
"Dara!"
Gwen berlarian menghampiri Dara yang sedang mengambil sepedanya di parkiran.
"Dari mana kau, Dara? Kenapa aku tidak melihatmu di kelas? Bukankah tadi kau berangkat cepat?" Gwen memberondong Dara dengan pertanyaan-pertanyaan.
"Aku terkena sial. Ada yang harus aku bereskan tadi." Dara menuntun sepedanya keluar area parkir.
Saat itu, Nicholas melintas dan melambai kecil pada Dara, dan menyunggingkan senyum miring. Tentu saja hal itu membuat Gwen terheran-heran.
"Kenapa Nicholas melambai padamu?" tanya Gwen penuh curiga.
"Tidak tahu. Dia, kan, gila." Dara menyahut sekenanya.
"Jangan-jangan ...."
"Jangan berpikir macam-macam, Gwen."
Gwen terkikik sambil mendorong pelan tubuh Dara. Keduanya terkesiap saat seorang gadis cantik berambut kecoklatan datang menghampiri dengan wajah masam. Ia menatap tajam ke arah Dara.
"Dasar bodoh!" maki gadis itu; Sophie, seraya mendorong bahu Dara.
"Apa-apaan ini?" tanya Gwen yang tidak rela sahabatnya diperlakukan kasar.
"Urusanku dengan gadis bodoh ini, minggir kau!" Sophie kini mendorong Gwen yang menjadi penengah di antara dirinya dan Dara.
"Kau mau apa?" Dara menarik tangan Gwen dan menempatkan gadis itu di belakangnya.
Plakk
Dara terbelalak saat satu tamparan dari Sophie mendarat di pipinya. Begitupun Gwen, gadis itu pun kaget bukan main.
"Seharusnya aku tidak mempercayaimu, Gadis Bodoh!"
"Apa yang bisa aku lakukan? Kekasih gilamu itu mengancamku."
Sophie menggeram kesal. "Gara-gara kau Nicholas memutuskan hubungan denganku. Kau tahu betapa ruginya aku sekarang?"
Dara mengedikkan bahu. "Mana aku tahu. Itu bukan urusanku. Seharusnya kau jelaskan sendiri pada kekasihmu itu!"
"Atau seharusnya kau pikir dulu matang-matang sebelum melakukan sesuatu yang akan merugikan dirimu." Dara mendorong sepedanya menjauh dari Sophie, diikuti oleh Gwen yang menatap sinis pada gadis cantik bertubuh sintal itu.
"Kau pikir bisa lolos begitu saja?!" Sophie mengejar keduanya. Lalu merebut sepeda dari tangan Dara, mendorongnya hingga jatuh dan menginjak-injaknya dengan keras.
"Hei! Hentikan!" pekik Dara seraya mendorong tubuh Sophie. "Kau merusak sepedaku!"
__ADS_1
"Rasakan!" Sophie tidak berhenti sampai di situ saja. Ia kembali menginjak sepeda Dara dengan sekuat tenaga.
Bukkk
Dara pun gelap mata. Ia tinju sekuat tenaga perut Sophie hingga gadis itu terhuyung-huyung.
"Breng sek!" Sophie yang sudah dilanda amarah, hendak membalas apa yang dilakukan Dara padanya.
Bukk
Namun, satu tinju kembali mendarat di perutnya. Kali ini Gwen yang melakukannya. Gadis itu terlonjak puas saat berhasil menghadiahi Sophie bogem mentah.
Gwen lalu membantu Dara memberdirikan sepedanya yang sudah rusak dan segera mengajaknya meninggalkan tempat itu, membiarkan Sophie berteriak-teriak memanggil-manggil mereka dengan amarah yang tidak terbendung.
"Ya, Tuhan ... kau terlibat masalah apa dengan gadis gila itu? Dan Nicholas? Kenapa dia menyebut nama Nicholas?"
"Aaargh! Aku memang sial!" gerutu Dara. "Lihat, sepedaku rusak lagi."
"Dara, ceritakan padaku apa yang sedang terjadi," desak Gwen tidak sabar.
Dara menghela napasnya dalam-dalam. Ia lalu menceritakan kronologisnya pada Gwen secara detail. Termasuk Nicholas yang menculiknya ke apartemennya dan memaksanya buka mulut.
"Jadi Nicholas membawamu ke kamarnya?" Gwen menutup mulutnya yang menganga.
"Ish!" Dara memukul ujung kepala Gwen gemas. "Bukan itu yang penting!"
Dara memutar kedua bola matanya. Kalau bisa memilih, ia sama sekali tidak ingin terlibat apapun dengan mereka. Terutama Nicholas, si pemuda gila itu.
