
Nicholas menghentikan laju mobilnya dengan tiba-tiba sehingga membuat suara berdecit di halaman mansion keluarga Johanssen. Pemuda itu membuka pintu dan keluar dengan dagu terangkat, siap menghadapi apapun yang akan menimpanya sebentar lagi.
Ia mencari keberadaan Portia. Bertanya pada Marry, wanita itu mengatakan sang ibu sedang berada di taman belakang menikmati teh bersama Alexandra. Kebetulan ada musuh bebuyutannya. Sekalian saja ia akan menunjukkan taringnya pada gadis itu.
Benar adanya. Ia melihat kedua wanita itu sedang bersantai di dekat kolam renang sambil minum teh. Langsung saja Nicholas menghampiri keduanya kemudian meletakkan kunci mobil ke atas meja, di samping nampan berisi dua cangkir bulat berwarna putih.
"Nicholas?" tanya Portia. Putra badungnya itu datang-datang sudah memasang wajah masam. Samar wanita itu menyunggingkan senyum.
"Aku kembalikan mobil Cadillac yang kau belikan," ucap Nicholas angkuh.
"Apa maksudmu dikembalikan?" tanya Portia. Alexandra yang duduk di sampingnya menatap sinis pada Nicholas.
"Yeah." Nicholas mengedikkan bahu. "Aku akan memberimu saran, Mama. Jangan hanya membekukan rekeningku. Tapi, ambil semua yang sudah kau berikan padaku. Aku tidak membutuhkannya lagi."
Portia kini terperangah. Reaksi Nicholas sungguh di luar dugaan. Ia tidak mengharapkan hal ini. Ia berharap Nicholas akan memohon-mohon padanya untuk tidak membekukan rekeningnya.
"Kau ingin berlagak jagoan, Nic?" celetuk Alexandra. Ia pun sama terkejutnya dengan sang ibu.
"Tidak sama sekali. Aku hanya ingin hidup normal tanpa banyak aturan dari keluarga ini," cebik Nicholas.
"Kau ingin jadi gelandangan?!" hardik Alexandra.
"Ya. Kalau perlu."
"Nicholas!" sentak Portia yang mulai tersulut emosi. "Aku akan membuka rekeningmu kembali kalau kau mau meninggalkan gadis itu."
Nicholas terbahak. "Itu tidak mungkin, Mama. Kau jangan bermimpi. Sudah, ya ... aku harus pergi."
"Nic!" Alexandra berang. Sementara Nicholas hanya mengangkat kedua tangan.
"Oh, hampir saja lupa." Nicholas meraih dompet dari saku celana dan mengambil beberapa kartu debet dan kredit, lalu meletakkannya di samping kunci mobil yang masih tergeletak di atas meja.
Portia semakin terbelalak. Begitupun Alexandra. Namun, Nicholas terlihat begitu tenang.
"Ini serius, Mama. Gadis itu tidak bisa dipandang sebelah mata," ucap Alexandra membuat Portia mengepalkan tangan geram.
***
Tekad Nicholas memang sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat. Jika harus hidup sederhana, memang kenapa. Toh, dirinya tidak akan mati karena kesederhanaan. Ia menemui sang kakak, Thomas, untuk memberinya pekerjaan paruh waktu di perusahaan kecil jasa antar barang miliknya.
Tentu saja Thomas terkejut, namun sekaligus senang karena adiknya berani untuk mengambil langkah yang sama dengan dirinya, mempertahankan apa yang menjadi keinginannya dan tidak mau disetir oleh sang ibu. Lelaki sejati.
"Kau yakin dengan semuanya, Nic?" tanya Thomas, memastikan kalau niat Nicholas bukan hanya sekedar uforia semata.
__ADS_1
"Yeah, tentu aku yakin. Kau tahu, bukan, aku sudah menjadi pembangkang sejak lama," kekeh Nicholas.
"Siapa Dara ini, sampai-sampai bisa membuatmu begitu nekad membuang semua fasilitas yang diberikan oleh mama." Thomas tergelak.
"Kau tahu, bukan, dia bukan siapa-siapa apalagi dari kalangan borjuis. Tapi, dia penting sekali dalam hidupku."
Thomas menepuk-nepuk pundak Nicholas. "Akhirnya kau jatuh cinta."
"Kau tidak tahu betapa sulitnya mendapatkan gadis ini. Sampai sekarang saja dia masih meragukan aku." Nicholas menggeleng. Namun, bibirnya mengulas senyum tipis.
