My Presdir Arogan

My Presdir Arogan
Episode 23


__ADS_3

Viola baru saja tiba di ruangannya, Viola langsung mengambil nafas dalam, lalu membuangnya perlahan. Sumpah ini untuk pertama kalinya, Viola merasakan kehadirannya tidak nyaman. Menjadi pusat perhatian orang-orang. Andai saja tadi Viola punya jurus menghilang, mungkin Viola sudah memakai jurus tersebut.


"Sepertinya aku harus benar-benar meminta kantong ajaib Doraemon agar aku bisa melakukan apa saja." Ucapnya, sambil terkekeh.


*Aku ingin begini


Aku ingin begitu


ingin ini, ingin itu banyak sekali.


Semua-semua bisa dikabulkan


bisa di kabulkan dengan kantong ajaib*.


Lanjut Viola, bersenandung ria, menyanyikan lagu kesukaannya.


"Ehemmm..." Terdengar suara dehemen, membuat Viola langsung menghentikan aktivitas bernyanyinya itu. Wajah Viola langsung memerah.


"Sejak kapan dia disini?" Gumam Viola.


"Hey..." Sapa Diki, sambil memasuki ruangan Viola. Diki terpanah seketika melihat Viola, yang begitu berbeda. Diki memandangi Viola dari ujung kepala sampai ujung kakinya. Sampai ia lupa mengedipkan matanya.


"Woy, biasa aja kali ngeliatin-nya." Sentak Viola, membuat Diki seketika tersadar, dan mengedipkan matanya.


"Gue salah masuk ruangan ya ini?" Ucap Diki.


"Maksud elo? Emang elo mau ke ruangan siapa?"


"Keruangan ibu Viola."


"Ck," Viola memutar bola matanya memalas, "oh iya mungkin anda salah pak Diki, disini bukan ruanga-nya ibu Viola." Ucap Viola, sambil mencibirkan bibirnya kesal.


"Emang gue ibu-ibu." Lanjutnya ketus.


Membuat Diki langsung tertawa, melihat tingkah Viola.


"Emang elo ibu-ibu, ibu untuk calon anak-anak kita nanti."


Eaaaa...


Jurus pamungkas Diki mulai keluar. Asal kalian tau gini-gini juga babang Diki, calon bad boy.


~Bad boy kok jomblo?


~Kan gue bilang calon bad boy Thor, elo gak usah nimbrung deh, ini gue lagi gombalin wanita ciptaan elo. Bisa diam kagak sih elo Thor!!


~Yaudah gue diem deh. Calon bad boy.


~Nah gitu dong. Gue lagi merealisasikan jiwa bad boy gue nih, biar jadi bad boy beneran.


~Iya-in aja deh, biar elo seneng.


~Ya udah cepet lanjutin ceritanya.


Oke lanjut....


Rasanya Viola ingin mengeluarkan nasi goreng yang ia makan tadi, mendengar gombalan receh Diki.


~Mampus, gak mempan--kan!! Tidak semudah itu babang Diki.

__ADS_1


"Elo tadi pagi makan apa?" Tanya Viola, membuat Diki terheran, bukannya Viola klepek-klepek mendengar gombalan maut-nya, malah dia bertanya tadi pagi dia sarapan apa?


"Gue belum makan apa-apa!" Ucap Diki, dengan polosnya. "Emang kenapa?" Lanjut Diki bertanya.


"Pantesan, otak elo kurang serat." Ucap Viola, lalu tertawa.


Sebenernya Diki sudah sarapan roti sama susu tadi pagi, Diki kira Viola bertanya bertanya seperti itu, akan mengajaknya sarapan atau memberi makanan kepadanya, jadi Diki berinisiatif untuk berbohong. Tau jawaban Viola kaya gitu, Diki bilang udah aja. Sial Viola malah mengejeknya.


Diki mendengkus kesal, bisa-bisa-nya ada wanita bar-bar kaya Viola.


"Udah ketawanya?" Ketus Diki.


"Bentar lagi, gue belum puas." Ucap Viola, tanpa dosa, lalu melanjutkan tawanya.


Diki hanya mengeleng-gelengkan kepalanya, sumpah baru kali ini bertemu dengan orang spesies langka seperti Viola, eh enggak! Ada dua spesies Langka di hidupnya, Viola dan Kris bos-nya. Mereka termasuk kategori orang-orang langka. Sepertinya orang-orang seperti mereka harus dilestarikan. Eh


Yang satu boleh deh di lestarikan, tapi yang satu kayanya gak usah deh, Kris gak usah di lestarikan, harus di museum--kan. Cocok kayanya.


"Udah deh Vi, jangan ngetawain gue terus."


"Nih, pelajari berkas ini. Nanti siang elo ikut meeting dengan Kris." Lanjut Diki, sambil memberikan satu buah map kepada Viola.


Viola pun langsung menghentikan tawanya, lalu mengambil map tersebut.


"Oke, thanks." Viola tersenyum, lalu mulai membuka map tersebut, mempelajari apa saja yang tertulis di sana.


"Elo ngapain masih disini?" Tanya Viola, menatap bingung Diki, yang masih terdiam dan menatapnya, dengan senyuman yang membuat Viola, resah.


