My Prince Of Edinburgh

My Prince Of Edinburgh
Bab 49. Aku Minta Imbalan.


__ADS_3

Seratus ribu pound ini untukmu. Dan kau harus berhasil memisahkan putraku dengan gadis itu.


Aku akan menambah jumlahnya menjadi dua ratus lima puluh ribu pound kalau kau berhasil. Dan harus berhasil.


Ucapan wanita paruh baya beberapa waktu lalu di bengkel tempatnya bekerja terngiang dalam benak Braden. Entah dari mana Nyonya Johanssen---bangsawan dan konglomerat Edinburgh---bisa tahu tentang dirinya. Ah---tentu itu mudah saja bagi wanita itu menyelidiki tentang latar belakangnya. Siapa dirinya dan bagaimana hubungannya dengan Dara.


Anyway. Siapa yang tidak tergiur dengan uang sebesar itu. Ia bisa membeli apartemen baru yang cukup bagus dan juga mobil baru. Kemudian, ia bisa membuka usaha bengkel sendiri, sehingga ia tidak perlu tergantung pada pamannya lagi.


Braden tentu saja menyanggupi. Ia percaya Dara masih mengharapkannya. Ia yakin, gadis itu terpaksa menerima Nicholas karena putus asa atas dirinya. Namun, pertemuannya dengan Dara kemarin, membuat Braden keheranan. Gadis itu menolak tawaran menjadi kekasihnya. Setelah ia begitu yakin Dara pasti akan menerimanya, ia benar-benar dikejutkan dengan reaksi gadis itu.


"Kenapa melamun?" tanya Alison. Gadis itu menghampiri Braden dan duduk di pangkuan pemuda itu. Tentu perhatian Braden tertuju pada kemolekan tubuh Alison yang tak tertutup sehelai benang pun.


Sedikit cerita tentang Alison, gadis itu sempat menolak Braden karena telah memiliki kekasih. Seorang pria kaya raya yang telah memiliki istri. Namun, ia bernasib sial. Istri pacarnya mengetahui hubungan mereka dan pria kaya itu terpaksa mengakhiri hubungan dengannya. Setelah itu, ia kembali pada Braden. Entah hanya untuk pelarian, partner di atas ranjang, atau apalah namanya. Yang jelas, Braden kini memiliki banyak uang karena sedang menjalankan sebuah misi. Dan dialah orang yang paling mendukung Braden menyelesaikan misi itu.


"Aku bingung. Dara tidak seperti terakhir kali aku bertemu dengannya," ucap Braden sembari menggerus sisa rokok ke dalam asbak.


"Kenapa dia?" tanya Alison. Tangannya mengelus dada telan jang Braden.


"Dia menolakku dengan halus. Sepertinya dia sudah jatuh cinta dengan pangeran manja itu."


"Hei, tenanglah. Masih banyak waktu untuk mendekatinya. Apa kau perlu aku ajari bagaimana meluluhkan hati wanita?"


Braden tersenyum. Gadis di atas pangkuannya ini masih menduduki tempat tertinggi dalam hatinya. Ia tidak peduli seperti apa statusnya dengan Alison sekarang, yang terpenting ia bisa bersama dengan gadis berambut merah itu.


Alison suka pria berduit. Dan dirinya sedang mengusahakan itu. Bekerja untuk Nyonya Johanssen adalah jalan membuka peluangnya untuk menebalkan dompetnya.


***


"Sudah, kau diam saja di sana!" pinta Nicholas saat Dara berinisiatif membantunya untuk menyiapkan makan malam. Ia mendorong tubuh gadis itu menjauh, menunjuk kursi di meja makan.


"Aku takut masakanmu tidak enak."


"Enak atau tidak aku akan memaksamu untuk memakannya."


Bibir Dara mengerucut. Ia menurut saja duduk di kursi meja makan dan menunggu Nicholas selesai memasak. Entah apa yang sedang ia buat, yang jelas aromanya begitu sedap dan membuat perutnya keroncongan.


"Nic!" panggil Dara.

__ADS_1


"Hmmm."


"Kenapa kau mau melakukan semua ini?"


"Karena aku ingin cepat bercin ta denganmu."


Astaga---memang pemuda mesum. Tetapi, Dara tidak marah mendengar pengakuan Nicholas---entah benar atau hanya bercanda. Justru hatinya terasa hangat. Mereka sudah seperti keluarga kecil baru yang bahagia. Yang sedang manis-manisnya menikmati kebersamaan.


Setengah jam berlalu, Nicholas baru selesai menyiapkan makan malam. Dua piring sudah tersaji di atas meja. Dara melongo. Ini makanan anehnya minta ampun. Dibilang steak, tapi dagingnya gosong dan hancur. Kentang tumbuknya pun tidak halus. Lalu sausnya, berwarna hitam pekat. Mungkin Nicholas terlalu banyak mencampurkan saus hitam.


