
Dara hampir tidak bisa mencerna semua pelajaran yang disampaikan oleh dosen di bawah sana. Pikirannya terus dipenuhi oleh bayangan Braden. Kemarin sore, pemuda itu hanya mengajaknya berkeliling Edinburgh tanpa mengajaknya singgah di suatu tempat.
Obrolan Braden pun tidak ada yang menjurus pada pernyataan suka pada dirinya, seperti yang dikatakan oleh Allison. Semua terasa biasa-biasa saja. Sejujurnya Dara kecewa, tapi, ia tidak bisa berharap banyak.
Kelas hari itu pun selesai dengan tugas menumpuk yang harus selesai saat pertemuan berikutnya. Dara keluar kelas dengan langkah gontai. Energinya seakan tersedot banyak di dalam sana. Pasalnya, pikirannya terbagi-bagi dan itu membuatnya kelelahan.
Dara berharap tidak ada yang menguras energinya setelah ini. Tapi, harapan tinggallah harapan saat melihat sosok Nicholas menghampirinya.
"Tolong jangan ganggu aku," ucap Dara.
"Aku ingin minta maaf atas apa yang aku lakukan kemarin siang."
"Kau sungguh-sungguh meminta maaf? Baiklah, aku memaafkanmu." Setelah mengucapkan hal itu, Dara melangkah cepat meninggalkan Nicholas.
"Tapi, yang aku katakan itu benar." Nicholas menyejajarkan langkahnya di samping Dara.
"Yang mana? Kau mengatakan banyak hal."
"Tentang ... aku menyukaimu."
"Hhhhhfh!" Dara menghembuskan napasnya kasar. Ia menggeleng pelan sambil terus berjalan menuju keluar area kampus.
"Jadi bagaimana?" tanya Nicholas yang masih mengikutinya.
Dara menghentikan langkahnya. Ia menengadahkan wajahnya sambil berkacak pinggang. "Jadi, apa maumu?" tanyanya. Ia benar-benar tidak memiliki energi lebih untuk berdebat dengan pemuda yang sedang berdiri di hadapannya itu.
"Mauku? Kau jadi pacarku."
Dara membulatkan sepasang bola matanya. "Kau serius?"
"Sangat serius," jawab Nicholas mantap.
"Kalau aku tidak mau?"
"Kau harus mau."
Dara mendesis seraya mengibaskan tangan. Dasar tukang paksa, gerutunya dalam hati. Ia berpikir, dunia ini aneh sekali. Orang yang ia harapkan untuk menyatakan perasaan suka padanya, acuh tidak acuh. Sedangkan orang yang sama sekali tidak ia harapkan, justru menyatakan perasaan padanya. Dara bertanya-tanya, kenapa yang terjadi tidak sebaliknya.
"Apa alasanmu tidak mau menerimaku sebagai pacarmu? Kau tahu, ini pertama kalinya aku menyatakan perasaanku pada seorang gadis."
"Omong kosong!"
"Terserahlah kalau kau tidak percaya."
"Kau ingin tahu alasanku, Nic? Banyak. Kau menyebalkan, kau tukang bully, kau pemaksa, kau kaya dan manja, kau sombong, kau ...."
"Hei!" potong Nicholas. "Apa tidak ada satu pun kebaikan dalam diriku yang bisa kau lihat?"
"Hmmm ...." Dara mengelus dagunya. " Ada. Kau ... breng sek."
__ADS_1
Nicholas terbahak. "Itu dia! Jujur saja kalau kau menyukaiku."
"Apa?" Dara terperangah. Lihat betapa menyebalkannya pemuda bermata biru itu. Seenaknya saja berasumsi tentang perasaannya.
"Kalau kau tidak menyukaiku, kau tidak akan menghapal semua sifatku. Artinya, kau selalu memikirkanku."
"Teori dari mana itu, Nicholas Johanssen?"
Nicholas terkekeh. "Teoriku sendiri."
"Wow! Teori yang sangat valid," sindir gadis itu.
"Thanks, Dara."
Dara mendecak sebal. Ia tida tahu lagi harus menjelaskan apa pada Nicholas. "Aku menyukai orang lain," ujarnya kemudian.
"Yeah, yeah. Mantan pacar bosmu itu, bukan?" cebik Nicholas.
"Namanya Braden, Nic. Bra-den!" jelas Dara kesal.
"Whatever!" sahut Nicholas seraya mengibaskan tangannya. "Kau harus ingat kata-kataku tentang pemuda itu."
"Kau menilai Braden buruk karena kau iri padanya, bukan?"
Nicholas meloloskan tangannya. "Salah," ucapnya seraya menowel hidung Dara dengan jari telunjuknya, membuat gadis itu buru-buru menepis tangannya sambil menggerutu.
"Karena dia hanya memanfaatkanmu untuk ...." Nicholas kesulitan mengungkapkan pendapatnya. Ia menggaruk kepala sambil berpikir mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskannya pada Dara.