"Pelit banget sih, emang gak boleh gue disini?" Ucap Diki merajuk.


"Boleh aja sih, tapi emang elo gak ada kerjaan apa?" Tanya Viola, matanya tak lepas dari berkas yang tengah ia pelajari itu.


"Oh iya Vi, elo suka sama Naruto ya?" Lanjut Diki bertanya pada Viola, seketika Viola pun mengalihkan pandangannya, melihat kearah Diki.


"Naruto?" Viola terlihat bingung.


"Iya, tadi elo nyanyi lagu Naruto--kan?"


"Kapan?"


"Tadi, pas gue masuk ke sini."


Viola menepuk jidatnya, sumpah Diki ini memang menyebalkan bagi Viola, sebelas, dua belas sama bosnya. Bedanya, Diki banyak bicara, yang satu irit bicara.


"Itu lagu Doraemon Diki, sumpah Nobita pasti nangis ini denger ucapan elo." Ucap Viola.


"Nobita siapa?"


"Kakaknya Naruto." Ketus Viola, kesabarannya sudah memasuki mode on.


"Hahaha," Diki tertawa. "Bukannya Nobita temennya Doraemon ya?"


"Itu tau, kenapa pake nanya."


"Sumpah elo ngeselin benget deh Dik. Pergi sono, jangan ganggu gue. Mau kerja ini." Lanjut Viola, mengusir Diki dari ruangannya.


Diki masih tertawa. "Oke-oke, gue keluar." Pasrah Diki, menghentikan tawanya, laku berajak dari hadapan Viola.


"Viola, Viola. Elo lucu banget sih."--Batin Diki.

__ADS_1


"Sumpah lama-lama gue bisa gila kerja disini. Orang-orang di sini aneh-aneh." Umpat Viola.


"Stt, sampe mana lagi tadi gue baca? Tuh--kan jadi lupa." Gerutunya.


Usai keluar dari ruangan Viola, Diki masuk menuju ruangan Krisna. Sepeti biasa, Diki masuk nyelong tanpa permisi sama yang empunya ruangan.


"Selamat pagi epribedeh..." Sapa Diki, kepada Kris, dengan senyuman yang mengambang di wajah tampannya.


Kris tak menjawab sapaan sahabatnya itu, Kris hanya menoleh sekilas, lalu kembali menatap layar leptop yang ada di hadapannya.


"Sombong amat." Ketus Diki.


"Apaan sih elo? Lebay." Sahut Kris, dengan wajah datarnya.


"Apa elo udah siapkan berkas buat meeting dengan clien kita nanti?" Lanjut Kris.


"Udah. Tadi gue udah kasih berkasnya sama Viola."


"Kenapa elo kasih ke dia?"


"Terus ke siapa? Ke rumput-rumput yang bergoyang disana?"


"Gue serius Diki." Tegas Kris.


"Gue juga serius Krisna Yudistira."


"Hari ini Viola yang akan nemenin elo meeting." Lanjut Diki.


"Gak usah bercanda deh elo, memangnya dia bisa? Awas aja kalau nanti sampe dia gak bener, dan meeting-nya berantakan. Elo orang kedua yang akan gue gantung di Monas." Ancam Kris.


"Orang yang pertamanya siapa?" Ucap Diki, dengan santainya.


"Ya gadis gila itu lah, siap lagi." Ketus Kris.


"Tapi sebelum elo gantung gue sama Viola di Monas, kaya-nya elo yang bakalan terlebih dahulu di gantung di sana sama bokap elo." Diki mengembangkan senyuman penuh kemenangan.


"Soalnya ini perintah dari papah king. Dan mulai saat ini, hari ini, jam ini, menit ini, detik ini. Gue udah lepas tangan jadi sekertaris elo, karna elo--kan udah ada sekertaris baru. Viola yang cantik jelita." Tutur Diki, panjang lebar, kali tinggi.


Kris hanya terdiam, jika sudah Yudistira yang memtuskan, semua-nya tidak akan bisa di ganggu gugat.


"Papah bener-bener." Umpat Kris dalam hatinya.


Kris terlihat kesal. "Keluar elo dari ruangan gue." Pinta Kris, mengusir Diki.


"Ini juga mau keluar, gak usah di minta." Ketus Diki, sambil berjalan keluar dari ruangan Kris.


"Akhirnya beban gue terlepas!!" Seru Diki, dalam hatinya.


"Sumpah apa papah sampai segitunya menyukai gadis gila itu, sampai-sampai papah deketin gue sama dia. Tidak, gue gak akan biarin itu terjadi. Jangan mimpi elo gadis gila, enak saja mau jadi nyonya Yudistira, gak ada yang bisa gantiin almarhum mamah gue. Elo sama almarhum mamah jauh berbeda."


"Bagaimana pun caranya gue gak bakalan buat elo dan papah bersatu, gue yakin elo cuman mau harta papah gue aja." --Kris membatin kesal.


Bersambung....


Jangan lupa like, komen dan Votenya


Maksih.


I love u all.

__ADS_1


__ADS_2