My Prince Of Edinburgh

My Prince Of Edinburgh
Bab 12. Mencari Perhatian.


__ADS_3

Dari balik rak bunga, Dara memperhatikan Alison yang sedang menelepon seseorang. Wajah bosnya itu tampak semringah. Sesekali ia mengelus rambut merahnya yang tergerai rapi.


"Dara!" panggil Alison membuat Dara terkesiap.


Gadis itu buru-buru mendekati Alison. "Ya?"


"Aku akan menutup toko cepat hari ini. Kau bisa bereskan pekerjaanmu dan pulang."


"Oh, kenapa?" tanya Dara keheranan.


Alison mengulas senyumnya. Sebuah senyum bahagia, sepertinya. "Aku ada urusan dengan Braden."


"Owh, okay." Dara menelan salivanya. Tenggorokannya tiba-tiba saja kering. "Tapi, aku bisa menjaga toko sendirian sampai jam tutup."


"Tidak perlu, Dara."


Dara mengangguk. Ia pun segera membereskan pekerjaannya, merapikan pot-pot bunga di rak dan dilantai yang sedikit berantakan setelah dipilih-pilih oleh pelanggan hari itu.


Beberapa menit kemudian, ia menyelesaikan pekerjaannya. Dilihatnya Alison keluar dari pintu ruangannya dan telah mengganti pakaiannya dengan pakaian yang cukup rapi.


"Kau sudah selesai?" tanya Alison.


"Ya."


"Kau boleh pulang, Dara."


Dara mengangguk. Ia mengambil tas selempangnya dari rak yang ada di belakang meja kasir dan juga memakai mantel tebalnya untuk menghalau udara dingin di luar sana.


Kedua gadis itu pun keluar toko bersamaan. Di depan, Dara melihat Braden keluar dari mobilnya.


"Hi!" sapa Alison pada pemuda itu. Sementara Dara hanya melambai kecil.


"Kau sudah siap?" tanya Braden pada Alison.


Alison mengangkat kedua tangan, menunjukkan penampilan dirinya yang telah siap untuk berkencan.


"Dara, kau tidak membawa sepedamu?" tanya Braden.


"Emm ... tidak. Sepedaku rusak lagi," jawab Dara seraya memijit tengkuknya.


"Oh, no. Apa yang terjadi?" tanya Braden cemas. Pasalnya, dirinya yang terakhir kali memperbaiki sepeda Dara dan ia cukup teliti.


"Ada yang merusaknya lagi," ucap Dara dengan senyum kecut.

__ADS_1


"Apa? Pemuda gila itu merusaknya lagi?" tanya Braden. Dari raut wajahnya, pemuda itu terlihat geram.


Dara mengibaskan tangannya. Ia malas menceritakan detailnya pada Braden. Ada Alison yang sedang menunggu pemuda itu.


"Shall we (Ayo)," ujar Alison menginterupsi obrolan Dara dan Braden.


"I'll talk to you later, okay (Nanti kita bicara, ya)?" ucap Braden pada Dara, seraya membukakan pintu untuk Alison.


Dara mengangguk pelan. Ia melirik Alison, dan sepertinya gadis itu tidak terlalu senang dengan ucapan Braden padanya.


Mobil Braden berlalu dari hadapan Dara. Gadis itu berdiri memandanginya hingga menghilang di belokan jalan. Ia hanya berdiri saja untuk beberapa saat. Sebelum akhirnya dikejutkan oleh sebuah mobil Cadillac yang berhenti di depannya.


"Hei, Gadis Bodoh! Sedang apa kau sendirian di pinggir jalan?" kekeh Nicholas dari dalam mobil.


Dara memutar kedua bola matanya. Ia tidak habis pikir kenapa ada Nicholas di sini. Sungguh saat yang tidak tepat. Suasana hatinya sedang buruk karena Braden, dan sekarang harus melihat wajah Nicholas yang menyebalkan.


"Kau bekerja di toko ini?" tanya Nicholas seraya menunjuk toko bunga di belakang Dara. Pemuda itu sudah turun dari mobilnya dan berdiri di depan Dara.


"Kau sungguh tidak tahu malu, ya? Beraninya kau bertanya seperti itu. Apa kau tidak ingat kalau kau yang membuatku dipecat dan harus mencari pekerjaan lain?" ujar Dara sengit.


"Owh." Nicholas menepuk keningnya. Ia hampir melupakan kejadian itu. "Kau benar," kekehnya.


Dara menggeleng tidak percaya. Nicholas seakan-akan menganggap perbuatannya itu adalah hal biasa.


