My Prince Of Edinburgh

My Prince Of Edinburgh
Bab 52. Bertahanlah.


__ADS_3

"Mana Portia?" Nicholas yang baru saja masuk ke dalam mansion keluarga Johanssen bertemu dengan Alexandra. Gadis itu muncul dari balik pintu kamarnya.


"Wah, serius sekali wajahmu, Nic?" kekeh gadis berambut pirang itu. "Sepertinya ada masalah besar," cebiknya.


"Diam kau! Aku akan buat perhitungan denganmu nanti!" tunjuk Nicholas di depan wajah sang kakak. Kemudian, ia berlalu dari hadapan Alexandra dan mencari keberadaan sang ibu. Ia bertemu dengan Marry dan wanita paruh baya itu mengatakan kalau Portia ada di ruangannya.


Dan benar, sang ibu tengah berkutat dengan laptop dan setumpuk file di meja kerjanya. Melihat kedatangan Nicholas, wanita itu mengulas senyumnya.


"Ah, Nicholas ... akhirnya kau kembali," ucap Portia.


"Di mana Dara?" tanya Nicholas tanpa basa-basi.


"Dara siapa?" Portia mengerutkan kening.


"Tidak usah berpura-pura, Mama."


"Hei, aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, Nak."


"Mama!" sentak Nicholas. "Aku tahu kau menyembunyikan Dara. Di mana dia sekarang?"


"Nicholas ... aku benar-benar tidak tahu apa yang kau bicarakan."


"Di mana Dara, Mama?" desak Nicholas. Ia sangat yakin Portia telah melakukan sesuatu pada Dara. Meskipun mustahil wanita itu akan mengatakan yang sebenarnya.


"Well," ucap Portia sembari mengulas senyum kembali. "Aku tidak bisa memberikan informasi yang kau butuhkan karena aku memang tidak tahu."


Nicholas menggeram kesal. Rasanya percumah saja memaksa wanita itu untuk mengatakan yang sebenarnya. Yang jelas, ia hanya ingin memastikan bahwa dirinya sudah tahu perbuatan sang ibu.


"Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Dara, aku tidak akan pernah memaafkanmu!" ancam Nicholas membuat Portia terkesiap. Lalu, ia hanya bisa memandangi sang putra berlalu dari ruangannya.


Nicholas kembali bertemu dengan Alexandra di ruang keluarga. Tatapan matanya tajam tertuju pada sang kakak. "Kalau kau ikut terlibat menyakiti Dara, aku tidak akan pernah memaafkanmu!" tunjuknya pada gadis bermata biru itu.


Alexandra mengangkat kedua tangan pura-pura menyerah. Sementara Nicholas melangkah pergi dengan mata masih menatap tajam ke arah sang kakak.

__ADS_1


Nicholas menutup pintu mobil dengan keras. Sebelum meninggalkan halaman mansion, ponsel di saku celananya bergetar. Nama Thomas tertera di layar. Sebelumnya, sang kakak pertama mengutarakan idenya untuk melacak ponsel milik Dara. Ia memiliki kenalan seorang detektif swasta.


"Oh, s hit!" Hanya itu yang keluar dari mulut Nicholas saat selesai berbicara dengan Thomas di telepon.


Ia bergegas melakukan mobil keluar halaman mansion, menuju ke tempat yang diberitahukan oleh Thomas, di mana sang detektif kenalannya menemukan ponsel Dara di pinggir jalan. Benar dugaannya. Ada yang tidak beres. Dara pasti sedang dalam bahaya.


"Ada rumah mencurigakan tidak jauh dari sini," ujar sang detektif, seorang pria dengan kumis tipis. Tampaknya ia seumuran dengan Thomas.


"Kita ke sana," sahut Nicholas cepat. Dadanya berdebar kencang. Ia tidak bisa membayangkan jika sesuatu terjadi pada calon istrinya.


"Kita perlu meminta bantuan polisi." Sang detektif menahan lengan Nicholas yang hendak melangkah menuju mobilnya yang terparkir di pinggir jalan raya yang sepi.


Thomas menggeleng. "Polisi tidak akan menanggapi."


Sang detektif tentu mengerti maksud dari Thomas. "Jadi?"


"Kita bertiga saja yang ke sana," jawab Thomas seraya menepuk-nepuk pundak Nicholas untuk membuat sang adik tenang.


