
Dara terperangah mendapat perlakuan mendadak dari Braden. Lebih terkejut lagi tatkala entah dari mana Nicholas tiba-tiba saja Nicholas sudah berada di sampingnya dan menghadiahi Braden bogem mentah di wajahnya. Untung saja sedang tidak ada yang melintas di sekitar sana sehingga tidak terjadi kehebohan atas tindakan Nicholas.
"Nic!" Dara meraih lengan Nicholas. Pemuda itu hendak kembali menghantam Braden.
"Kau memang tidak tahu malu, ya?!" tunjuk Nicholas pada pemuda yang sedang meringis kesakitan karena bibirnya pecah.
"Kau yang tidak tahu malu. Selalu saja ada di antara aku dan Dara."
"Apa aku tidak salah dengar?"
Kedua pemuda itu sudah saling mencengkeram kerah pakaian lawan. Dara melerai dengan mendorong kedua agar saling menjauh. Dan gadis itu berdiri di tengah-tengah dua pemuda yang sedang dikuasai amarah.
"Hentikan! Atau aku lapor polisi!" ancam Dara.
Nicholas mendecih. "Awas kau!" ancamnya pada Braden. Kemudian ia meraih lengan Dara dan menyeretnya menuju mobil pinjaman milik Thomas yang terparkir tepat di depan gerbang kampus.
"Nic! Apa-apaan kau!" seru Dara saat tangan Nicholas bergerak kasar menyapu bibirnya.
"Aku tidak sudi bibirmu disentuh si breng sek itu!"
Dara bersungut-sungut. "Kau ini selalu main pukul seenaknya. Kalau kau dituntut karena penganiayaan bagaimana?" erangnya.
"Biar saja. Si breng sek itu sudah mengganggu calon istriku. Apa aku harus diam saja?" Nicholas menghidupkan mesin mobil. Ia mengurungkan niatnya untuk mengikuti kelas hari itu dan meninggalkan kampus.
"Kau juga, Dara. Kenapa mau dicium si breng sek itu?! Beraninya kau!"
"Siapa yang mau dicium. Kau jangan sembarangan menuduh. Dia tiba-tiba saja menciumku."
"Tapi, kau terlihat menikmatinya."
Dara memutar kedua bola mata sebal. Ia hanya terkejut dengan perbuatan Braden yang tiba-tiba dan dirinya tidak sempat menghindar. "Terserah kau saja!"
"Hei! Benar kau menikmati ciuman itu? Kau masih punya perasaan padanya?" Nicholas menepikan mobil di pinggir jalan. Pikirannya kalut dan ia merasa sangat berbahaya jika terus menyetir.
__ADS_1
"Kenapa kau menuduhku sembarangan, Nic?" Wajah Dara merah padam menahan kesal.
"Kenapa kau marah? Seharusnya aku yang marah. Kau ini, sudah tahu kita akan menikah sebulan lagi, masih saja memikirkan pria lain!"
"Kau yang memaksa kita menikah satu bulan lagi. Kenapa aku yang disalahkan?"
"Oh, begitu?" Nicholas melajukan mobilnya kembali. Kali ini dengan sangat kencang. Bahkan Dara harus menahan napas saat pemuda itu mendahului beberapa mobil di depannya dengan membanting setir kasar.
"Nic! Kau ingin membunuh kita berdua?!" teriak Dara panik. Jantungnya seakan-akan hendak melompat keluar ceruknya. Nicholas sudah seperti pembalap formula one yang tancap gas dengan kecepatan tinggi.
"Nic! Please!" teriaknya Dara sembari memukuli bahu Nicholas.
Pemuda itu pun memelankan laju mobil saat mendekati area apartemen Dara, hingga berhenti di depan gedung itu. Nicholas tidak segera turun. Pemuda itu diam saja seraya mencengkeram kemudi.
"Nic?"
"Turun!" perintahnya dengan suara dingin.
"Aku bilang turun!"
"T-tapi ...."
"Turun, Dara!"
Dara menahan saliva dengan susah payah. Nicholas benar-benar marah. Oh---mengerikan sekali. Ia pelan membuka pintu mobil. Nicholas sama sekali tidak menoleh ke arahnya. Begitu ia menginjakkan kedua kaki di lantai trotoar dan menutup pintu, mobil Nicholas kembali melaju, meninggalkan Dara yang terbengong-bengong.
