My Prince Of Edinburgh

My Prince Of Edinburgh
Bab 44. I Will Live Like Ordinary People.


__ADS_3

Hal pertama yang Nicholas lakukan saat membuka mata pagi itu adalah mencium kening Dara yang masih terlelap di pelukannya. Apa yang terjadi semalam dengan gadis itu. Ini yang membuatnya juga merasa heran dengan diri sendiri. Pertama kalinya ia berada dalam satu ranjang dengan gadis yang jelas-jelas sudah menjadi kekasihnya, dan ia tidak melakukan apa pun yang melampaui batas.


Wajah polos Dara membuatnya hanya ingin melindungi tanpa merusak. Ia hanya ingin berdekatan dengan gadis itu tanpa melakukan hubungan fisik yang melibatkan inti masing-masing; sekedar berciuman mungkin hal yang wajar. Apakah ini yang dinamakan ketulusan dalam cinta.


Pelan ia menggeser Dara yang masih berkutat di alam mimpi, agar dirinya bisa beranjak dari atas ranjang dan melakukan sesuatu di dapur.


Sementara Dara---beberapa saat kemudian---terjaga dari tidurnya dan mendapati Nicholas tidak ada di sampingnya.


Aroma sedap makanan menggelitik hidungnya dan membuat perutnya berdansa. Pelan ia menyibakkan selimut dan turun dari atas ranjang, menyeret langkahnya menuju ke luar kamar.


Ia mencari-cari sosok Nicholas dan menemukan pemuda itu sedang berada di dapur. Sungguh pemandangan yang menyegarkan mata pagi itu. Seorang Nicholas Johanssen tengah sibuk membuat sarapan, sepertinya.


"Nic," panggilnya.


"Oh, astaga! Kau membuatku terkejut," kekeh Nicholas. Kemudian ia menunjuk ke arah meja makan. "Duduk di sana. Tunggu sampai aku selesai membuat sarapan."


Benar adanya. Nicholas sedang membuat sarapan untuk mereka berdua. Memang sulit untuk dipercaya, namun begitulah kenyataannya. Dara menuruti kata-kata Nicholas. Ia menarik kursi dari bawah meja dan menjatuhkan pan tat di sana. Senyum di bibirnya terus tersungging memandangi Nicholas yang tampak seksi dengan celana rumahan dan kaus tanpa lengan. Rambutnya diikat sebagian dan terlihat berantakan.


"Aku harap kau suka." Nicholas menyodorkan piring berisi tiga potong sandwich berisi daging cincang. "Hog Roast Roll. Aku membuatnya sebisaku."


"Kau bisa melakukan semua ini?" tanya Dara, masih meyakinkan diri bahwa yang duduk di seberangnya adalah Nicholas Johanssen.


Nicholas terbahak. "Kenapa? Kau pikir aku tidak bisa melakukannya?" cebiknya.


"Tadi aku menemukan bahan makanan di lemari pendingin. Aku lihat belum kadaluarsa," kekeh Nicholas.


"Kau yang biasanya dilayani, sekarang harus melayani. Itu hebat."


"Kau tahu, aku harus menyiapkan diri jika suatu saat jatuh miskin."


Dara menaikkan kedua alisnya. "Kenapa kau bicara seperti itu?" tanyanya heran.


"Siapa yang bisa menebak jalan hidup masing-masing? Jika keluargaku suatu saat menarik semua fasilitas yang mereka berikan padaku, setidaknya aku sudah siap."


Dara mengerti arah pembicaraan Nicholas. Hanya saja, ini sungguh di luar dugaannya. Benarkah Nicholas rela jika ia harus hidup sederhana karena memilih untuk bersama dengan dirinya.

__ADS_1


"Apa kau masih mau bersamaku meskipun aku tidak kaya?"


Dara mendesis. "Pertanyaan bodoh. Kau tahu, sejujurnya aku lebih senang kalah kau bukan siapa-siapa. Hanya pria Skandinavia biasa."


"Aku memang tidak salah memilih seorang gadis," ucap Nicholas senang.


Sarapan pagi itu terasa begitu nikmat meskipun makanan yang dibuat oleh Nicholas terlihat cukup berantakan. Namun, rasa hog roast roll yang dibumbui dengan ketulusan Nicholas, sudah lebih dari cukup.


