My Prince Of Edinburgh

My Prince Of Edinburgh
Bab 13. Pahlawan Kesiangan.


__ADS_3

"Dan siapa kau berani bicara dengan kami?" Si pemuda rambut merah mendekat ke arah Nicholas dan memindainya dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Kau tidak tahu siapa aku, Bodoh?" tanya Nicholas angkuh seraya melipat lengan di depan dada. Ucapan Nicholas membuat Dara memutar kedua bola matanya.


Si rambut merah menyeringai, lalu menukar pandang dengan teman-temannya. "Kalian tahu siapa dia?" tanyanya.


Ketiga pemuda lain mengedikkan bahu dan mencebik. "Tidak tahu."


Si rambut merah menggeram. "Sebaiknya kau jangan ikut campur. Kami ada urusan dengan gadis itu," tunjuknya pada Dara.


Nicholas menggeleng. "Urusan dengan gadis itu, artinya kalian berurusan juga denganku. Kalian tahu, berurusan denganku bisa jadi sangat rumit."


Si rambut merah terbahak. "Oh ya? Memangnya siapa kau? Pangeran Edinburgh?"


"Tepat sekali," kekeh Nicholas.


Keempat pemuda itu tertawa terbahak-bahak. "Dan aku anak Ratu Elizabeth," gelak si rambut merah.


"Kalian tidak percaya?" tanya Nicholas kesal.


"Kami lebih percaya bumi itu datar," kekeh pemuda yang lain.


"Okay, cukup basa-basinya." Nicholas melangkah mendekati pemuda-pemuda itu.


Dan pertama kali yang ia lakukan adalah mendorong si rambut merah hingga punggungnya menabrak salah seorang dari tiga pemuda yang berdiri di belakangnya.


Perkelahian pun tidak dapat dihindari. Dan kesempatan itu digunakan oleh Dara untuk melarikan diri dari tempat itu.


Sementara Nicholas tampak kewalahan dikeroyok oleh empat orang sekaligus. Hingga wajahnya terkena pukulan keras salah seorang dari mereka hingga bibirnya pecah. Perutnya pun menjadi sasaran tinju mereka.


"Hei! Berhenti! Berisik sekali kalian!" teriak seseorang dari arah salah satu balkon di lantai dua gedung pertokoan.


Seorang wanita paruh baya berdiri di sana, sambil membawa ember di tangannya. "Jangan buat keributan di sini, atau aku siram kalian!" ancamnya.


Si rambut merah menghentikan aksinya memukuli Nicholas yang sudah terkapar. Keempat pemuda itu sepertinya takut dengan ancaman si wanita di balkon. Mereka pun berlalu sambil terkekeh memandangi Nicholas.


Sementara wajah Nicholas sudah babak belur. Dengan terhuyung ia berusaha bangkit.


"Kau tidak apa-apa, Nak?" tanya si wanita.


"I'm okay," jawab Nicholas seraya mengangkat kedua tangannya.


"Are you sure?"

__ADS_1


"Seratus persen." Nicholas meringis seraya memegangi dadanya yang terasa nyeri. Ia mengusap darah yang mengalir di sudut bibirnya dengan punggung tangan.


Nicholas mengedarkan pandang ke sekeliling. Ia tidak menemukan sosok Dara di mana-mana.


"Dasar gadis sialan!" maki Nicholas.


Ia bergegas menuju mobilnya. Ia berniat mengejar Dara yang ia yakin belum terlalu jauh. Seraya mengemudi, matanya awas memperhatikan setiap orang yang melintas di sidewalk.


Akhirnya, ia melihat Dara saat gadis itu hendak masuk ke dalam sebuah gedung apartemen yang cukup kumuh. Nicholas memukul kemudi dengan geram sebelum menghambur keluar.


"Hei! Dara!" panggil Nicholas.


Dara menoleh. Gadis itu tampak terkejut melihat penampilan Nicholas yang cukup berantakan.


"Kau tidak tahu terimakasih, ya? Aku mati-matian melawan orang-orang yang mengganggumu, kau malah seenaknya saja kabur!" Nicholas meraih lengan Dara dan mencengkeramnya erat.


"Aku tidak memintamu untuk menolongku," bela Dara. Dan memang begitu kenyataannya. Ia sudah bersiap untuk kabur dari pemuda-pemuda mabuk itu. Tanpa ada Nicholas yang menolongnya pun, Dara yakin ia akan berhasil kabur.


"Kau ini!" Nicholas menggeram marah. "Lihat aku sampai berdarah seperti ini!" serunya.