Setelah berterimakasih pada sang kakak yang bersedia membantunya, Nicholas berpamitan dan pergi ke apartemen Dara dengan meminjam salah satu mobil Thomas, setelah di perjalanan ia mampir ke sebuah toko untuk membeli sesuatu dengan sisa uang yang ada di dompetnya.
"Mulai hari ini aku tinggal di sini."
Dara mengerutkan kening mendengar penuturan Nicholas. "Kenapa?" tanyanya keheranan.
Nicholas tersenyum. "Aku mengembalikan semua fasilitas keluarga Johanssen."
"K-kau serius?"
"Yep. Aku pria sederhana sekarang. Apa kau masih mau menjadi pacarku?"
Dara mendesis. "Aku sudah bilang, lebih bagus kalau kau tidak berasal dari keluarga terkaya di Edinburgh."
"Mana Gwen?" tanya Nicholas seraya memeriksa ruang tamu.
"Belum pulang sepertinya." Dara mengedikkan bahu.
"Syukurlah. Artinya dia tidak akan mengganggu kita."
"Apa maksudmu?" Dara memicingkan mata.
"Ada sesuatu yang ingin aku lakukan padamu."
"What?"
Nicholas mengangkat kedua tangan, meminta Dara untuk menunggu. Ia meraih sesuatu dari sakunya, kemudian pemuda itu mengejutkan Dara dengan posisi berlutut satu kaki dan menyodorkan sebuah kotak beludru warna hitam berisi sebuah cincin berlian.
"Maukah kau menikah denganku, Dara Puspita?"
"Hah?!" Dara yang shock, hanya bisa terperangah. "K-kenapa?" tanyanya terbata.
"Karena aku ingin ber cinta denganmu."
__ADS_1
Mata Dara membulat. "Apa-apaan, Nic?"
"Cepat jawab," pinta Nicholas sambil meringis. Sepertinya satu lutut mulai terasa sakit karena beradu dengan lantai yang keras.
"Kenapa ingin menikah denganku?" Entah pertanyaan macam apa yang keluar dari mulut Dara, yang jelas gadis itu terkejut bukan main.
"Okay." Nicholas meraih tangan Dara dan memakaikan cincin di jari manis gadis itu.
"Hei!" protes Dara.
"Jangan banyak protes. Kau tunanganku sekarang." Nicholas berdiri dan memeluk Dara erat.
"Aku belum memberi jawaban, Nic."
"Aku tidak butuh jawabanmu karena aku tidak memberikan pilihan apapun padamu kecuali menjawab iya."
Dara mendesis seraya melepaskan diri dari pelukan Nicholas. Ditinjunya pelan dada pemuda itu sambil bibirnya mengerucut. "Kau ini, selalu saja memaksa. Memaksa aku jadi pacarmu, sekarang memaksa aku menikah denganmu!" gerutunya.
Nicholas terkekeh. "Karena kau susah sekali didapatkan kalau tidak dipaksa lebih dulu."
Dara menghela napasnya dalam-dalam. Diperhatikannya cincin di jari manisnya. Entah cincin itu mahal atau bukan, yang jelas benda berwarna silver itu terlihat indah.
"Aku membelinya dengan sisa uang yang aku punya. Jadi, cincin itu tidak terlalu mahal. Tapi, cukup untuk formalitas."
Gadis itu mengamati wajah Nicholas dengan saksama. Benarkah semua yang dikatakan Nicholas, bahwa dirinya rela meninggalkan semua yang ia miliki hanya demi seorang Dara.
"Nic, kenapa kau rela melakukan semua ini?"
Nicholas menyugar rambutnya. "Karena aku ingin bercin ta denganmu."
Kembali Dara meninju pelan dada Nicholas. "Jangan bercanda!" semburnya.
"Karena aku ingin memulai hidup baru. Denganmu tentunya."
"Lalu, bagaimana kau akan memenuhi kebutuhan sehari-hari?"
"Tidak perlu khawatir." Nicholas menyugar rambut Dara, kemudian mengelus pipi gadis itu. "Aku sudah punya pekerjaan."
"Gampang sekali mendapatkan pekerjaan?" Dara mengerutkan kening. Sementara Nicholas menepuk-nepuk dadanya dengan bangga.
"Sudah aku bilang, kau tidak perlu khawatir, Dara. Meskipun aku tidak kaya, tapi ... aku pasti akan berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakanmu."
****
__ADS_1