My Prince Of Edinburgh

My Prince Of Edinburgh
Bab 17. Broken Heart.


__ADS_3

"Ini bukan jalan ke apartemenku," protes Dara.


Nicholas seenaknya saja memberi arah pada sopir taksi, berlawanan dari arah menuju apartemennya. Dara yang masih kesal pun menjadi semakin kesal.


"Aku berubah pikiran," jawab Nicholas dengan entengnya.


"Hah? Kau bercanda, ya?"


"Tidak."


Dara menggeram. "Aku turun di sini saja. Sir!"


"No, no, keep going (Terus saja)!" perintah Nicholas pada supir taksi. "Ke Leith River Walk," sambungnya.


Tentu Dara merasa kebingungan. Kenapa harus ke Leith River. Apa yang akan Nicholas lakukan di sana. Tapi, karena lelah berdebat dengan Nicholas, Dara pun diam saja hingga mereka benar-benar sampai di tempat yang dituju.


"Mau apa ke sini?" tanya Dara saat Nicholas membawanya ke sebuah restauran cafe dengan pemandangan pinggiran sungai Leith malam hari yang penuh dengan lampu-lampu temaram, berwarna-warni sedap dipandang mata.


"Bersantai," kekeh Nicholas seraya memilih tempat duduk yang paling dekat dengan pagar pembatas sungai dan restauran. Angin sepoi-sepoi yang dingin menampar wajah mereka.


Wajah Dara masih cemberut, meskipun ia sudah tidak banyak mengeluh atas tindakan Nicholas. Seperti tujuan pemuda itu ke tempat ini, Dara mencoba untuk bersantai menikmati pemandangan sungai Leith yang indah. Ia akui, sebenarnya ide Nicholas ini tidak terlalu buruk.


Hanya saja, ia merasa risih saat Nicholas menatapnya lekat dengan senyum jahilnya yang menyebalkan itu.


"Jadi, kau memaksaku ikut denganmu kemari hanya karena butuh teman untuk bersantai?" tanya Dara mengawali pembicaraan, setelah pelayan mengantar pesanan Nicholas.


"Bukan aku yang butuh teman untuk bersantai. Tapi kau," jawab Nicholas dengan santainya.


"Sok tahu banget," gumam Dara pelan. Tapi, ia sedikit membenarkan ucapan Nicholas. Selama tinggal di Edinburgh, Dara memang selalu dikejar tugas kuliah, pekerjaan, dan semua hal yang tidak bisa membuatnya santai.


"What did you say (Kau bilang apa)?" tanya Nicholas yang tidak mengerti gumaman Dara.


"Nothing." Dara melempar pandang keluar. Rintik salju tampak mulai turun. Indah bagai butiran kapas yang melayang-layang di udara tertiup angin.


Untung saja seragam pelayan yang ia kenakan cukup tertutup, lengkap dengan stoking untuk menghalau udara dingin di kakinya. Meskipun, tidak terlalu mampu melindungi badannya dari dingin.


Sungguh pemandangan yang begitu memanjakan mata. Untuk beberapa saat Dara hanya diam menikmati suasana malam Leith Riverside, tanpa memedulikan Nicholas yang ada di hadapannya.


"Memangnya berapa yang kau dapat malam ini?" tanya Nicholas membuyarkan lamunan Dara.


"Hah?"


"Berapa gajimu malam ini?"


"Dia ratus pound."

__ADS_1


Nicholas mengambil dompet dari saku celananya dan mengambil sepuluh lembar seratusan pound. "Aku ganti gajimu malam ini, ditambah bonus untuk menemaniku."


Mata Dara membulat. "Apa maksudmu menemanimu? Kau pikir aku ...."


"Bukan itu maksudku, Dara. Maksudku, menemaniku jalan-jalan di sini. Kenapa kau selalu berpikir buruk tentang aku?" gerutu Nicholas.


Dara mendesis. Ia tidak langsung menerima uang pemberian Nicholas, karena ia curiga pemuda itu sedang merencanakan sesuatu.


"Ambilah," pinta Nicholas seraya mendorong lembaran uang itu mendekat ke arah Dara.


"Kau pasti sedang menjebakku."


"Tidak ada untungnya menjebakmu. Ayolah, Dara. Ambil uangnya."


Dara melirik tumpukan kertas berwarna kemerahan itu. Seribu pound itu tidak sedikit. Dua kali lipat dari gajinya dalam sebulan.


"Ambil, Dara. Jangan malu-malu," kekeh Nicholas.


Ragu-ragu Dara mengambil uang di atas meja dan memasukkannya ke saku pakaiannya. "Thanks," ucapnya lirih.


"Aku harap kau tidak akan marah-marah lagi padaku karena membawamu kabur dari pesta membosankan itu."


"Kenapa kau ada di pesta itu?" tanya Dara. Ia penasaran alasan Nicholas datang ke acara gala dinner para politisi dan bangsawan Edinburgh itu.


