My Prince Of Edinburgh

My Prince Of Edinburgh
Bab 26. Jangan Sentuh Dia, Atau Kau Mati.


__ADS_3

Dara keluar dari ruangan profesornya, Daniel Murphy, dengan napas sedikit tersengal. Wajahnya terlihat pucat. Pria itu sama sekali tidak membahas kejadian di toliet dengan Sophie. Ia justru menawarkan hal yang tidak senonoh padanya.


Dosen mata keranjang, maki Dara dalam hati. Ia bahkan berusaha untuk menyentuhnya. Untung saja ia berhasil meloloskan diri.


Dara bergidik ngeri membayangkan kejadian yang baru saja dialaminya. Ia cepat-cepat meninggalkan tempat itu tanpa menoleh ke sekitarnya hingga ia menabrak seseorang.


"Wooow, hati-hati, Nona."


Dara menepuk keningnya saat melihat orang yang baru saja ditabraknya adalah pemuda paling menyebalkan di kampus.


"Kenapa kau ada di mana-mana?" gerutu Dara.


Nicholas terbahak. "Kelasku ada di sini," tunjuknya pada pintu ruangan di sampingnya. "Kenapa kau ada di sekitar sini?" Nicholas balik bertanya.


"Bukan urusanmu," sungut Dara.


Mata Nicholas menangkap sosok Daniel Murphy yang baru keluar dari ruangannya. Pria itu memandang sekilas ke arah mereka. Atau lebih tepatnya ke arah Dara. Tapi, ia buru-buru berlalu.


Sungguh mencurigakan. Nicholas mengerutkan keningnya. "Kau baru menemui Daniel Murphy?" tanyanya pada Dara.


"Sudah aku bilang bukan urusanmu." Dara hendak berlalu, tapi Nicholas menahannya.


"Apa yang terjadi? Kenapa wajahmu pucat seperti itu?" Nicholas memiringkan kepala memeriksa wajah Dara.


"Tidak apa-apa." Dara menarik tangannya. "Awas! Aku mau ke kantin."


"Aku ikut." Nicholas mengikuti langkah Dara menuju kantin yang terletak di gedung sebelah.


Tentu saja Dara protes. Ia tidak mau terlihat dekat dengan Nicholas di kampus, karena tidak mau dianggap sebagai mainan baru pemuda itu. Tapi, tentu saja Nicholas tidak memedulikan protes Dara. Ia tetap mengikuti gadis itu hingga sampai di kantin.


Nicholas bahkan memaksa membayar makanan dan minuman yang dipesan Dara. Gadis itu hanya bisa memijit kepala menghadapi pemuda keras kepala itu.


"Hei, kau tadi memang menemui Daniel Murphy?" tanya Nicholas.


Dara hanya mengangguk. Ia mengaduk pasta di piringnya.


"Dia memanggilmu atau ...."


"Dia memanggilku."


Nicholas mengelus dagunya sambil menatap Dara yang sibuk dengan pastanya. "Mau apa dia? Membicarakan tentang apa yang kau lihat di toilet kampus?"

__ADS_1


Dara menggeleng. "Aku kira dia akan mengancamku atau semacam itu agar aku tutup mulut. Tapi ...."


"Tapi apa?" tanya Nicholas penasaran.


"Tidak apa-apa. Lupakan saja."


"What? Tell me," desak Nicholas.


Dara menghela napasnya. Sebenarnya tidak penting menceritakannya pada Nicholas. Tapi, pemuda itu terus memaksanya. Dan Nicholas pasti akan terus mendesaknya sampai ia tidak penasaran lagi.


"Breng sek!" Nicholas mengepalkan tangannya. "Beraninya dia melakukan itu padamu. Akan aku hajar dia!"


"Hei! Nic! Tidak perlu!" pekik Dara. Ia terkejut dengan reaksi Nicholas yang tidak ia bayangkan sebelumnya. Pemuda itu terlihat begitu marah.


"Kalau kau mau, dia bisa dipecat hari ini juga!"


Dara menggeleng keras. Reaksi Nicholas sangat berlebihan. Ia pikir pemuda itu akan mengejek dan menggodainya setelah ia menceritakan apa yang dialaminya di ruangan Daniel Murphy. Tapi, yang terjadi justru sebaliknya.


"Ini tidak bisa dibiarkan. Aku tidak mengizinkan dia memperlakukanmu seperti itu," erang Nicholas.


"Nic, sudahlah. Kenapa reaksimu berlebihan seperti ini?"


"Aku tidak berlebihan. Dia sudah kurang ajar padamu. Aku tidak terima."