"Untuk ... pokoknya dia hanya ingin memanfaatkanmu. Aku tidak tahu alasannya tapi kau harus percaya padaku."
"Nggak jelas!" gerutu Dara seraya melanjutkan langkahnya. Ia tidak ingin mendengarkan Nicholas lagi. Lagi pula ia harus bekerja sebentar lagi.
"Kau tahu, Dara?!" seru Nicholas. "Aku tidak pernah bermain wanita lagi sejak aku membuang Sophie?!"
Dara mengangkat satu tangan tanpa menoleh pada Nicholas. Ia terus saja berjalan tanpa memedulikan pemuda itu. Ia pun menarik napas lega Nicholas tidak mengikutinya lagi.
***
"Bagaimana kencanmu?" tanya Allison saat Dara baru saja tiba.
"Kencan apa?" Dara mencoba menahan senyumnya. Ia meletakkan tasnya di dalam loker.
"Dengan Braden tentu saja," kekeh Allison.
Dara meloloskan tawanya. "Tidak ada kencan, Ally," jawabnya.
"Belum. Mungkin segera."
Dara memandang Allison keheranan. Bosnya ini kenapa begitu bersemangat menjodohkannya dengan Braden. Ia benar-benar tidak mengerti apa maksudnya.
__ADS_1
"Braden hanya menganggapku teman," ucap Dara getir. Bukan tanpa alasan ia berasumsi seperti itu. Kenyataanya, Braden memang bersikap biasa-biasa saja terhadapnya.
"Braden itu pemalu jika harus menyatakan perasaannya terlebih dahulu pada seorang gadis. Mungkin kau harus mengganti metodenya."
"Hah?"
"Bagaimana kalau kau duluan yang menyatakan perasaanmu padanya?"
Dara menelan salivanya. Tenggorokannya tiba-tiba saja terasa kering. Menyatakan perasaannya terlebih dahulu pada Braden. Ini agak gila. Tapi, ia sedikit tergoda untuk menuruti nasehat Allison.
"Ayolah, Dara. Kita hidup di zaman modern. Wanita zaman sekarang tidak harus selalu menunggu dan menunggu. Tidak harus selalu dikejar, tapi kita juga bisa mengejar."
Ngomong-mgomong tentang zaman modern, tidak semua orang hidup dengan ideologi zaman modern. Contohnya keluarga Nicholas, pikir Dara dalam hati. Astaga. Kenapa Nicholas lagi yang terlintas di dalam benaknya.
"Coba saja, Dara. Anggap saja itu sebuah tantangan."
Ucapan Allison begitu menggoda. Tapi, hatinya diliputi keragu-raguan. Dara tipe pemikir. Sampai-sampai ia memikirkan bagaimana kalau prediksinya salah. Bagaimana kalau ternyata Braden tidak menerima pernyataan cintanya.
Lebih baik ia menunggu beberapa lama lagi. Mengamati tanda-tanda dalam diri Braden, apakah pemuda itu memang menyukainya lebih dari sahabat atau tidak.
Dara menghentikan pertanyaan-pertanyaan yang hilir mudik dalam benaknya saat pembeli mulai berdatangan. Ia menyibukkan diri siang itu dengan melayani pembeli dengan berbagai macam karakter. Setidaknya, otaknya bisa beristirahat sejenak dari urusan asmara yang membingungkan itu.
Sore harinya, Dara kembali dikejutkan dengan Braden yang datang menjemputnya. Meskipun terkejut dan heran, Dara merasa begitu gembira.
"Have fun, Guys!" seru Allison saat Dara berpamitan.
Saat ia sudah berada di dalam mobil Braden, Dara tidak dapat menyembunyikan rasa gugup dan canggungnya, membuat pemuda itu mengerutkan kening.
"Kau baik-baik saja, Dara? Apa kau butuh ke kamar kecil?" tanya Braden yang melihat Dara beberapa kali mengganti posisi duduknya.
"Mmm ... tidak. Aku hanya ... sedang mencari posisi duduk yang nyaman."
"I see." Braden mengangguk-angguk. Ia memokuskan kembali pandangannya ke jalan.
"Braden ....," panggil Dara.
"Ya?"
"Kenapa kau menjemputku setiap hari?" tanya Dara. Anggap saja ini sebuah pancingan bagi Braden untuk menyatakan perasaan padanya.
"Karena aku ingin," jawab Nicholas pendek dan terkesan seadanya.
"Hanya itu?"
"Sementara hanya itu. Entah besok atau lusa, mungkin motifku menjemputmu berbeda," kekeh Braden.
Dara tersenyum tipis. Entah apa maksud ucapan Braden, yang jelas, ia merasa ada sesuatu yang mengganjal dalam dadanya. Tapi, ia kesulitan untuk menjelaskannya.
Ia harus menelan sedikit rasa kecewa saat Braden menepikan mobil di depan gedung apartemen miliknya. Pemuda itu tidak mengajaknya ke mana-mana.
__ADS_1
"Sampai jumpa, Dara," ucap Braden saat Dara membuka pintu mobil dan menghambur keluar.
***