"Ibuku yang memaksa." Nicholas menjawab dengan mulut penuh makanan.


"Kenapa kau peduli padaku? Saat aku bermasalah dengan wanita yang tidak sengaja aku siram gaunnya?" tanya Dara kemudian.


"Siapa yang peduli padamu? Aku hanya melihat peluang meloloskan diri dari sana," gelak Nicholas sembari menyesapi cangkir teh hangatnya.


Dara mendesis. Ia sudah menduganya. Nicholas hanya peduli pada dirinya sendiri. Mustahil pemuda itu memiliki tujuan mulia menyelamatkan dirinya dari makian wanita itu.


"Artinya keputusanku sudah tepat untuk tidak berterimakasih padamu," ucap Dara.


"Aku bercanda," ujar Nicholas. "Alasannya karena aku kasihan padamu. Wajahmu pucat, tubuh kurusmu gemetaran. Ya, seperti itu."


Setelah selesai menyantap makanan, Nicholas mengajak Dara berjalan-jalan di sepanjang riverside. Obrolan keduanya mengalir begitu saja. Dari sana Dara mengetahui, bahwa hidup Nicholas, meskipun bergelimang harta, ternyata sangat membosankan.


"Pantas saja kau selalu membuat onar dengan siapapun. Kau kurang kerjaan," ujar Dara.


"Tapi aku bukan orang jahat, Dara."


"Tidak jahat tapi menyebalkan dan gila."


"Masih lebih baik, bukan?" kekeh Nicholas.

__ADS_1


Dara mengedikkan bahu. Ia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Tempat ini sangat menyenangkan. Banyak pasangan yang menghabiskan waktu berdua.


"Tunggu," ucap Dara seraya menahan langkah Nicholas. Matanya awas memandang ke arah kursi yang berada di bawah pohon. Ada dua manusia di sana, sedang saling memagut bibir.


"Hei, kau tidak pernah melihat orang berciuman, ya?" tanya Nicholas.


"Mereka ...." Tenggorokannya tercekat. Braden dan Alison. Mereka ada di sini, dan mereka berciuman.


"Kau kenapa?" tanya Nicholas keheranan. Dara berdiri mematung memandangi sepasang kekasih yang sedang memadu kasih itu.


Dara memutar badan dan melangkah pergi. Nicholas yang keheranan mengejar langkah gadis itu dengan terburu-buru.


"Hei, Dara! Kau kenapa?"


Dara tidak menjawab. Ia menghentikan langkah dan menopang badannya di pagar pembatas. Kepalanya tertunduk lesu.


"Hei, Gadis Aneh, aku bertanya padamu, kau kenapa?" Nicholas mencondongkan badan memeriksa wajah Dara yang tersembunyi di balik rambut hitamnya.


Dara menghapus air mata yang tidak mampu ia bendung. Gadis itu menangis, dan membuat Nicholas semakin kebingungan.


"Dara? Kau ini kenapa? Kenapa tiba-tiba menangis?"


Dara menggeleng. Ia duduk di lantai menelungkupkan wajahnya di lutut. Badannya masih terguncang karena tangis.


"Memangnya siapa tadi yang kau lihat? Pacarmu? Pacarmu berciuman dengan wanita lain?" kekeh Nicholas. Pemuda itu memosisikan diri di samping Dara.


"Diam kau!" bentak Dara.


Nicholas terbahak. "Jadi benar, ya? Pacarmu berselingkuh?"


"Ish!" Dara memukul bahu Nicholas. "Dia bukan pacarku," ucapnya kemudian.


"Kalau bukan pacarmu kenapa harus ditangisi?"


Dara menghapus air mata dan ingus dengan punggung tangannya. Ia menoleh pada Nicholas dengan wajah sembab. "Aku sudah lama menyukainya," tangisnya pecah. Ia kembali menyembunyikan wajahnya di antara lutut.


"Jadi, sekarang cintamu bertepuk sebelah tangan?" tanya Nicholas. Ia mencoba menahan tawanya.


"Kau senang melihatku sedih, ya?" tuduh Dara.


"Tidak. Aku turut ... bersedih," sahut Nicholas sambil menahan senyumnya.


Dara merasa begitu sakit melihat Braden mencium Alison beberapa saat lalu. Dugaannya benar, mereka kembali bersama. Tidak ada harapan lagi baginya untuk menyatakan perasaannya pada Braden. Dan yang membuatnya begitu sedih adalah, mungkin ia tidak bisa menghabiskan waktu bersama Braden lagi sekarang, meskipun hanya sekedar berjalan-jalan keliling Edinburgh.


Dara terkesiap saat ada sesuatu yang menghalau udara dingin di tubuhnya. Saat mengangkat wajahnya, ia mendapati jas Nicholas telah berpindah di badannya.

__ADS_1


***


__ADS_2