Dara mendecak sebal. "Kau yang memulai. Apa aku perlu mengingatkan padamu kata-kata tidak senonoh yang kau ucapkan padaku?"


"Hei, itu juga aku lakukan bukan tanpa alasan," bela Nicholas.


Dara mengibaskan tangannya. "Tidak ada gunanya bicara dengan orang gila sepertimu." Ia berlalu dari hadapan Nicholas, tidak ingin lama-lama berinteraksi dengan pemuda itu.


"Hei, tunggu!" Nicholas meraih lengan Dara dan memaksa gadis itu menghentikan langkahnya.


Dara menarik lengannya kasar. "Apa lagi?"


"Kau pulang jalan kaki?" tanya Nicholas.


"Bukan urusanmu!" Dara mendorong dada Nicholas menjauh. "Jangan ganggu aku. Suasana hatiku sedang buruk dan kau tidak ingin berurusan denganku. Atau aku akan melakukan hal yang tidak pernah kau bayangkan."


"Ow, mengerikan sekali. Hal apa itu? Aku tidak sabar mengetahuinya." Ia menyejajarkan langkahnya dengan Dara.


"Mematahkan hidung besarmu lagi."


Nicholas tergelak. Peristiwa di perpustakaan kembali terlintas di benaknya. Hidungnya hampir patah terkena pukulan tangan kurus Dara.

__ADS_1


"Kau mau mencobanya lagi?" tantang Dara.


Nicholas mengangkat kedua tangannya menyerah. "Tidak, terimakasih."


"So, stay away from me (Jadi, menyingkirlah dariku)!"


Nicholas mencebik. Gadis Asia ini semakin membuatnya penasaran saja. Dan cara mendapatkan perhatian Dara adalah dengan membuatnya marah.


"Bagaimana kalau aku antar kau pulang?" tawar Nicholas.


Dara mendecih. "Dalam mimpimu!"


"Ayolah, kau tidak mau melewati daerah rawan di depan sana sendirian, bukan?" tunjuk Nicholas ke arah depan.


Lothian Road, daerah yang terkenal banyak pemuda-pemuda mabuk berkeliaran. Beberapa kali saat pulang sendirian, Dara diganggu oleh pemuda-pemuda itu. Untung saja ia menaiki sepedanya. Sehingga dirinya bisa melarikan diri dengan mudah.


Namun, jika sedang beruntung, ia tidak menemui satu pun pemuda mabuk di area itu.


"Bagaimana?" tanya Nicholas.


"Tidak, terimakasih," jawab Dara tegas. Pandangan matanya sinis terhadap Nicholas. Sejak pertama bertemu pemuda itu dan terlibat konflik, hatinya begitu benci dengan sosok pemuda tampan dengan rambut pirang yang berantakan itu.


Dara berjalan cepat meninggalkan Nicholas. Tidak ada pilihan lain selain melewati Lothian Road. Karena hanya itu satu-satunya jalan menuju apartemennya.


Dan mungkin sore itu Dara memang sedang sial. Beberapa pemuda tampak sedang bergerombol di depan gang kecil di antara gedung-gedung apartemen yang merangkap pertokoan. Jika bisa dibandingkan, Lothian Road adalah Bronx-nya Edinburgh. Tempat tinggal para gangster dan semua aktifitas terlarang mereka.


Dara melangkah cepat sembari pura-pura tidak melihat adanya para pemuda itu agar tidak menarik perhatian mereka. Tapi, karena penampilan fisiknya yang terlihat berbeda dari penduduk lokal Edinburgh, dirinya dengan mudah menjadi pusat perhatian mereka.


"Hei, kenapa buru-buru, Manis?"


"Come here, Darling."


"Yeah, why in a rush (Kenapa buru-buru)?"


Seruan-seruan itu membuat Dara mempercepat langkahnya. Tapi, salah seorang dari mereka mengejarnya dan menahan langkahnya.


"Stay a whille, Darling (Tinggallah sebentar, Sayang)." Pemuda berambut merah dengan bintik-bintik kecoklatan memenuhi area wajahnya itu berdiri di hadapan Dara.


Bau alkohol menyeruak dan tercium oleh hidung mungil Dara. Belum sempat Dara melakukan ancang-ancang untuk berlari secepat mungkin, mobil Cadillac Nicholas berhenti tidak jauh darinya.


Nicholas keluar dari mobilnya dan menghampiri Dara. Pemuda berambut merah itu kini tidak sendiri. Beberapa temannya sudah bergabung.


"Na cuir dragh air an nighean seo (Jangan ganggu gadis ini)!" Dalam bahasa Gaelic, Nicholas memperingatkan para pemuda itu.

__ADS_1


***


__ADS_2