***


"Tadinya tugasku hanya mendekatimu saja dan membuat hubunganmu dengan sang pangeran rusak." Braden berucap. Ia duduk di hadapan Dara seraya mencondongkan badan dan menumpu dengan lengan di atas kedua paha. Sementara Alison duduk di sebelah kanan, memutar-mutar pistol di tangannya. Sepertinya ia sangat menyukai benda itu.


"Tapi, sepertinya sang pangeran benar-benar jatuh cinta padamu. Jadi, misiku berubah menjadi ...."


"Menghabisiku?" potong Dara seraya terkekeh kecil. Kepalanya sudah tidak bisa berpikir jernih. Rasa haus dan lelah yang tidak kunjung terobati membuat gadis itu pasrah.


Braden dan Alison saling melempar pandang. Kemudian, pemuda itu kembali menatap ke arah Dara. "Ya, begitulah."


"Ya sudah, habisi saja aku sekarang," tantang Dara. Ia putus asa. Nicholas tidak mungkin menemukannya. Apalagi, mungkin saja pemuda itu berpikir dirinya kabur dengan Braden.


"Kamu sedang menunggu perintah. Tenang saja, kau pasti akan kami habisi." Yang berucap Alison. Sungguh, Dara merasa gadis itu adalah jelmaan iblis sekarang. Begini rupanya wajah aslinya.


Beberapa saat kemudian, ponsel Braden bergetar. Ia berdiri dan berjalan pelan memutari Dara sambil berbicara dengan seseorang yang meneleponnya. "Sekarang, Nyonya?" tanyanya.

__ADS_1


"Baik, Nyonya." Braden menutup telepon. Bibirnya menyunggingkan senyum miring. Lalu ia mendekati Alison dan meminta pistol di tangan gadis itu.


Dara memejamkan mata. Malam ini hidupnya akan berhakhir. Semua kenangan masa kecil, remaja hingga momen-momen yang ia lalui di Edinburgh bagai kolase yang memenuhi kepalanya. Dan Nicholas. Baru saja ia membuka hati untuk pemuda itu dan membulatkan tekad untuk hidup bersama dengannya, namun, ia harus pergi meninggalkan dunia ini.


"Maafkan aku, Dara." Braden menarik pelatuk tanpa ragu-ragu.


Brak


Bersamaan dengan peluru yang berhasil menembus tubuh Dara, pintu ruangan itu itu roboh. Tiga orang pria masuk. Salah satunya memegang pistol. Kejadiannya begitu cepat. Saling baku tembak pun terjadi dan berakhir dengan Braden yang terkapar diselingi jeritan Alison.


"Dara! Astaga!" Nicholas menghambur ke arah Dara yang terkulai lemas di kursi dengan dada berlumuran darah. Namun, saat melihat Braden, amarahnya pun meluap.


"Breng sek! Beraninya kau menyakiti Dara. Aku bunuh kau, Baji ngan!" Ia hajar pemuda yang telah terkapar di lantai itu tanpa ampun, sehingga Thomas turun tangan untuk melerainya. Perlu waktu lama untuk pria itu menarik sang adik yang sedang dikuasai amarah.


"Bawa Dara ke rumah sakit. Biar aku dan Greg yang mengurus dua orang ini," pinta Thomas.


Nicholas tersadar dari amarah yang menguasai dirinya dan segera membuka ikatan pada tubuh Dara. Setelah itu ia menggendong gadis itu keluar rumah. Dibukanya pintu mobil dengan tergesa-gesa dan mendudukkan Dara di kursi penumpang.


"Nic ...," ucap Dara lirih.


"Hei, Sayang. Tidak akan terjadi apa-apa padamu. Aku akan membawamu ke rumah sakit," ucap Nicholas seraya satu tangannya menggenggam tangan Dara erat. "Tolong bertahanlah, Dara," ucapnya frustrasi.


"Jangan pergi, Dara. Aku mohon. Bertahanlah untukku."


"Dara, bicaralah padaku. Jangan pergi. Aku mohon ...."


"Dara, bertahanlah."


Dara tersenyum. Dalam pandangan matanya yang mulai kabur, ia melihat Nicholas begitu panik. Rasanya ia ingin meminta maaf pada pemuda itu karena terlalu lama berpikir untuk menerima cintanya. Andai dirinya memiliki waktu lebih lama lagi hidup di dunia, ia berjanji akan membuka hati selebar-lebarnya untuk menerima cinta Nicholas.


Akan tetapi, ia tidak lagi sanggup membuka mata.


***

__ADS_1


__ADS_2