My Prince Of Edinburgh

My Prince Of Edinburgh
Bab 40. Makan Malam Dengan Portia.


__ADS_3

Dara menyiapkan keberanian dan juga mentalnya untuk bertemu dengan wanita bernama Portia Johanssen malam itu. Ia dijemput oleh Nicholas dan dibawa ke mansion mereka yang sudah pasti mirip istana. Astaga--belum apa-apa, Dara merasa dirinya begitu kecil saat memasuki kediaman keluarga Johanssen yang menakjubkan.


Siapa dirinya hingga bisa mengenal putra dari keluarga terpandang di Edinburgh. Semua tidak lepas dari kegilaan Nicholas. Kalau boleh memilih, mungkin waktu itu Dara tidak perlu mempermasalahkan sepedanya yang menabrak mobil Nicholas.


"Mama sedang menunggumu di ruang makan," ucap Nicholas, semakin membuat Dara panas dingin. "Ayo." Pemuda itu menggandeng tangannya menelusuri koridor panjang yang dihiasi dengan karpet merah. Di kanan kiri terdapat lukisan-lukisan di dinding yang sepertinya adalah karya dari pelukis-pelukis terkenal, tebakan Dara.


"Apa ayahmu juga akan ikut makan malam?" tanya Dara memastikan. Ia benar-benar cemas jika harus menghadapi kedua orang tua Nicholas, meskipun belum pernah bertemu sebelumnya.


"Oh, tidak. Hanya ibuku. Ayahku tinggal di mansion yang berbeda. Aku tidak tahu kenapa ayah-ibuku memilih tinggal terpisah. Itu sudah kesepakatan mereka dan aku tidak ingin ikut campur," terang Nicholas.


Dara sedikit merasa lega. Tanpa sadar ia mengeratkan genggaman tangannya pada Nicholas, membuat pemuda itu tersenyum senang seraya meliriknya.


Mereka tiba di sebuah ruangan luas yang terdapat meja makan memanjang berbentuk persegi panjang yang terdiri dari delapan kursi. Dua kursi masing-masing ada di sisi pendek meja. Dan di salah satu kursi itu duduk seorang wanita paruh baya bergaun biru. Dara yakin, dialah Nyonya Johanssen. Gadis itu buru-buru menarik tangannya dari genggaman Nicholas saat wanita itu melirik ke arah tangannya.


"S-selamat malam, Nyonya," sapa Dara dengan dada berdebar, membuat suaranya sedikit bergetar.


Wanita itu tersenyum sekilas pada Dara, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Nicholas. "Nic, aku akan makan malam berdua saja dengan ... siapa namanya? Dara, bukan?"


"Apa?" Nicholas terkejut. Ia tidak tahu kalau dirinya tidak akan ikut bergabung makan malam. Dara pun tidak kalah terkejutnya. Jadi, ia akan sendirian bersama wanita itu. Sekujur tubuhnya sepertinya kini mengeluarkan keringat dingin.


"Iya. Kau dengar aku, Nic," tegas Portia.


"Kenapa begitu, Mama?" protes Nicholas.


"Kau pergi saja bersenang-senang. Aku akan menghubungimu kalau makan malamnya sudah selesai."


Nicholas menghembuskan napas kasar. Namun, ia tidak bisa berbuat banyak. Ia mengerti, saat ini Dara pasti sedang begitu tegang. Ia sentuh bahu gadis itu dan mengelusnya. "Aku akan ada di sekitar sini," ucapnya meyakinkan Dara untuk tetap tenang.


Dara mengangguk pelan. Sepeninggal Nicholas, Dara dipersilahkan duduk di kursi yang ada di sisi pendek satunya dari meja panjang itu. Kemudian, beberapa pelayan datang membawa menu makanan.


"Silahkan," ucap Portia dari ujung sana.


Dara menelan saliva. Bukan karena tergiur dengan makanan aneh di depannya, namun ia bingung dengan tata cara makan bangsawan. Ia takut membuat kesalahan, dan membuat kesan buruk di hadapan ibu dari Nicholas itu. Pasalnya, meskipun cantik dan elegan, Dara tetap merasa sedang berhadapan dengan Cruella di film Dalmatian 101. Mengerikan.


"Aku dengar kau berasal dari Asia Tenggara?" Portia memulai pembicaraan.


"I-iya, Nyonya." Dara yang masih berkutat dengan alat-alat makannya terkesiap.


"Bagaimana kau bisa masuk ke Universitas Edinburgh?"

__ADS_1


"Melalui beasiswa dari pemerintah, Nyonya."


"Hmmm ... dan bagaimana kau membiayai hidupmu di sini?"


Dara merasa daging yang sedang ia kunyah begitu sulit melewati tenggorokannya. Hati-hati ia meraih gelas air putih dan meneguknya. "Aku bekerja paruh waktu, Nyonya."


"Oh, apa pekerjaanmu?"


"Aku bekerja di toko bunga, Nyonya."


Dara melirik wanita berwajah angkuh itu. Sepertinya ia tidak senang dengan jawaban darinya. Atau entah apa yang sedang ia pikirkan. Yang jelas, Dara yakin, kesan pertamanya di mata wanita itu, buruk.


"Apa pekerjaan orang tuamu?" tanya Portia kemudian.


Ini bukan makan malam biasa. Wanita itu sedang mengorek latar belakang Dara, yang sudah pasti tidak sepadan dengan keluarga Johanssen barang secuil pun.


"Emmm ... ayahku ... dia ...." Sial, maki Dara dalam hati. Ia sudah lama tidak bertemu dengan ayahnya sejak duduk di bangku SMP. Dulu pekerjaan ayahnya serabutan. Sementara ibu, yang sudah membangun keluarga baru, adalah ibu rumah tangga biasa.