Ia memandang pemuda tampan di hadapannya itu. Wajahnya tegang. Tangannya mengepal dan rahangnya mengeras.


"Kenapa kau begitu marah? Kenapa?" tanya Dara.


Nicholas mendecak. "Aku sudah bilang padamu, aku tidak kalau kau dipermainkan."


Dara merotasikan matanya. "Iya, tapi, kenapa?" tuntutnya.


"Aku sudah bilang aku menyukaimu."


Dara mendesis seraya mengibaskan tangannya. "Tidak usah bicara omong kosong," ujarnya.


"Apa aku terlihat seperti sedang bicara omong kosong?" Nicholas menatap Dara lekat.


"Sudahlah, Nic ... lupakan saja. Aku tidak akan berurusan dengan Daniel Murphy lagi."


Nicholas menggebrak meja sekali, membuat Dara terkesiap. Melihat wajah Nicholas yang terlihat benar-benar marah, nyalinya tiba-tiba saja menciut. Ia belum pernah melihat Nicholas bersikap seperti ini adanya. Pernah, mungkin, di pertemuan pertama mereka, atau saat dirinya dan Nicholas terlibat konflik sepeda.

__ADS_1


Namun, kali ini rasanya berbeda dari ekspresi marah Nicholas waktu itu. Ada sesuatu dalam diri pemuda itu, yang sulit ia cerna. Ibaratnya, Nicholas terlihat seperti seseorang yang sedang terusik karena sesuatu yang ia sukai dirusak orang.


"Nic, kau mau ke mana?" tanya Dara saat melihat Nicholas beranjak dari tempat duduknya.


"Kau diam saja di situ. Nikmati makan siangmu. Aku ada urusan," sahut Nicholas seraya melangkah keluar kantin.


Dara mengangkat kedua tangannya seraya menghembuskan napasnya kasar. Beberapa saat lamanya ia tertegun, mencoba mencerna sikap aneh Nicholas. Hingga ia sadar beberapa orang di kantin itu saling berbisik seraya menatapnya dengan tatapan aneh.


Ah--tentu saja. Mereka berpikir dirinya adalah mainan baru Nicholas. Dara yakin, mereka memandangnya begitu remeh dan murah.


Inilah yang tidak ia sukai saat berdekatan dengan putra keluarga Johanssen itu di kampus.


***


"Hei! Aku ingin bicara denganmu," kata Nicholas pada pria paruh yang baru saja keluar dari dalam ruang kelas.


"Ah, Nicholas. Ada yang bisa aku bantu?" tanya pria itu; Daniel Murphy. Ekspresi wajahnya terlihat cemas meskipun ia berusaha untuk bersikap tenang.


"Aku bilang aku ingin bicara denganmu!" seru Nicholas geram.


"Owh, okay. Di ruanganku?"


Nicholas mengikuti langkah pria itu menuju ruangannya. Sampai di sana, pemuda itu tidak berniat untuk berbasa-basi. Ia mendorong keras Daniel hingga pinggang bagian belakang pria itu menabrak mejanya.


Ia menarik kerah baju Daniel dan bersiap menghadiahi bogem mentah di wajahnya. Tapi, pria itu buru-puru mengangkat tangannya menyerah.


"Nic, dengar. Aku bisa jelaskan. Okay, aku minta maaf telah mengganggu pacarmu, Sophie. Dan tentang kejadian di toilet itu, itu murni kekhilafan."


Nicholas melepaskan kerah baju Daniel dengan kasar. "Aku tidak peduli dengan Sophie dan apapun yang kau lakukan padanya. Dia bukan siapa-siapaku," decihnya.


"Dara yang aku maksud. Gadis yang tadi kau panggil kemari," lanjut Nicholas. "Kalau kau berani mengganggunya, atau bahkan menyentuhnya ...." Ia menunjuk wajah Daniel. "You're dead (Tamat riwayatmu)!"


"O-okay, aku tidak akan mengganggunya lagi. Maafkan aku," ucap Daniel terbata.


Sekali lagi Nicholas mendorong dada Daniel sebelum meninggalkan ruangan pria itu. Ia menutup pintu dengan keras hingga membuat dada Daniel bergetar hebat.


Nicholas berniat menemui Dara kembali di kantin, tapi gadis itu sudah tidak terlihat di sana. Ia mencari ke sana kemari gadis manis itu, dan mendapatinya di dekat gerbang kampus.


Namun, ia tidak sendiri. Dadanya bergemuruh melihat pemuda yang sedang berbicara dengan Dara.


"Unbelievable (Tidak bisa dipercaya)," gumamnya menahan geram.

__ADS_1


***


__ADS_2