Dara terduduk lesu di pagar pembatas sidewalk dengan jalan raya. Memandangi sepedanya yang kembali rusak. Rasanya sedih sekali, hasil jerih payahnya itu mengalami perlakuan kasar dari orang-orang yang tidak mengerti bagaimana susahnya mencari uang.
"Hei, Dara, jangan menangis." Gwen mengusap air mata yang menetes di pipinya.
Dara justru sesenggukan mendapat perlakuan lembut itu dari sahabatnya. Hatinya semakin perih.
"Kita bawa pada Braden lagi. Pasti dia bisa memperbaikinya."
Dara menggeleng. "Aku tidak mau merepotkannya lagi. Dia harus cuti selama tiga hari untuk memperbaiki sepedaku. Aku tidak mau membuatnya terkena masalah dengan bosnya. Lagi pula Braden ...." Ia menengadahkan kepalanya untuk mencegah air matanya bergulir ke pipinya lagi.
"Kenapa Braden?" tanya Gwen penasaran.
"Tidak apa-apa. Lupakan saja. Ayo, kita pulang, Gwen." Dara bangkit dari duduknya, lalu menuntun sepedanya dengan langkah gontai.
***
"Nic! Nicholas! Wait!"
__ADS_1
Sophie meraih lengan Nicholas hingga pemuda itu urung masuk ke dalam mobilnya.
"What?" tanya Nicholas dengan tatapan jijik.
"Okay, aku salah. Tapi, percayalah, Nic, aku tidak ada perasaan apapun dengan Daniel. Itu hanya kesalahan satu kali. Dia yang merayuku."
Nicholas mendecak sebal. "You know what, Sophie, I don't care!"
"Tapi, aku tidak mau kau memutuskan hubungan denganku, Nic. Please," pinta Sophie dengan wajah memelas.
"Kita tidak pernah ada hubungan apapun, bukan?"
"Aku tahu. Tapi, aku merasa nyaman denganmu."
Nicholas terbahak. "Nyaman dengan uangku, maksudmu?"
"Nic, please. Aku bisa memperbaikinya. Aku menyesal. Jangan buang aku."
Nicholas tersenyum miring. Ia memindai tubuh Sophie dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Aku suka tubuhmu, Sophie. Tapi, aku tidak suka berbagi dengan pria manapun. Kau sudah bercin ta dengan pria tua itu. Aku tidak sudi menyentuhmu lagi."
"No, no, please, Nicholas ...." Sophie memeluk erat lengan Nicholas, mencegah pemuda itu masuk mobilnya.
"Singkirkan tanganmu, Sophie!" Nicholas memperingatkan.
Sophie menggeleng keras. Ia tidak mau melepaskan Nicholas sampai pemuda itu memaafkannya dan menerimanya kembali.
"Seharusnya kau merasa bersyukur karena aku tidak membuat perhitungan denganmu, juga dengan pria tua itu. Kalau aku mau, aku bisa mengeluarkanmu dari sini dan juga mengakhiri karir Daniel Murphy!" tegas Nicholas.
"Pergi kau!" Nicholas menarik kasar lengannya, lalu mendorong Sophie menjauh.
Ia segera masuk ke dalam mobilnya dan melaju kencang meninggalkan Sophie dengan penyesalannya.
"Ja lang!" maki Nicholas geram.
Ia tidak suka dibohongi apalagi ditipu mentah-mentah seperti ini. Dari awal ia sudah menjelaskannya pada Sophie, bahwa gadis itu dilarang berhubungan dengan siapapun saat menjadi teman tidurnya.
Toh, Nicholas sudah menghujani Sophie dengan segala fasilitas mewah selama ini.
"Breng sek!" makinya kembali. Ia menggeleng pelan. Ia tidak sakit hati Sophie berkhianat, hanya saja, ia merasa, gadis itu telah menginjak-injak harga dirinya.
Pandangan matanya menangkap dua sosok gadis tengah duduk di pinggir jalan. Salah satunya sepertinya sedang menangis sambil mengelus sepeda.
Ia tahu siapa gadis itu.
Nicholas menepikan mobilnya tidak jauh dari mereka. Ia memperhatikan keduanya dari balik kaca mobilnya. Sesekali, si gadis yang sedang menangis menyeka air mata dengan punggung tangan.
__ADS_1
Dalam hati, Nicholas penasaran apa yang sedang terjadi. Lalu, saat kedua gadis itu bangkit dari duduknya dan melangkah pergi, Nicholas pun segera keluar dari mobilnya.
***