"Ayah-ibuku sudah bercerai. Aku dulu tinggal dengan nenekku. Kami berjualan makanan ringan. Tapi, sekarang ... nenekku sudah meninggal." Dara memperhatikan wanita itu. Tentu saja ia terlihat tidak senang dengan ceritanya.


"Menyedihkan sekali hidupmu," gumam Portia.


"Bagaimana gadis sepertimu bisa kenal dengan putraku?"


Ini dia--interogasi dimulai. Dara benar-benar merasa begitu dikecilkan oleh wanita itu. Namun, memang kenyataannya, ia begitu kecil di tengah-tengah keluarga Johanssen ini. Ia marah pada Nicholas yang telah lancang memaksa datang dalam hidupnya. Padahal dirinya sudah membentengi diri untuk tidak memiliki rasa apapun pada pemuda itu.


"Oh, begitu." Portia menimpali cerita Dara tentang awal pertemuannya dengan Nicholas hingga mereka cukup dekat sekarang.


"Aku tidak tahu selera putraku ... hmm ...." Portia terkekeh samar. "Well, Nicholas itu sedikit susah diatur. Dia selalu berbuat sesukanya. Aku tidak bisa melarang semua keinginannya terus-menerus. Karena, semakin aku melarangnya, dia semakin nekat."


Dara tertegun dengan perkataan wanita itu. Namun, sepertinya ia belum selesai. Sambil menghabiskan potongan daging di piringnya, ia menunggu wanita itu melanjutkan perkataannya.


"Tapi, aku hapal tabiat putraku. Dia cepat bosan. Aku tidak ingin nantinya, kalau dia bosan denganmu, kau akan menuntutnya. Dia berhubungan dengan banyak gadis. Bahkan dengan gadis-gadis yang jauh lebih darimu."


"Pada akhirnya, dia mencampakkan gadis-gadis itu."


"Dalam diri Nicholas mengalir darah bangsawan murni. Keluarga Johanssen sudah turun temurun mewarisi sebagian Edinburgh. Aku pikir, Nicholas berhak untuk bersenang-senang, sebelum dia bersanding dengan wanita yang sepadan dengan keluarga kami."


"Aku minta maaf kalau aku menyinggungmu. Tapi, itu sudah menjadi tradisi keluarga kami sejak dulu."

__ADS_1


Dara menelan salivanya kembali dengan susah payah. Sejujurnya ia tidak terlalu mempermasalahkan jika wanita itu menolak kehadirannya. Toh, perasaannya pada Nicholas masih dalam keraguan.


"Aku hanya berteman dengan Nicholas, Nyonya," ucap Dara.


"Syukurlah. Aku senang mendengarnya. Aku hanya ingin memberi peringatan padamu sebelum terlanjur."


Dara menghela napasnya dalam-dalam. Makan malam itu sungguh membuatnya menderita. Ia ingin cepat-cepat selesai dan pergi dari istana ini. Kalau perlu, tidak usah bertemu atau mengenal Nicholas lagi. Kembali ke kehidupannya dulu saat awal datang ke Edinburgh, sebelum mengenal pemuda itu.


"Hei, kau sudah selesai? Bagaimana makan malamnya?" Nicholas mengejar langkah Dara menelusuri koridor yang menghubungkan ruang makan dengan ruang tamu.


"Aku mau pulang," jawab Dara. "Tidak perlu mengantarku."


"Kau bercanda? Mansion ini jauh dari jalan raya. Sebentar, aku tanya padamu bagaimana makan malamnya. Kenapa kau tidak menjawabnya? Apa ibuku memperlakukanmu dengan buruk?"


"Oh, tidak. Ibumu baik," ucap Dara ironis. "Dia orang yang sangat realistis."


Nicholas mencebik. Ia tidak terlalu mengerti arah pembicaraan Dara. Namun, sepertinya gadis itu tidak merasa tertekan setelah menghabiskan waktu dengan ibunya selama satu jam.


"Nic, siapa yang kau bawa ini?"


Suara seorang pria membuat Dara dan Nicholas serentak menoleh. Seorang pria baru saja muncul dari balik pintu utama. Ia tampan dan sekilas mirip dengan Nicholas.


"Hei, Thomas," sapa Nicholas seraya menyunggingkan senyum lebar. Kedua pria itu saling berpelukan seraya saling menepuk-nepuk punggung.


"Apa kabarmu, Big Bro?" tanya Nicholas seraya memukul pelan lengan pria yang ia panggil dengan nama Thomas.


"Seperti yang kau lihat. Hei, kau tidak mau mengenalkanku pada gadis cantik ini?" ujar Thomas seraya memandang ke arah Dara.


"Ah, Dara, ini Thomas, kakak pertamaku. Thomas, ini Dara, pacarku."


"Ow, pacar? Wow, cool, Lil Bro," sontak Thomas seraya mengulurkan tangan pada Dara, lalu menepuk-nepuk punggung tangan gadis itu. "


"Hi," ucap Dara seraya mengulas senyum tipis. Pikirnya, Nicholas ini terlalu percaya diri mengenalkannya sebagai pacar pada semua orang.


"Okay, aku tidak akan mengganggu kalian. Aku harus bertemu dengan Portia. Apa dia ada?" tanya Thomas.


"Kurasa dia ada di kamarnya."


Thomas mengangguk. Kemudian ia mengerling pada Nicholas sambil berucap, "Bersenang-senanglah." Ia terkekeh sambil berlalu meninggalkan Nicholas dan Dara.

__ADS_1


***


__ADS_2