"So?" tanya Dara tanpa dosa.


"Kau harus merawatku sekarang. Ayo, bawa aku ke tempatmu!" Nicholas menyeret Dara masuk ke dalam gedung apartemen.


Nicholas tidak percaya dengan ucapan yang keluar dari mulut Dara. Saking geramnya, ia kembali menyeret gadis itu menaiki tangga. Seakan-akan ia sudah tahu di lantai mana Dara tinggal.


"Lepas!" teriak Dara seraya mencoba meloloskan tangannya dari cengkeraman Nicholas.


"Tidak bisa! Kau harus bertanggung jawab mengobati luka di wajahku ini, Gadis Bodoh!"


"Dalam mimpimu!" sergah Dara.


"Aku tidak peduli!"


"Eerrrrgh!" Dara menggeram kesal saat dilihatnya ada beberapa orang menuruni tangga dan memperhatikan dirinya serta Nicholas.


Dara tidak ingin membuat keributan. Akhirnya, terpaksa ia menuruti kemauan Nicholas dan membawa pemuda itu ke lantai tiga, di mana ia tinggal.


Tepat seperti dugaannya, Gwen yang sedang berada di ruang tamu, histeris melihat Nicholas masuk bersamanya. Dan lebih histeris lagi saat ia menyadari, ada darah di sudut bibir Nicholas.


"Nicholas! Aku tidak percaya ini! Kau ada di apartemen kami? W-wajahmu kenapa?"


"Bisa kau pindah ke sebelah sana?" tanya Nicholas pada Gwen seraya menunjuk kursi kayu di sebelah sofa yang sedang diduduki oleh gadis itu.

__ADS_1


"Tentu, tentu, Nic." Tanpa banyak protes, Gwen beringsut menuju kursi kayu dan mempersilahkan Nicholas duduk di atas sofa.


Dara menghela napas dalam-dalam. "Gwen, bisa kau tolong obati dia?" pintanya.


"Oh, iya, tentu, tentu."


"No!" Nicholas berseru kencang. Kedua telapak tangannya mengepal keras. "Aku mau kau yang mengobatiku!" ujarnya seraya menatap tajam pada Dara. Mata birunya tampak berkilat marah.


"I'm sorry, I'm tired. Gwen bisa melakukannya untukmu."


"Kau lihat sikap temanmu yang kurang ajar itu?" ucap Nicholas pada Gwen. "Aku terluka karena menolongnya dari para pemuda mabuk di Lothian Road. Bukankah dia tidak tahu terimakasih?"


"Iya, benar, Nic. Dara tidak tahu terimakasih." Gwen mengangguk mantap.


"Gwen! Dasar penjilat!" maki Dara tertahan.


Gwen hanya meringis saja seraya menggaruk kepalanya. Perlahan tapi pasti ia beranjak dari duduknya dan bergeser selangkah demi selangkah menuju kamarnya.


"Dara!" seru Nicholas. "Aku tidak akan pergi sebelum kau mengobatiku dan berterimakasih padaku!"


Dara merotasikan kedua bola matanya. "Kau berlebihan sekali, ya? Berapa banyak pelayan di rumahmu yang bisa kau suruh untuk mengobati lukamu. Kenapa harus aku?"


"Karena aku mau kau yang mengobatiku, Dara!"


Dara menggeram kesal. "Kalau aku tidak mau?"


"Sudah aku bilang aku akan tetap di sini sampai kau mengobatiku."


Dara mengacak rambutnya kasar. Ia akui, sore ini dirinya memang sedang terkena sial. Ia harus menyaksikan pemuda pujaannya kencan dengan wanita lain, lalu bertemu dengan pemuda-pemuda mabuk di Lothian Road, serta berurusan lagi dengan Nicholas.


"Cepatlah!"


"Eerrrrgh!" Dara membuat gerakan mencakar-cakar ke udara, sambil membayangkan yang menjadi sasaran adalah Nicholas.


Dengan bersungut-sungut ia menuju dapur untuk mengambil air dingin dan handuk kecil. Beberapa saat kemudian ia kembali dengan satu mangkuk besar air dan kain berwarna putih.


Terlihat Nicholas tersenyum miring sambil memperhatikan gerak-gerik Dara hingga gadis itu duduk di sampingnya, memberi jarak sekitar setengah meter.


"Auch! Kasar sekali!" keluh Nicholas saat Dara cukup keras menyentuh luka di sudut bibirnya dengan kain yang sudah ia basahi dengan air dingin.


"Cerewet!" gerutu Dara.


***

__ADS_1


__ADS_2