Dan itu terakhir kali Dara melihat Nicholas. Malamnya, pemuda itu tidak datang. Pun keesokan harinya, dan kini sudah tiga hari Dara tidak tahu di mana keberadaan pemuda itu. Ponselnya pun tidak bisa dihubungi.
Dara menjadi uring-uringan. Ia menyesal tidak mengalah saja saat bertengkar dengan Nicholas. Meskipun, ia tidak tahu salahnya di mana. Braden tiba-tiba datang, lalu tiba-tiba menciumnya. Sejujurnya Dara juga kesal pada Nicholas kenapa ia menuduh dirinya masih memiliki perasaan pada Braden. Itu yang membuatnya gengsi untuk meminta maaf terlebih dahulu. Yang jelas, kedatangan Braden bukan salahnya. Seharusnya Nicholas tidak marah padanya. Seharus pemuda itu tidak meninggalkannya tanpa kabar seperti ini.
Nicholas juga tidak masuk kuliah sudah tiga hari ini. Dara tahu itu, karena ia sengaja menunggu di kampus hingga sore hari, berharap pemuda itu datang ke kampus. Namun, nihil. Ia tidak menemukan sosoknya di mana-mana. Hati Dara dilanda kesepian yang luar biasa.
Astaga---kenapa dirinya menjadi serapuh ini tanpa kehadiran Nicholas.
__ADS_1
Kini, Dara termenung di sofa ruang tamu apartemennya. Entah bagaimana ia sangat menanti pintu itu diketuk dan melihat senyum jahil Nicholas di baliknya.
Dan harapannya itu terkabul. Beberapa saat kemudian pintu diketuk oleh seseorang. Dengan dada berdebar kencang ia menghambur ke arah pintu dan membukanya. Namun, senyumnya seketika menghilang.
"Braden?"
"Hei, Dara," sapa pemuda berambut ikal itu dengan memasang senyum manis di bibir.
"Maaf aku datang tiba-tiba. Boleh aku bicara denganmu?"
"Tidak di sini. Ayo ikut aku."
Braden tidak memberi kesempatan Dara untuk menjawab ajakannya. Ia meraih lengan gadis itu dan membawanya menuruni tangga apartemen. Entah kenapa Dara tidak mampu menolak. Ia ikut saja pemuda itu hendak membawanya ke mana.
Rupanya Braden membawanya berkendara ke tepi sungai Leith. Sampai di sana pemuda itu mengajak Dara duduk di sebuah bangku panjang di bawah pohon oak.
"Astaga, maafkan aku. Aku tidak memberimu kesempatan memakai jaket terlebih dahulu." Braden melepas jaketnya dan memakaikan pada Dara yang hanya memakai kaus lengan pendek besar dan legging.
Dara masih terdiam. Sejujurnya ia bingung dengan Braden. Pemuda itu tiba-tiba saja datang lagi di saat dirinya mulai membuka hati untuk Nicholas. Dan sikapnya kini begitu manis. Dulu pemuda itu memang baik padanya, namun, hanya ia tahu, Braden hanya menganggapnya sebagai teman. Tetapi, kali ini, Dara menemukan hal yang berbeda dari perilaku pemuda itu.
"Aku tahu, kau pasti heran padaku. Aku tiba-tiba datang dan membuatmu bingung." Braden seakan mampu membaca pikiran Dara.
"Beberapa bulan ini aku merenung tentang sikapku padamu dulu yang keterlaluan. Kau harus tahu, aku tidak ada niat untuk menyakitimu."
"Waktu itu aku masih bingung. Aku masih mengharapkan Alison kembali. Tapi, Alison tidak menginginkan hal yang sama. Aku terlalu fokus dengan perasaanku padanya sehingga mengabaikanmu, yang jelas-jelas mengharapkanku."
"Maafkan aku, Dara. Aku harap belum terlambat sekarang."
Braden merapikan anak-anak rambut Dara yang menutupi kening gadis itu. Kemudian mengelus pipinya lembut. "Apa kau masih memberiku kesempatan, Dara?"
Tenggorokan Dara tercekat. Ia akui, masih ada sedikit rasa suka pada pemuda tampan di hadapannya itu. Tetapi, posisinya sudah hampir tergantikan oleh kehadiran Nicholas. Entah kenapa sikap lembut Braden tidak membuat kupu-kupu bertebaran dari perutnya. Ia justru merindukan sikap Nicholas yang jahil dan seenaknya. Suka memaksa dan sering membuatnya kesal.
***
__ADS_1