"Plus ... kau juga harus memberiku penghargaan karena semalam aku bisa menahan nafsu untuk tidak menidu rimu," kekeh Nicholas.


"Kenapa kau tidak melakukannya?" pancing Dara.


"Karena ... aku harus mengatur strategi bagaimana bercin ta dengan seorang perawan," gelak Nicholas.


"Sialan kau, Nic!" umpat Dara sebal.


Tawa Nicholas berderai-derai. Keduanya menikmati sarapan dengan penuh canda tawa, dengan obrolan random khas Nicholas yang membuat Dara terkadang tidak mampu menahan tawanya.


***


Akan tetapi, Alena tidak bisa berbuat apa-apa kecuali meminta bantuan keluarganya dan juga keluarga Nicholas. Portia dan ayahnya memiliki kerjasama bisnis yang baik. Tepatnya, sebagai perdana menteri, ayahnya---Robert Sturgeon---membantu kelancaran bisnis keluarga Johanssen. Membantu hal cukup penting untuk keluarga kaya yang memiliki bisnis raksasa. Menghindari pajak.


Meskipun dirinya sudah dipermak sedemikian rupa sehingga terlihat begitu cantik, tetap saja ia tidak mampu menarik perhatian Nicholas. Sungguh keterlaluan. Padahal kepercayaan dirinya sudah naik pesat semenjak itu. Ia bukan lagi Alena putri perdana menteri yang culun.


"Tenanglah, Alena. Aku pasti akan membantumu." Begitu ucapan Portia saat dirinya melapor pada ibunda Nicholas.


"Tapi, Nyonya Johanssen, Nicholas dan gadis itu sepertinya sulit sekali dipisahkan," sergah Alena dengan hati dongkol.


Portia tersenyum. "Kunci Nicholas ada di tanganku. Aku bisa dengan mudah membuatnya meninggalkan gadis itu."


Alena percaya seorang Portia Johanssen mampu melakukan apa saja. Apalagi hanya sekedar menyingkirkan seorang gadis yang bukan siapa-siapa. Itu hal mudah untuknya.


Dan ucapan Portia memang tidak main-main. Sore itu, Nicholas dikejutkan dengan beberapa kartu debet miliknya yang tidak bisa gunakan di sebuah restauran.


"Biar aku saja yang bayar," ujar Dara saat melihat Nicholas sedikit kebingungan di meja kasir. Untung saja di dompetnya ada beberapa lembar uang cash.

__ADS_1


"Sepertinya, ibuku bertindak lebih cepat dari yang aku kira," kekeh Nicholas seraya membukakan pintu mobil untuk Dara.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Dara cemas.


Nicholas terbahak. "Aku tidak peduli, Dara. Kalau bisa akan kukembalikan mobil ini pada keluargaku," jawabnya santai.


"Kau serius?" Dara membulatkan kedua bola mata. Ini terlalu cepat dan ia merasa takut. Takut Nicholas tidak mampu bertahan.


"Ya. Aku bisa mengembalikannya hari ini. Dan ... aku akan tinggal di apartemenmu. Mencari pekerjaan layaknya pria normal."


Dara kembali terkejut mendengar penuturan Nicholas. Enteng sekali dia mengatakan semua hal itu. Apakah pemuda itu tidak tahu bagaimana sulitnya hidup miskin.


"Kau yakin?" tanya Dara memastikan.


"Kau tidak percaya?"


"Aku tidak tahu. Aku hanya ... ragu apakah kau memang mampu hidup sederhana?"


Nicholas mendecak sebal. "Kau meragukanku? Akan aku buktikan padamu," ucapnya seraya menepikan mobil di depan apartemen Dara.


"Turunlah, Dara," pintanya.


"Kau tidak ikut turun?"


"Ada sesuatu yang harus aku lakukan. Aku akan kembali dalam satu jam."


"Tunggu! Kau tidak sedang merencanakan hal konyol, bukan, Nic?" tanya Dara curiga.


"No, Baby. Now get down, Dara. I'll be right back."


Ragu-ragu Dara membuka pintu mobil dan berdiri di pinggir jalan hingga mobil Nicholas melaju dan menghilang di persimpangan. Benak Dara dipenuhi pikiran-pikiran buruk.


Gadis itu melangkah gontai masuk ke gedung apartemen. Tidak bisa dipungkiri ia merasa begitu was-was dan khawatir. Ini sungguh menegangkan.


***

__ADS_1


__ADS_2