"Jangan tertipu dengan wujudnya, Dara. Aku jamin ini enak. Aku meniru resep Marry."


"Siapa Marry?" Dara memicingkan mata. Jangan-jangan Marry adalah mantan pacarnya.


"Kepala asisten rumah tangga keluarga Johanssen. Umurnya lima puluh tahun. Kau tidak usah cemburu."


Dara meringis malu. Ekspresi wajahnya mudah untuk ditebak rupanya. Untuk membuang rasa jengahnya, Dara menyuapi dirinya sendiri dengan sepotong daging. "Hmm ... lumayan." Ia mengangguk-angguk. "Terima kasih, Nic. Sudah repot-repot memasak makan malam untukku."


"Tidak usah berterima kasih. Semuanya tidak ada yang gratis, Dara."


"Aku minta imbalan."


"Apa?" Dara menatap curiga pada Nicholas yang sudah mulai memasang ekspresi wajah nakalnya.


"Tubuhmu."


"Apa?" Sontak Dara mendorong piringnya ke dekat Nicholas. "Lebih baik aku makan di luar saja," sungutnya seraya bangkit dari kursi.


"Hei, jangan, Dara. Aku bercanda. Duduklah." Nicholas menarik lengan Dara hingga gadis itu kembali duduk. "Imbalannya, kau tidak boleh berhubungan dengan si breng sek itu lagi."


Dara mencebik. "Kalau dia yang menemuiku bagaimana?"


"Jangan diterima."


"Kalau dia memaksa?"


"Aku akan mengirimnya ke neraka."

__ADS_1


"Mengerikan sekali," gumam Dara sambil bergidik.


"Aku serius."


Dara merotasikan kedua bola mata. Gadis itu menatap sang pangeran yang sedang sibuk mengunyah makanannya. "Nic ... aku heran kenapa Alena bisa punya fotoku dan Braden di Leith? Apa dia menyuruh orang untuk menguntitku? Atau ...."


"Atau Portia Johanssen membayar si breng sek itu untuk mendekatimu," sambung Nicholas. "Untuk mengganggu hubungan kita."


Dara mengelus dagunya. "Bisa jadi. Tapi, bagaimana ibumu tahu tentang Braden?"


Nicholas terkekeh. "Kau ini polos sekali, Dara. Itu bukan hal yang sulit untuk Portia."


Dara menepuk kening. Ya---tentu saja. Tetapi, ia tidak begitu percaya Braden mau melakukannya. Demi uang, misalnya. "Setahuku, Braden bukan orang semacam itu."


"Kau tidak usah heran. Pertama kali aku melihat si breng sek itu, aku sudah tahu dia breng sek," sahut Nicholas. "Kau sudah selesai? Biar aku bereskan piringnya."


"Ah, biar aku saja." Dara segera bangkit dari duduknya dan menumpuk piringnya dengan piring Nicholas. Lalu ia membawanya ke wastafel untuk dicuci.


Dara terkesiap saat dua tangan kokoh berbulu pirang halus menelusup ke pinggangnya. Punggungnya terasa hangat menempel di dada Nicholas.


"Nic, jangan begini. Ada Gwen di kamarnya," protes Dara. Gadis itu berusaha menghindari ciuman Nicholas di tengkuknya.


"Biar saja. Memangnya aku peduli padanya."


"Nic!" bentak Dara saat tangan Nicholas mulai nakal menggera yangi area sensitifnya.


"Hmmm ... sepertinya aku harus pindah dari apartemen ini." Gumam seseorang dari arah pintu dapur. Gwen menggeleng menyaksikan perbuatan kedua sejoli itu.


"Ya, pindah saja, Gwen. Kau sangat mengganggu momen-momen kami," sahut Nicholas dengan entengnya.


Gwen mendesis. Sementara Dara meringis menahan malu. "Maaf, Gwen," ucapnya lirih.


"Oh, tidak apa-apa. Tidak masalah. Lanjutkan saja. Anggap saja aku tidak pernah ada di sini. Abaikan saja aku," sindir Gwen seraya membuka pintu lemari pendingin dan mengambil sekotak jus.


"Kapan kalian akan menikah? Aku tidak sabar mendengar jeritan Dara di malam pertama," kekeh Gwen sambil mengerlingkan mata pada keduanya. Gadis itu tahu dari obrolan-obrolan Nicholas dan Dara yang tidak sengaja didengarnya, bahwa Dara akan menyerahkan keperawanannya pada Nicholas saat malam pertama nanti. Dan menurutnya itu sangat menggelikan.


***

__ADS_1


__ADS_2