ADS_3

“Anita kamu ngapain di situ? Sana ambilkan minum buat Pak Kris!” ucap Bu Hanum, menyuruh Anita untuk mengambilkan minuman.


Anita mengangguk, sambil tersenyum kikuk.


“Eh, Iya Bu. Sebentar,” sahutnya sedikit terkejut, lalu Anita berlalu dari sana, berjalan menuju dapur. Ia berpapasan dengan sang Adik, yang baru saja selesai melakukan ritual mandinya.


“Eh buset elo mandi apaan Dek, cepet benget?” tanya Anita.


“Berisik elo Kak, oh iya. Pak Kris di mana?” Viola menjawab sedikit kesal, lalu bertanya balik pada sang Kakak.


“Ada noh di depan, udah masuk ngobrol sama Ibu. Udah ah gue mau bikinin minuman sianida buat Pak Kris, elo, 'kan pernah bilang kalau dia itu nyebelin bukan?” canda Anita, langsung mendapatkan tatapan tajam dari Viola. Anita tertawa lalu ia melanjutkan langkahnya.


“Awas macam-macam gue gibas loh Kak,” ancam Viola, namun dihiraukan oleh Anita.


Viola mendengkus kesal seraya berjalan menuju kamarnya.


Sesampainya di kamar, Viola langsung berganti pakaian. Merasa sudah rapi ia pun keluar.


Keluar dari kamarnya seraya melangkahkan dengan kaki yang terasa gemetaran serta detak jantung yang sudah berdetak tak karuan.


“Rileks Vio, rileks,” gumam Viola.


Sesampainya di ruang tamu, Viola melihat Kris dan sang Ibu tengah duduk saling berhadapan, keduanya terlihat sangat akrab, bahkan sikap Kris terlihat hangat dan sopan pada Ibunya. Berbanding jauh saat bersama Viola ataupun orang lain, apa lagi kalau lagi di kantor, sikap laki-laki itu selalu membuat orang dongkol.


Tapi Viola merasa bahagia, melihat sikap Kris pada Ibunya itu. Sama calon mertua harus gitu kali ya, eh....


“Apa yang aku pikirkan? Huh, seperti aku terlalu berpikir kejauhan!” batin Viola.


“Lho Vio? Kamu ngapain di situ? Sini!” ucap Ibu Hanum, yang baru saja menyadari Viola yang sudah berdiri di dekat mereka.


Kris terlihat mengalihkan pandangannya pada Viola.

__ADS_1


Namun wajahnya seperti biasa, kembali datar bahkan tidak senyum sama sekali, menyebalkan bukan.


“Eh Iya Bu.” Viola berjalan, lalu ia duduk di sofa yang berada di samping ibunya. Tepat duduk di samping sang Ibu.


“Ini silahkan di minum Pak Kris, minuman spesial buat Pak Kris!” ujar Anita yang baru saja kembali, dengan segelas minuman, lalu meletakan minuman tersebut di atas meja.


“Terima kasih,” ucap Kris, sambil meraih gelas tersebut lalu meneguk air yang ada di dalamnya.


“Spesial apanya? Cuman teh manis,” batin Kris.


“Ya sudah kalau begitu Ibu sama Anita tinggal dulu ya, kalian silahkan ngobrol saja,” pamit Ibu Hanum, seraya beranjak dari duduknya, lalu menarik tangan Anita.


Anita nampak keberatan saat sang Ibu sedikit memaksa berajak dari sana, padahal Anita penasaran apa maksud dan tujuan Krisna datang ke rumah menemui adiknya. Seperti saat ini jiwa Dora Anita sedang meronta-ronta, ingin kepo sama Kris dan Viola.


Tapi sayangnya tidak bisa, karna sang Ibu langsung menyuruhnya auto dari sana.


“Ih Ibu, aku lagi kepo juga, ngapain sih ajak aku ke sini. Aku mau tau apa maksud dan tujuan Pak Kris datang ke sini juga,” gerutu Anita pada Ibunya, saat mereka sudah menjauh dari Kris dan Viola.


“Ck, kamu ini ada-ada saja Anita. Sudah jangan mengganggu mereka, lebih baik kamu temenin Ibu masak cepat!” ketus Ibu Hanum, sambil berjalan menuju dapur.


“Anita cepat, kamu sebentar lagi mau jadi seorang istri, harus bisa masak biar nanti suami kamu betah di rumah!” teriak Bu Hanum dari dapur sana.


“Ck, seorang istri. Bermimpi menikah saja aku tidak Bu! Apa lagi nikahnya sama si Dave, ogah gue. Cinta juga kagak! Tunangan aja ke paksa!” gerutu Anita. Namun kakinya tetap melangkah menuju dapur, untuk membantu Ibunya.


Sementara Viola dan Kris, suasana hening seketika menyelimuti keduanya. Usai kepergian Anita dan Ibu Hanum dari sana.


Viola dan Kris sama-sama diam, mereka bungkam.


Larut dengan pikiran mereka masing-masing.


Namun beberapa detik kemudian, Kris berdehem.

__ADS_1


Memecahkan keheningan tersebut.


Refleks Viola pun langsung menatap kearah Kris, kedua bola matanya menatap Kris dengan lekat, begitu juga dengan Kris, pandangan mereka saling bertemu.


“Kenapa?” tanya Kris pada Viola dengan wajah datarnya, sebisa mungkin Kris bertingkah seperti biasa. Padahal tidak ada yang tahu isi hatinya saat ini. Jantungnya berdetak tak karuan.


“Kenapa?” Viola mengulang pertanyaan Kris tersebut.


Setelah itu , keduanya langsung memalingkan pandangan mereka masing-masing.


“Di tanya malah balik nanya!” ledek Kris pelan, namun ucapannya masih terdengar jelas di telinga Viola.


“Hah, apa?” Viola tak terima dengan ucapan Kris tersebut.


“Ayo ikut saya!” Titah Kris pada Viola seraya berajak dari tempat duduknya.


“Kemana?”


“Jangan banyak tanya bisa gak? Cepat ikut!”


Viola terlihat kesal, namun ia menuruti apa kata Kris tersebut. Viola ikut berajak dan mengikuti langkah Kris, berjalan keluar dari rumah tersebut.


“Gak ada bedanya pas lagi jadi Bos dan sekarang jadi pacar, masih menyebalkan!” ucap Viola.


Bersambung...


Like


Komen


Vote

__ADS_1


Jangan lupa ya.


Terima kasih.


__ADS_2